oleh

Sepekan Wamen Meninggal Dipuncak Tambora

Dari Lereng Tambora Oleh ABDUL MUIS

Hari ini sabtu 28 april 2012 tepat sepekan Wakil Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Prof Widjajono Partowidagdo meninggal di puncak Gunung Tambora Kabupaten Dompu saat melakukan pendakian menuju kawah Tambora yang memiliki ketinggian 2.851 mdpl

Khabar itu sangat mengagetkan semua pihak terutama Jakarta karena saat keberangkatan sang prof dalam kondisi fit. Media televise, cetak, radio dan online ramai-ramai memberitakan ini, tak pelak mata masyarakat Indonesia bahkan dunia tertuju pada pemberitaan ini.

Hanya saja karena meninggalnya Wamen wajar-wajar saja akibat kondisi fisik yang dihadang cuaca buruk kabut tebal dan dinginya angin malam serta akibat kecapaian maka pemberitaan itu tidak berlangsung lama terlebih munculnya kasus terbaru tewasnya WNI di Malaysia yang ditembak aparat kepolisian disana dan dugaan jual beli organ tubuh maka pemberitaan terkait Wamen ESDM lenyap ditelan bumi.

Tetapi bagi para aktifis lingkungan dan pecinta gunung Tambora, meninggalnya figure pendaki ulung ini tidak bisa dilupakan begitu saja, terlebih sebelum menghembuskan napas terkahirnya Wamen sangat memuji keindahan gunung Tambora yang begitu luar biasa dengan bentangan kaldera yang sangat luas sisa muntahan ditahun 1815 silam.

Bagi Wamen Tambora berbeda dengan yang lain, dia akan menjadi magnet bagi dunia kedepan dan bagi anak cucuk karena semua orang pasti ingin datang kesana. Tidak saja ingin menyaksikan keindahan alam yang terhampar serta sisa letusan yang maha dahsyad, tetapi Tambora memiliki sejarah yang tak terlupakan sepanjang peradaban.

Letusanya pada 11 april 1815 telah menggetarkan dunia, hujan debu sampai kebenua Eropa bahkan mampu mengubah iklim disana. Imbasnya juga terjadi kelaparan dimana-mana. Wamen sangat yakin bahwa suatu saat gunung Tambora akan berubah menjadi gunung emas dan menjadi magnet yang luar biasa untuk dikunjungi.

Prof Widjajono Partowidagdo yang bermimpi akan menyaksikan langsung keangkuhan kawah Tambora dan menjulang tinggi menaungi Kabupaten Dompu dan Bima memang gagal mencapai mimpinya. Beliau kritis sekitar 40 meter dari kawah Tambora dan dievakuasi kembali menggunakan tandu dan meninggal ditengah perjalanan sebelum mendapat pertolongan tim medis.

Sang Profesor yang akrab dengan pendakian dan ketinggian telah pergi meninggalkan kita, tetapi sangat banyak yang ditinggalkan beliau, sepak terjangnya dan pesan-pesanya telah membukakan mata kita semua. Kita tidak perlu menangisi kepergian beliau, tetapi kita berkewajiban untuk memperjuangkan mimpi beliau, mimpi yang ingin merubah gunung tambora menjadi gunung emas’

Komentar

Komentar sepenuhnya tanggung jawab pribadi. Bijaklah dalam pemilihan kata yang tidak mengandung pelecehan, intimidasi, dan SARA. Salam hangat. [Redaksi]

News Feed