Memasuki Area Konflik Perang Kampung

0

DOMPU–Perang kampung antara warga Kelurahan Kandai II dengan warga Renda Kelurahan Simpasai Kecamatan Woja Dompu meletus sejak sabtu malam lalu (3/11/12). Meski berlangsung hampir seminggu tanda-tanda bentrok akan segera diakhiri belum terlihat.

 

Selama bentrok berlangsung media ini berusaha terus berada disekitar area konflik dan mencari titik simpul apa sebenarnya yang terjadi hingga bentrokan demi bentrokan terus saja berlangsung.

Memang tidak mudah untuk menjustifikasi pihak mana yang paling benar dan salah dalam peristiwa itu, sebab masing-masing memiliki argumentasi bahwa merekalah yang paling benar. Terulangnya benturan fisik antar kedua kubu lebih karena belum adanya kesadaran bersama untuk segera mengakhiri pertikaian itu.

Malah yang terjadi kedua kubu sangat mudah terhasut oleh provokasi-provokasi yang tidak berdasar, ironisnya belum ada pihak yang mampu meredam dan melokalisir informasi-informasi yang memanaskan situasi. Tokoh pemuda yang diharapkan menjadi pilar perdamaian antara kedua kubu yang bertikai malah justru ambil bagian dan mengangkat bendera ‘perang’.

Bgitu juga orang tua kelihatan tidak mengambil peran untuk menyadarkan anak-anak untuk tidak saling memusuhi, apalagi anak-anak, perang kampung dijadikan ajang permainan mengadu ketepatan untuk melempar, memanah dan membidik musuh, ironis memang.

Lamanya ritme bentrokan membuat aparat yang berjaga baik dari kepolisian dan TNI kewalahan, pihak inipun kelihatan belum mampu menghentikan bentrokan. Cara-cara persuasif masih terus dilakukan, sehingga ketika bentrokan terjadi mereka hanya menjadi penonton. Sikap itu memang bisa dimengerti karena kalau segera dilakukan represif dimungkinkan jatuhnya korban mengingat panasnya situasinya.

Tetapi sampai kapan?, tentu saja aparat keamanan memiliki perhitungan dalam bertindak. Pertemuan kamis malam di Pendopo antara Bupati, muspida, tokoh masyarakat yang bertikai telah mengisyaratkan bahwa kepolisian sudah saatnya untuk bertindak represif manakala bentrokan terus saja terjadi. Memang mengerikan kalau tindakan represif sudah diambil, apalagi ada perlawanan dari kelompok warga, maka sudah dapat dipastikan jatuhnya korban tak terhindarkan.

Kita semua tidak ingin jatuh korban dalam peristiwa itu, apalagi sampai terpaksa tertembak peluru aparat karena melawan petugas, tragedi jembatan Rasanggaro ditahun 2001 silam adalah fakta betapa aparat sudah tidak tahan dengan prilaku anarkis masyarakat, satu orang terjungkal dan tewas ditempat karena tertembus peluru panas, begitu juga dengan sejumlah warga lain terluka akibat terkena peluru tajam baik yang sengaja diarahkan maupun peluru nyasar.

Kalau kondisi ini sudah terjadi siapa yang dapat disalahkan?, tentu penyesalan akan datang. Coba tengok lokasi bentrokan disekitar areal Jembatan Babajae yang memisahkan kedua kampung yang bertikai, mereka telah menjadi korban secara mental, fisik dan material. Teriakan histeris selalu terdengar manakala bentrokan kembali meletus.

Anak-anak dan orang tua menjadi trauma lahir bathin, menghindari kekerasan fisik yang akan menimpa mereka terpaksa mengungsi kerumah-rumah keluarga, kerabat dan tetangga yang agak jauh dari lokasi bentrokan. Tidak itu saja pergerakan ekonomi sekitar itu lumpuh total, usaha-usaha mikro seperti kios, toko apalagi kaki lima tidak ada yang berani buka.

Sekarang tugas kita semua untuk menyadarkan, Bupati, DPRD, Muspida, tokoh masyarakat, tokoh pemuda dan seluruh stekholder agar bisa turun tangan mencari cara untuk menghentiikan kekerasan fisik ini secara damai. Tercatat sudah belasan orang terluka dari kedua kubu, untungnya belum ada yang sampai meninggal dunia, tetapi apakah kita harus menunggu sampai ada yang tewas?, tentu tidak.

Komentar