Status Sirajuddin Minta Diperjelas, DPRD Dompu Akan Konsultasi Dengan Komisi III DPR-RI

124

DOMPU—Keluarga terduga teroris Dompu Sirajuddin alias Eja yang tertembak aparat densus 88 tetap meminta pada pemerintah agar menjelaskan status almarhum. Sebab sejauh ini prilaku Eja selama hidupnya adalah anak yang baik dan suka bekerja keras. ‘’Eja adalah anak emas kami dan dia sangat baik,’’ tutur ibu kandung Eja, Suharni dikediamanya Dusun Worobaka Desa Baka Jaya Kecamatan Woja Dompu.

Suharni sangat tidak terima anaknya disebut sebagai teroris dan harus mengakhiri hidupnya diujung peluru petugas densus 88. Ditengah keluarga Eja adalah sosok yang tak pernah merepotkan orang tua, sejak kecilpun Eja sudah bisa mencari uang dengan bekerja apa saja, bahkan jarang pulang kerumah karena ikut bekerja dengan orang lain melakukan apa saja yang penting halal.

Terkahir Eja diketahuinya bekerja sebagai pelayan bakso di desa O’o dan hanya pulang kerumah saat-saat tertentu saja. Eja juga dikenal ta’at menjalankan perintah agama terutama shalat dan mengaji. ‘’Sebagai orang tua, kami ingin status anak saya diperjelas, kalau dia teroris apa yang pernah dilakukanya selama ini,’’ tandasnya.

Perihal nama Sirajuddin tetapi dipanggil dengan Eja, menurut Suharni karena ada dua alasan, pertama saat dia dilahirkan berambut keriting, kebiasaan orang kampung langsung dipanggil dengan Eja. Yang kedua untuk memperkuat nama itu Sirajuddin kecil sering sakit-sakitan dan panggilan Eja dianggap cocok.

Adiknya juga ada yang bernama Gigi Dua padahal itu bukan nama sebenarnya, tapi karena itu adalah nama yang diucap saat dilahirkan sampai besarpun tetap dipanggil dengan nama Gigi Dua.

Nama Gigi Dua diberikan karena bayi yang dilahirkan termasuk langka, dia keluar dirahim langsung sudah bergigi dua dan menonjol dobagian atasnya. ‘’Karena saat dilahirkan memiliki gigi dua, maka sampai besar ini tetap dipanggil dengan nama Gigi Dua,’’ cerita Suharni sambil menepuk bahu anaknya Gigi Dua yang mendampinginya.

Sementara itu sejumlah anggota DPRD akan mendorong segera terbentuknya pansus DPRD yang akan meneliti terkait dengan aksi penembakan densus 88 yang menewaskan Sirajuddin alias Eja.

Sebab berdasarkan aspirasi dan keluhan masyarakat di Kabupaten Dompu densus telah salah tembak karena Eja diketahui tidak beraktifitas sebagai teroris, tidak terlibat dengan jaringan Poso apalagi pernah berjihad ke Poso. ‘’Kita pasti mendorong agar Pansus segera terbentuk dan langsung bekerja,’’ ungkap sejumlah anggota DPRD Dompu seperti H Didi Wahyuddin SE, Kurnia Ramadhan, SE, Abdullah S.Kel dan Drs AW Syafruddin.

Selain karena soal tertembaknya Sirajuddin alias Eja menjadi isu yang selalu diperbincangkan masyarakat di Kabupaten Dompu, DPRD juga ingin mendapat kejelasan terkait situasi penembakan saat penggerebekan yang terjadi sehingga target operasi harus tewas tertembus peluru.

Seandainya Densus 88 tak mampu menghadirkan bukti kongkrit korban tewas adalah teroris maka kepolisian harus dengan jantan merehabilitasi nama baik korban dan keluarga dan menghapus stigma yang pernah dikembangkan bahwa Kabupaten Dompu adalah sarang teroris. ‘’Karena akibat label teroris itu, Kabupaten kita menjadi sangat rugi,’’ pungkas mereka.

Komentar