Sikapi Darurat Obat Terlarang di Dompu, Komunitas Guru To’i Datangi BNN NTB

0
Tampak Komunitas GTC sedang berdialog dengan BNN NTB

 

 

DOMPU-Menyikapi penggunaan narkoba dan obat-obatan terlarang di Kabupaten Dompu NTB, Komunitas Guri To’i Center (GTC) mendatangi kantor Badan Narkaotik Nasional (BNN) di Mataram selasa 18/4/2017.

Tujuanya agar trend itu bisa segera ditangani dan ditanggulangi. Anggota komunita dengan jumlah 12 orang yang berasal dari beberbagai elemen itu diterima langsung oleh Kepala BNN NTB, Sukisto didampingi Kabid penindakan Deny Pribadi dan humas BNN.

Dalam pertemuan yang digelar selama 1,5 jam itu GTC menyampaikan kondisi terkini menyangkut penyalahgunaan obat-obatan terlarang sesuai dengan hasil serapan dan masukan kepada GTC.

Trend penyalahgunaan obat-obatan terlarang terutama dikalangan generasi muda diharapkan mampu diredam dengan harapan BNN ikut ambil bagian dalam mencegah dan memberantasnya. ‘’Kita berharap BNN ikut ambil bagian dalam hal ini,’’ ujar Ketua GTC Ardiansyah S.Hi.

Ardiansyah putra asal Kabupaten Dompu mengaku prihatin atas kondisi yang terjadi. Karena itu perlu langkah cepat dan tepat dalam menanggulanginya.

Sementara Kepala BNN NTB Sukisto mengapresiasi laporan dan partisipasi melalui GTC ini. Dengan demikian pihak BNN akan segera menindaklanjuti dengan tindakan untuk turun kelapangan.

Selain itu BNN mengemukakan akan mengagendakan kunjungan ke Kabupaten Dompu. Akan berkordinasi dengan BNN Kabupaten Bima untuk intens melakukan pengawasan dikabupaten Dompu serta segera menyusun rencana aksi ke Kabupaten Dompu.

Kepala BNN juga menyampaikan terima kasih kepada GTC atas informasi yang disampaikan sekaligus merasa kaget atas data dan fakta yang disampaikan. ‘’Terima kasih atas informasi ini dan akan segera ditindaklanjuti,’’ ujar Sukisto.

Adapun elemen yang dalam GTC yang mendatangi BNN, seperti perwakilan PC. PMII Dompu, GMD Mataram, LPA NTB. Mereka seperti Dhan Ngeyel. Imam SY, Jujur Prakoso, Rhakez, Bimbank, Yan Mangandar, Putra Radin Mecinkz, Jofan Black Pmii, Muhammad Anjaz dan  Imam Hambali.

Komentar