Anak Punk, Hidup Dijalanan Karena Tak Mampu Sekolah

329
Ewan Alis Ahlulbait

DOMPU-Kehidupan anak Punk yang banyak kita jumpai menghiasai trotoar dan tempat-tempat keramaian dinegeri ini banyak dipandang sebagai kegiatan yang berkonotasi negatif. Tidak heran mereka diabaikan bahkan dilecehkan sebagai anak golongan kelas bawah dan berasal dari keluarga Broken Home.

Salah seorang anak Punk Dompu Ewan yang dicoba diwawancarai mengakui kalau profesinya dijalanan selalu dipandang seperti itu. Tetapi bagi mereka persetan dengan  itu yang terpenting bisa menjalani kehidupan dengan happy, nyaman dan damai.

Dijumpai dikafe We SaVe lingkungan Jado Kelurahan Dorotangga, Kamis malam 24 Agustus 2017 Ewan yang mengaku bernama asli Ahlulbait ini sedang melantunkan lagu-lagu kritis tentang ketidakadilan dinegeri ini.

Tonton ini

Berbekal gitar bolong dia asyik bernyanyi, terserah apakah ada yang mau mendengar atau tidak, tetapi lantunan dan lirik lagu yang disampaikan cukup menarik untuk diperhatikan.

Sepintas penampilanya terlihat bersih walau dikedua tanganya dipenuhi gambar tato serta dikuping menempel anting. Rambut dicukur sebagaimana anak lainya, mengenakan kaos hitam dan bersarung. ”Saya baru pulang masjid, shalat dengan teman-teman We Save” ungkap Ewan membuka percakapan.

Pemuda yang berusia 19 tahun ini tak tahu lagi sejak kapan terjun dan hidup dijalanan karena sudah lama sekali. Dia bercerita lahir dan besar di Desa O’o dari keluarga tak berada.

Kondisi itulah yang memaksanya berada dijalanan dan ditengah-tengah gemerlapnya kehidupan masa kini. Ewan sempat mengenyam pendidikan tapi tak sampai tamat SD, hal itu karena ketidak mampuan keluarganya membiayai. ”Saya tidak sekolah karena tak ada biaya,” ujarnya polos.

Lama berpeluh dijalanan, Ewan ingin sekali kembali kepada kehidupan yang normal sebagaimana anak-anak lainya. We Save dianggapnya sebagai wadah yang mampu menjembatani kehidupan anak-anak seperti mereka. ”Saya sudah lama tertarik dengan We Save,” paparnya.

Karena disini diajarkan nilai-nilai, agama serta sosial. Sebenarnya kata dia sudah berulang kali datang dan pergi di We Save ini, Tetapi setiap berada selalu ingin kembali berada dijalanan. ”Mudah-mudahan kali ini saya bisa terus berada di We Save dan tidak kembali dijalanan,”terangnya.

Satu hal yang sangat sulit dilupakan ketika berada ditengah-tengah anak punk adalah tingkat sosialnya yang tinggi. Diakuinya potret kehidupan yang bisa disaksikan lewat penampilan dianggap sebagai pribadi yang hancur-hancuran.

Padahal kata dia sebenarnya tidak, mereka adalah anak-anak yang sangat mengerti akan arti kehidupan ini dan sangat berempati antar sesama, orang lain dan lingkungan.

Dari hasil bincang-bincang sejenak dengan Ewan bisa disimpulkan, meski tidak sekolah, meski hidup dijalanan tetapi memiliki kecerdasan dalam memaknai kehidupan serta memiliki jiwa atas ketimpangan yang terjadi.

Memperbaiki kehidupan ini, dia berdoa agar bisa tetap berada ditengah-tengah We Save untuk belajar tentang segala hal, belajar tentang agama, sosial untuk peduli sesama. ”Sebab kadang-kadan jiwa saya ingin kembali dijalanan,” paparnya.

 

 

Komentar