Fenomena Pelajar Milenial, Teman Berkelahi di Live,Disoraki dan Disuport

174

DOMPU-Inilah fenomena terburuk yang dialami pelajar milenial, diantara mereka seolah tak ada rasa empati, kekerasan dianggap biasa bahkan disuport.

Viralnya video pelajar berkelahi disalah satu SMA di Kabupaten Dompu NTB menghentak perasaan publik di Bumi Nggahi Rawi Pahu. Bagaimana tidak aksi perkelahian yang melibatkan dua pasangan pelajar siswi ditonton ramai-ramai, dilive dengan video, disoraki bahkan disuport oleh rekan-rekan lainya.

Munculnya video itu terang saja disambut keprihatinan berbagai pihak, pendidik di SMA terkait terhenyak dan menyatakan permohonan maaf atas prilaku anak didiknya yang tak mampu dikontrolnya hingga terlibat perkelahian seru.

Begitu juga dengan aparat Kepolisian lewat Kabag Humas Polres Iptu Sabri menyesalkan kejadian itu. ”Mestinya bisa diselesaikan dengan baik tanpa menggunakan kekerasan,”kata Sabri saat mendatangi SMA tersebut.

Sebenarnya Polres Dompu telah berulang kali melakukan sosialisasi terkait dengan berbagai tindakan yang tidak boleh dilakukan pelajar. ”Polres senantiasa menghimbau agar menghindari narkoba, miras, pergaulan-pergaulan yang tidak benar,”tutur Sabri.

Namun demikian, Sabri meminta peran orang tua masing-masing agar benar-benar mengawasi anak-anaknya terutama diluar jam sekolah sehingga kegiatan anakanak terpantau dan terawasi.

Anggota DPRD Dompu Ismul Rahmadin,S.Pd menyesalkan kejadian tersebut karena telah mencoreng nama baik dunia pendidikan. Mantan ketua komisi III DPRD Dompu ini mengaku langsung melakukan koordinasi dengan pihak sekolah setelah video itu viral.

Hasilnya pihak sekolah langsung bereaksi dan memanggil oknum siswi yang terlibat perkelahian kemudian memberikan pembinaan, perdamaian bahkan menskorsing selama tiga hari.

Terhadap hal ini, Ismul Rahmadin berharap agar ditingkatkan pengawasan terhadap anak-anak, serta ditingkatkan iman dan takwanya melalui siraman rohani setiap hari jum’at. ”Pihak sekolah juga harus bersinergi dengan Aparat Penegak Hukum (APH) untuk menghindari berbagai tindakan yang melawan hukum,” saranya.

Sementara Kepala SMA 2 Dompu Drs Nuryadin mengaku perkelahian dua pasangan pelajar siswi diluar kontrol pihak sekolah. Hasil pemeriksaan menunjukan bahwa motif perkelahian hanya karena salah paham.

Seorang siswi tak terima adiknya dibully ramai-ramai, kemudian melalui pesanan singkat WA mereka saling nantang dan bersepakat untuk berkelahi diluar areal sekolah. ”Kejadianya hanya karena salah paham dan bersepakat berkelahi,” tutur Nuryadin.

Atas kejadian itu pihak sekolah langsung melakukan pemanggilan terhadap yang bersangkutan bersama orang tua masing-masing. ”Hasilnya mereka berdamai dan bersedia tidak mengulanginya kembali,” terangnya.

Sayangnya setelah upaya damai dilakukan muncul video yang mengagetkan hingga ditanggapi oleh pusat. ”Saya bahkan ditelpon orang pusat (Kementrian Pendidikan,red) menanyakan dan menyesalkan kejadian ini dan kita sudah jelaskan duduk perkaranya,”pungkas Nuryadin.

Sebagaimana vidoe viral yang beredar dua pasangan pelajar yang pakai seragam pramuka Vs dua pelajar yang memakai seragam olahraga terlibat perkelahian seru. Arena perkelahian itu berada disebuah kebun yang jaraknya sekitar 50 meter dari sekolah.

Saling pukul, saling jambak dan saling banting mewarnai adegan itu, sementara suporter rekan laki dan perempuanya hanya menonton bahkan mereka kejadian itu. Tidak itu saja mereka memberi semangat dengan menyorakinya bahkan mensuportnya.

Untungnya ada orang tua yang mungkin tinggal disekitar itu datang tergopoh-gopoh memakai sarung dan menenteng sapu lidi. Dengan sapu lidi ditangan orang tua tersebut melerai kedua anak-anak yang berkelahi sambil memukulkan sapu lidi kekaki dua siswi yang tengah berkelahi.

”Kenapa kalian berkelahi seperti ini, memprebutkan apa?, jangan berkelahi ana e e,” pinta orang tua itu terengah-engah. (DB03)

 

Komentar