oleh

Anjing Turun Gunung Pasca Panen, Rabies Mengancam

 

DOMPU-Mengingat Kabupaten Dompu hingga kini masih berstatus wabah Rabies atau gigitan anjing gila, masyarakat diminta tetap waspada.

Hal itu disampaikan Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Kadisnakeswan) Dompu, Drs Zainal Arifin, saat ditemui di kantor nya pagi tadi.

Menurut dia, wabah Rabies itu dipicu karena adanya gigitan anjing gila atau Hewan Penular Rabies (HPR) yang menyerang warga secara tiba-tiba. “Walaupun kasusnya melandai bahkan nihil di tahun ini. Kita semua harus tetap waspada,” ungkap Kadisnak.

Meskipun tidak sebanyak populasi anjing di pulau Bali dan NTT. Namun warga Dompu hingga kini masih ada yang memelihara anjing terutama diwilayah pelosok.

Keberadaan populasi anjing liar di beberapa wilayah di Dompu juga masih perlu mendapat perhatian.

Dijelaskan Kadisnak, umumnya selain sebagai penjaga rumah. Hewan yang terkenal dengan gonggongannya itu juga kerap dimanfaatkan sebagai penjaga kebun dan ladang oleh para petani jagung.

Dan fenomena ini terlihat cukup jelas pada saat musim tanam jagung. Setiap gubuk petani rata-rata memelihara anjing, dengan tujuan sebagai penjaga untuk menghalau gangguan binatang lain seperti babi dan monyet yang kerap mengancam tanaman jagung petani.

Karena saat ini musim panen, Anjing yang sebelumnya dipelihara di ladang akan dibawa turun gunung oleh pemiliknya kembali ke kampung. “Nah, kondisi ini perlu diwaspadai. Karena wabah kita tidak bisa pastikan anjing itu bebas rabies. Apalagi beberapa daerah di Pulau Sumbawa kini tinggi kasus rabies,” kata Kadisnak.

Selain meminta masyarakat untuk lebih waspada. Pihaknya, lanjut Kadisnak juga berharap ada kerjasama yang baik dari warga agar mau memvaksin anjing peliharaannya. “Kita edukasi warga agar selalu waspada dan melaporkan jika ada kasus gigitan,” tutur Zainal Arifin.

Seperti diketahui sebelumnya. Sejak 2018 lalu, Kabupaten Dompu tercatat tinggi kasus Rabies. Anak kecil bahkan usia balita dan orang tua menjadi korban serangan gigitan anjing gila.

Tim terpadu kala itu dibentuk untuk melakukan penanganan termasuk melakukan tindakan eliminasi terhadap Hewan Penular Rabies (HPR) (DB02).

Komentar

Komentar sepenuhnya tanggung jawab pribadi. Bijaklah dalam pemilihan kata yang tidak mengandung pelecehan, intimidasi, dan SARA. Salam hangat. [Redaksi]

News Feed