DOMPU – Setelah lama dinanti, pembangunan Pelabuhan Kilo akhirnya mulai bergerak. Selasa (28/04/2026), Bupati Dompu turun langsung ke lokasi bersama anggota DPR RI Dapil NTB dari Partai NasDem, Mori Hanafi.
Kunjungan ini bukan sekadar seremoni. Ada pesan yang ingin ditegaskan: proyek ini harus jalan, dan harus selesai dengan kualitas yang benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
Rombongan yang hadir terbilang lengkap. Mulai dari pimpinan dan anggota DPRD Dompu, jajaran OPD, pihak Syahbandar Kelas III Calabai, Camat Kilo, para kepala desa, hingga tokoh masyarakat setempat. Semua berkumpul di satu titik—lokasi yang diharapkan menjadi simpul baru pergerakan ekonomi Dompu ke depan.
Pelabuhan Nusantara Kilo Mulai Dibangun, Harapan dan Ujian Baru untuk Dompu
Di lokasi, satu hal jadi sorotan utama: percepatan. Pelabuhan Kilo tidak boleh lagi tertunda atau berjalan setengah hati. Infrastruktur ini dipandang strategis, bukan hanya untuk Dompu, tetapi juga untuk konektivitas di wilayah NTB.
Bupati Dompu dalam kesempatan itu menyampaikan apresiasi atas kehadiran dan perhatian pemerintah pusat. Ia menegaskan, pembangunan seperti ini tidak bisa berjalan sendiri. Harus ada sinergi yang kuat antara daerah dan pusat agar hasilnya benar-benar berkualitas dan berkelanjutan.
Sementara itu, Mori Hanafi berbicara lebih lugas. Ia mengingatkan agar proyek bernilai miliaran rupiah ini tidak berakhir menjadi bangunan mati.
“Jangan sampai pelabuhan dibangun, tapi tidak bisa digunakan maksimal,” kira-kira begitu garis tegas yang ia sampaikan.
Menurutnya, yang tidak kalah penting dari pembangunan fisik adalah kesiapan fasilitas pendukung dan operasional. Tanpa itu, pelabuhan hanya akan menjadi proyek yang menghabiskan anggaran tanpa memberi dampak nyata.Kejelasan Pembangunan Fisik Pelabuhan Kilo Dipertanyakan
Sebagai anggota Komisi V DPR RI, Mori menegaskan bahwa kunjungan ini merupakan bagian dari fungsi pengawasan. Ia ingin memastikan pembangunan transportasi laut di NTB berjalan sesuai rencana—bukan hanya selesai di atas kertas, tetapi benar-benar hidup dan digunakan.
Pelabuhan Kilo sendiri digadang-gadang menjadi salah satu pintu penggerak ekonomi baru. Jika dikelola dengan baik, ia bisa membuka akses distribusi barang, memperlancar mobilitas, sekaligus memberi ruang tumbuh bagi sektor-sektor produktif masyarakat.
Pertanyaannya tinggal satu: apakah proyek ini akan benar-benar menjadi solusi, atau justru mengulang cerita lama—bangunan megah yang sepi aktivitas?
Waktu yang akan menjawab. Namun setidaknya, langkah awal sudah dimulai. Dan publik, tentu, akan terus mengawasi. (DB01)







