Bertemu Tak Sengaja dengan Irjen Pol (Purn) Aryanto Sutadi, Kesederhanaan Seorang Mantan Jenderal

Bertemu Irjen Pol.(Purn) Aryanto Sutadi
Foto : Abdul Muis dan Irjen Pol. (Purn) Aryanto Sutadi

MATARAM—Siang itu saya sedang menikmati makan siang di sebuah rumah makan Padang di kawasan Cakranegara, Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat. Tanpa diduga, empat orang memasuki rumah makan tersebut. Wajah mereka terasa tidak asing karena kerap menghiasi layar televisi.

Di antara rombongan itu, perhatian saya tertuju kepada seorang pria yang sekilas sangat mirip dengan Irjen Pol (Purn) Aryanto Sutadi, mantan perwira tinggi Polri yang kini dikenal sebagai salah satu pakar hukum kepolisian. Namun saya belum sepenuhnya yakin.

Saya sebenarnya sudah lebih dulu menyelesaikan makan siang. Namun rasa penasaran membuat saya memilih menunggu hingga rombongan tersebut selesai menikmati hidangan.

Kebetulan, orang terakhir yang masih menyantap makanannya adalah sosok yang saya duga sebagai Irjen Pol (Purn) Aryanto Sutadi. Saya kemudian mendekati salah seorang ajudannya dan bertanya pelan, “Benarkah beliau Pak Aryanto Sutadi?”

Belum sempat ajudannya menjawab, pria yang saya maksud langsung menoleh sambil tersenyum.

“Iya, benar,” jawabnya dengan ramah.

Kesempatan itu tentu tidak saya sia-siakan. Saya pun menyampaikan salam sekaligus bertanya mengapa seorang mantan jenderal polisi berbintang dua memilih makan di rumah makan yang begitu sederhana.

Jawaban beliau justru menggambarkan kesahajaan seorang pemimpin.

“Makan di mana saja sama. Kebetulan makanannya enak di sini,” ujarnya singkat.

Jawaban sederhana itu meninggalkan kesan mendalam. Di tengah berbagai kemudahan yang dapat dinikmati seorang mantan pejabat tinggi negara, Irjen Pol (Purn) Aryanto Sutadi justru menunjukkan bahwa kesederhanaan bukanlah pencitraan, melainkan bagian dari karakter.

Pertemuan yang berlangsung hanya beberapa menit itu menjadi pengingat bahwa kebesaran seseorang sering kali tidak terlihat dari tempat ia makan atau fasilitas yang digunakannya, melainkan dari kerendahan hati saat berinteraksi dengan siapa pun.

Bagi saya, momen singkat tersebut menjadi pengalaman yang berkesan sekaligus pelajaran bahwa kesederhanaan tetap menjadi salah satu ciri pemimpin yang patut dihormati. (Abdul Muis)