DOMPUBICARA – Ungkapan “Ka Tira Raa” belakangan menjadi perhatian publik dan ramai diperbincangkan di media sosial. Kalimat itu diucapkan oleh Dua Aji, tokoh masyarakat asal Kecamatan Bolo, Kabupaten Bima, NTB, ketika menceritakan pengalaman pahitnya dua kali gagal dalam pemilihan anggota DPRD Kabupaten Bima.
Saat ditanya apakah masih memiliki keinginan untuk kembali maju sebagai calon anggota DPRD, pensiunan guru yang akrab disapa Guru Heso itu menjawab singkat namun penuh makna.
“Ka Tira Raa.” teriaknya sembari tertawa lepas. Ungkapan tersebut menjadi simbol kekecewaan mendalam setelah dua kali mengikuti kontestasi politik tanpa memperoleh hasil yang diharapkan.
Caleg Ini Pake Taktik Politik ‘Keha Janga’
Dalam penuturannya, Dua Aji mengaku banyak belajar dari pengalaman politik yang dijalaninya. Menurutnya, setiap orang yang ingin maju sebagai calon legislatif harus benar-benar memahami karakter dan dinamika politik di tengah masyarakat.
Ia bahkan mengingatkan generasi muda agar tidak mudah terlena dengan berbagai janji atau dukungan yang disampaikan menjelang pemungutan suara.
“Saya sudah merasakan sendiri. Au manusia malampa sai ndai ncaure adalah wajah-wajah penipu ncau, mpaa goca lapi mena,” bebernya.
Salah satu pengalaman yang paling membekas baginya terjadi ketika ia mengumpulkan sekitar 45 orang dalam sebuah pertemuan. Saat itu ia menyediakan rokok, kopi, dan makanan ringan sebagai bentuk penghormatan kepada tamu yang hadir.
Namun, ketika hasil pemungutan suara diumumkan, tidak satu pun suara dari kelompok tersebut yang mengalir kepadanya.
“Tiwara konde sanggini ma kadale nahu, palasi waura goca lapi ba makalai,” ujarnya dalam bahasa Mbojo, menggambarkan rasa kecewa karena kenyataan yang tidak sesuai dengan harapan.
Fenomena yang disampaikan Dua Aji kemudian memicu beragam tanggapan di media sosial. Sebagian warganet menilai kisah tersebut mencerminkan dinamika demokrasi di tingkat akar rumput, sementara yang lain berpendapat bahwa pilihan politik merupakan hak setiap pemilih yang tidak selalu sejalan dengan dukungan yang ditunjukkan sebelum hari pencoblosan.
Terlepas dari pro dan kontra tersebut, kisah Dua Aji menjadi pengingat bahwa dalam demokrasi, simpati yang tampak selama masa kampanye belum tentu berbanding lurus dengan pilihan di bilik suara. (DB01)







