Setelah bertahun-tahun direncanakan, Pelabuhan Nusantara Kilo akhirnya memasuki tahap pembangunan pada 2026. Dengan anggaran hingga Rp91 miliar, proyek ini diharapkan menjadi simpul baru ekonomi Dompu—sekaligus menjadi ujian apakah pembangunan benar-benar membawa perubahan.
ABDUL MUIS, DOMPU
Ada rencana yang hanya bertahan di atas kertas. Ada pula yang hidup lebih lama—dalam ingatan masyarakat, dalam percakapan sehari-hari, dalam harapan yang terus diulang meski tak kunjung menjadi kenyataan. Pelabuhan Nusantara Kilo termasuk dalam kategori yang kedua.
BACA : Pelabuhan Nusantara Akan Dibangun Di Kilo
Selama bertahun-tahun, namanya hadir dalam berbagai pembicaraan tentang masa depan Dompu. Ia disebut sebagai pintu ekonomi, sebagai simpul distribusi, sebagai penghubung yang akan membuka akses lebih luas bagi hasil pertanian dan pergerakan barang. Namun waktu berjalan, dan semua itu tetap berada dalam satu bentuk yang sama, rencana.
Di pesisir Kilo, kehidupan berjalan sebagaimana biasanya. Perahu-perahu kecil hilir mudik, aktivitas ekonomi bergerak dalam skala terbatas, dan laut menjadi saksi dari rutinitas yang tidak banyak berubah. Namun di balik kesederhanaan itu, tersimpan harapan besar: bahwa suatu hari kawasan ini akan menjadi pelabuhan yang ramai, dengan kapal-kapal besar yang datang dan pergi membawa hasil bumi Dompu ke berbagai wilayah.
Harapan itu bukan tanpa alasan karena Dompu dikenal sebagai daerah dengan potensi pertanian yang besar, terutama jagung sebagai komoditas unggulan. Selain itu, sektor peternakan juga terus berkembang. Namun persoalan distribusi masih menjadi tantangan utama—biaya yang tinggi, akses yang terbatas, dan ketergantungan pada jalur luar daerah.
HBY Serahkan Hibah Lahan Pelabuhan Kilo
Dalam konteks itulah, Pelabuhan Nusantara Kilo sering disebut sebagai jawaban. Namun jawaban itu terlalu lama tertunda. Hingga akhirnya, tahun 2026 menjadi titik yang berbeda. Pembangunan Pelabuhan Nusantara Kilo dipastikan akan dimulai dengan alokasi anggaran sekitar Rp85 hingga Rp91 miliar yang bersumber dari Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP) Kementerian Perhubungan. Pelaksanaan fisik direncanakan dimulai pasca Lebaran ini, dengan target penyelesaian pada Desember di tahun yang sama.
Sebuah langkah yang menandai perubahan dari rencana menjadi kenyataan. Jika dilihat lebih luas, pembangunan ini tidak berdiri sendiri. Ia merupakan bagian dari arus besar kebijakan nasional yang selama ini mendorong konektivitas dan pemerataan pembangunan, sebagaimana digaungkan dalam program Tol Laut dan agenda Nawa Cita oleh pemerintahan Presiden RI Joko Widodo.
Konsep Tol Laut bertujuan menghubungkan wilayah-wilayah di Indonesia melalui jalur logistik yang lebih efisien. Sementara Nawa Cita menekankan pembangunan dari pinggiran, agar daerah-daerah tidak lagi tertinggal dalam arus utama ekonomi nasional.
Dalam kerangka itu, Pelabuhan Nusantara Kilo memiliki posisi yang strategis. Letaknya dinilai dekat dengan jalur transportasi laut nasional bahkan internasional. Ini membuka peluang bagi Dompu untuk tidak hanya menjadi daerah produksi, tetapi juga bagian dari jaringan distribusi yang lebih luas.
Pemerintah daerah pun telah menyiapkan akses jalan alternatif guna mendukung operasional pelabuhan. Langkah ini menunjukkan bahwa pembangunan tidak hanya berhenti pada satu titik, tetapi mulai diarahkan sebagai sistem yang terhubung.
Namun di sinilah tantangan sebenarnya dimulai. Karena tidak semua pembangunan otomatis menghadirkan perubahan. Banyak infrastruktur dibangun dengan harapan besar, tetapi belum sepenuhnya memberikan dampak yang signifikan. Ada yang selesai secara fisik, tetapi belum optimal dalam fungsi. Ada pula yang berdiri megah, tetapi belum sepenuhnya dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
Pelabuhan Nusantara Kilo tentu tidak diharapkan menjadi bagian dari cerita seperti itu. Ia diharapkan menjadi simpul baru pertumbuhan ekonomi.
Tempat di mana hasil pertanian Dompu bisa bergerak lebih cepat dan efisien. Tempat di mana biaya distribusi dapat ditekan. Dan tempat di mana peluang ekonomi baru dapat tumbuh. Namun semua itu tetap bergantung pada satu hal yakni pelaksanaan.
Apakah pembangunan ini akan berjalan sesuai rencana?, Apakah target penyelesaian Desember 2026 dapat tercapai tanpa mengorbankan kualitas?. Dan yang paling penting, apakah pelabuhan ini benar-benar akan memberi manfaat bagi masyarakat luas?
Pertanyaan-pertanyaan ini bukan bentuk keraguan, melainkan bagian dari perhatian. Karena pada akhirnya, keberhasilan sebuah pelabuhan tidak diukur dari besarnya anggaran atau cepatnya pembangunan, tetapi dari dampaknya—dari seberapa jauh ia mampu mengubah cara ekonomi bergerak dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Pelabuhan Nusantara Kilo kini segera dimulai. Setelah penantian panjang, ia akhirnya bergerak dari rencana menuju kenyataan. Namun perjalanan sesungguhnya justru baru dimulai.
Di antara harapan besar yang menyertainya, ada satu hal yang akan menentukan arah ke depan, apakah pembangunan ini benar-benar mampu menjawab kebutuhan, atau sekadar menjadi bagian lain dari proyek yang berlalu tanpa jejak yang berarti. Waktulah yang akan menjawabnya. (*)













