Mengintip Bocah Pohon Diladang Jagung Dompu

530

DOMPU-Bombastisnya tanaman jagung bagi masyarakat Kabupaten Dompu telah merubah segalanya. Tidak hanya ladang yang digunakan, tetapi hutan belantarapun dibabat untuk ditanami jagung.

Produksi jagung memang melimpah, pendapatan petanipun diklaim meningkat. Dompubicara.com kamis subuh (13/4/2017 melakukan penelurusan disejumlah kawasan yang dulu merupakan hutan belantara.

Salah satunya kawasan Soromandi RTK 55, kawasan itu terletak didesa Matua Kecamatan Woja berbatasan dengan Desa Rababaka. Dulu itu adalah hutan belantara, tetapi setelah program Pijar berubah menjadi ladang jagung, apalagi kini sudah terbentang sebuah jalan yang cukup lebar akses menuju pembangunan Dam Mila (Rababaka Kompleks).

Adalah Radit bocah SD umur 10 tahun. Dia kerap berada diladang membantu orang tua, terutama dari serangan hama monyet disiang hari dan hama babi dimalam hari. Meski ada pondok yang dibangun ditengah-tengah ladang jagung, Radit malah lebih memilih hidup dan berada dilubang pohon besar yang terletak persis dijurang dengan tingkat kecuraman sekitar 99 derajat.

Jurang curam yang diperkiran sedalam 70-100 meter ini memang sangat mengerikan bagi mereka yang baru. Tapi pemandangan alam dibawahnya sangat menggairahkan. Memandang kedepan disuguhkan hamparan jagung dari sejumlah bukit yang ada ditambah dengan liukan jalan ditengahnya.

Memandang keselatan ada panorama laut teluk Cempi dan keutara hamparan sawah dengan karakter pegunungan. Radit sudah bertahun-tahun dilubang kayu tanpa takut diserang ular atau hewan lainya.

Diapun bisa tertidur dengan nyaman ditengah lubang kayu itu, setelah capai menjaga jagungnya dari serangan monyet dan babi. ”Kalau sama monyet saya saling intip, lengah sedikit bisa berpetak-petak habis diserangnya karena rombonganya banyak,” cerita Radit dengan bahasa Dompunya.

Ayah Radit, Syahbuddin sebenarnya sudah lama ingin menebang pohon itu. Karena merasa mengancam keselamatan anaknya yang terbiasa keluar masuk dilubang itu. Kayu itu memang berdiri tegak persis dijurang yang dalam, sehingga terpeleset sedikit saja nasibnya akan terperosok kedalam jurang.

Tetapi rencana untuk menabang pohon itu selalu gagal, karena Radit mencegahnya bahkan menangis. ”Biarlah pohon itu tetap berdiri, semoga kedepan ada manfaatnya,” paparnya.

Bahkan kini Syahbuddin berencana membangun pondok-pondok kecil dijurang itu sebagai tempat bermain anaknya.

 

 

Komentar