Kisah H Tukidi Merantau Ke Dompu

1070

KERJA DISINI, KAWIN DISINI, HAJI DISINI, MATIPUN INGIN DISINI

H Tukidi Bin Tajab 72 tahun warga Kelurahan Bali I Kecamatan Dompu NTB masih saja sanggup mendorong gerobak rombongnya. Meski matahari siang itu menyengat pria asal Kediri Jawa Timur ini dengan sabar melakoni profesinya sebagai penjual Soto Lontong dari sudut jalan yang satu kesudut jalan yang lain.

Meski logatnya masih kental dialeg daerah asalnya, Tukidi bukan orang baru bagi masyarakat Dompu dan sekitarnya. Dia merantau ke Dompu sejak tahun 1971 lalu atau 46 tahun yang silam.

Ditemui ditaman Kota Dompu, saat pertama kali menginjakan kaki ditanah Dompu dibawa oleh sang almarhum paman Purnawirawan TNI Hamid Siswoyo. Salah satunya adalah untuk membantu sang paman mengerjakan apa saja.

H Tukidi

Waktu itu Dompu belum ada apa-apanya, Sebahagian Kelurahan Bada, Potu, lebih-lebih Bali I masih dikelilingi hamparan sawah nan hijau. Tukidi mudapun kerasan berada disekitar masyarakat Dompu, apalagi penerimaan masyarakat seperti keluarga sendiri. ”Dari dulu saya kerasan tinggal disini,” paparnya.

Tambah kerasan lagi setelah Tukidi mempersunting wanita pujaan hatinya Hj Saini. Pekerjaan apa saja dilakoninya seperti berdagang barang apa saja, tetapi tetap tidak lupa dengan bertani.

Hasil pernikahanya, Tukidi mendapat enam orang anak, yang kini sudah besar-besar, memiliki pekerjaan dan sudah berumah tangga. Dari sekian anaknya, ada yang jadi Tentara, Polisi sisanya PNS. ”Alhamdulillah semuanya sudah pada kerja,” akunya.

Jualan soto lontong tetap dilakukan, mengingat pekerjaan itu sudah mendarah daging dan pelangganya sudah tersebar dikota Dompu. ”Semasih kuat, saya tetap bekerja,” paparnya.

Kehidupan dinegeri Dompu dengan daerah asalnya sangat jauh berbeda, terutama kompetisi untuk mendapatkan pekerjaan. ”Didaerah asal lapangan kerjanya sempit, makanya saya kerasan disini,” ungkapnya lagi.

Diumur yang sudah ini kata dia, tidak pernah berpikir lagi untuk pulang kampung. Dirinya besar disini, kerja disini, kawin disini, punya anak disini, matipun ingin disini. Daerah Dompu dianggapnya bukan lagi daerah rantauan melainkan tumpah darah dan masyarakat sekitar terutama tetangga adalah keluarga. ”Sampai matipun saya tetap ingin disini,” tutupya. (DB01)

 

Komentar