Poto Tano di Subuh Ini: Sunyi yang Menyimpan Bara “Provinsi Pulau Sumbawa”

POTO TANO — Udara subuh di Pelabuhan Poto Tano, Kabupaten Sumbawa Barat, Selasa (2/6/2026), terasa jauh lebih dingin dari biasanya. Namun, rasa dingin yang menusuk tulang di ujung barat Pulau Sumbawa ini seolah terkalahkan oleh atmosfer ketegangan yang tak kasat mata. Ini adalah ketenangan yang menipu; ketenangan yang biasa terjadi tepat sebelum badai besar datang bergemuruh.

Beberapa jam lagi, pelabuhan yang menjadi urat nadi logistik dan transportasi NTB ini diprediksi akan berubah menjadi lautan manusia. Aliansi Pemekaran Provinsi Pulau Sumbawa (PPS) telah menabuh genderang perang melayangkan aksi besar-besaran, menuntut dicabutnya moratorium Daerah Otonomi Baru (DOB) demi berkibarnya bendera provinsi sendiri. Istilah “blokir Poto Tano” pun telah bergaung keras di jagat maya sejak beberapa hari lalu.

Saat melintasi gerbang pelabuhan sekitar pukul 05.00 WITA, tanda-tanda “hajatan besar” itu belum terlihat masih seperti biasa.

Di balik ancaman blokir pelabuhan suasananya terasa kontras. Belum ada massa aksi yang berorasi. Yang ada hanyalah deru mesin truk-truk ekspedisi berukuran besar yang bergerak  masuk ke dalam lambung kapal ferry. Para sopir logistik ini tampaknya sedang melakukan “jihad” mereka sendiri: balapan dengan waktu agar bisa menyeberang menuju Pulau Lombok sebelum akses pelabuhan benar-benar lumpuh.

“Kami sengaja jalan nonstop dari Dompu sejak tengah malam, Mas,” ujar Anwar (42), seorang sopir truk tronton pembawa jagung yang sempat saya tanyai saat mengantre tiket. “Kalau sampai terjebak di Poto Tano saat aksi dimulai, bisa berhari-hari kami tertahan di sini. Muatan bisa rusak, ongkos jalan bisa tekor.”

Kecemasan para pengguna jasa ini adalah wajah lain dari sebuah perjuangan politik pemekaran wilayah. Di satu sisi ada hasrat besar untuk kemandirian daerah; di sisi lain ada perputaran ekonomi harian warga kecil yang taruhannya tidak kalah besar.

Meskipun pihak ASDP Indonesia Ferry dan Polda NTB jauh-jauh hari telah menegaskan bahwa pelayanan penyeberangan tetap akan dibuka 24 jam secara normal, namun kecemasan tetap merasuki setiap orang yang akan melewati pelabuhan tersebut.

Ketika kapal ferry yang saya tumpangi perlahan mulai melepas tali tambatnya dan bergerak meninggalkan dermaga Poto Tano menuju Pelabuhan khayangan, saya menatap kembali ke arah daratan Pulau Sumbawa yang kian mengecil.

Fajar mulai menyingsing di ufuk timur, mengusir kegelapan subuh. Bersamaan dengan terbitnya matahari 2 Juni ini, sebuah catatan sejarah baru bagi masyarakat di lima kabupaten/kota Pulau Sumbawa siap ditulis di jalanan. Apakah aksi hari ini akan menjadi titik balik yang melunakkan hati Jakarta untuk mencabut moratorium DOB, ataukah ia hanya akan menjadi catatan riuh musiman di gerbang pelabuhan?

Satu hal yang pasti, ketika riuh demonstrasi itu pecah nanti siang, Poto Tano telah melewati subuh sunyinya yang penuh debaran. (REDAKSI)