Takut Ijab Kabul, Seorang Ayah Kabur Masuk Hutan

Takut ijab kabul ayah sembunyi dihutan
Ilustrasi ayah kabur

DOMPU — Sebuah kejadian unik sekaligus mencengangkan terjadi di Dusun Kamudi, Desa Rababaka, Kecamatan Woja, Dompu. Diduga karena takut dan tidak bisa mengucapkan lafaz ijab kabul (akad nikah) untuk putrinya, seorang ayah nekat kabur dan bersembunyi di hutan sekitar dusun setempat.

Akibat aksi nekat sang ayah, prosesi pernikahan yang semula khidmat mendadak kacau balau. Padahal, penghulu dan ratusan undangan sudah memadati lokasi acara. Pihak keluarga mempelai pria yang berasal dari Desa Saneo pun sempat meradang karena merasa dilecehkan oleh calon besan mereka.

Menghilang Tepat Sebelum Acara Dimulai
Warga setempat sama sekali tidak menduga kejadian ini akan terjadi. Pasalnya, sebelum acara dimulai, sang wali nikah terlihat sudah siap menikahkan putrinya. Namun, tepat saat prosesi akad akan dibuka dan segala persiapan telah rampung, sang ayah tiba-tiba menghilang dari tempat duduknya.

Warga dan kerabat sempat melakukan pencarian di sekitar rumah hingga menyisir area hutan belantara, namun hasilnya nihil. Kejadian ini membuat penghulu kecewa dan memicu amarah keluarga mempelai pria. Beruntung, tokoh masyarakat setempat bergerak cepat menenangkan suasana dan memberikan penjelasan mengenai tabiat asli ayah kandung mempelai wanita tersebut.

Mengidap Fobia Sosial Akut
Mantan Penghulu Desa Rababaka yang juga tokoh masyarakat Kamudi, Juraid, mengungkapkan bahwa pria tersebut memang dikenal sangat tertutup dan memiliki ketakutan luar biasa jika harus berhadapan dengan orang banyak.

“Mungkin karena bingung dan tidak bisa menikahkan anaknya, makanya dia nekat lari ke hutan,” duga Juraid.
Juraid menambahkan, pihak keluarga sebenarnya sudah menyarankan jauh-jauh hari agar sang ayah belajar melafalkan bacaan akad nikah. Namun, ia selalu menggampangkannya.

“Kami tidak tahu kalau akhirnya akan begini,” sesal Juraid.

Berdasarkan kesaksian warga, pria tersebut memang jarang bersosialisasi. Jika tetangga menggelar hajatan, ia hampir tidak pernah hadir karena takut. Uniknya, ketakutan itu juga berlaku di rumahnya sendiri. Jika ia memiliki hajat, tugasnya hanya mengundang keluarga dan tetangga. Begitu tamu berkumpul, ia akan menghilang dan baru menampakkan diri setelah acara selesai dan rumah kembali sepi.

Pernikahan Sempat Tertunda
Di tengah kepanikan, adik kandung dari pria yang hilang tersebut (paman mempelai wanita) angkat bicara. Ia mengaku bahwa sesaat sebelum acara dimulai, sang kakak sebenarnya sudah menyerahkan kuasa wali nikah kepadanya. Penyerahan wali tersebut bahkan diklaim disaksikan oleh enam orang tetangga.

Dompu 2045, Tambang Hu’u, Harapan Baru Atau Peluang Yang Terlewatkan?

Meski begitu, penghulu yang bertugas tidak berani mengambil risiko. Ia menolak menikahkan pasangan tersebut hanya berdasarkan pengakuan sepihak tanpa prosedur resmi dan memilih untuk pamit pulang, sembari meminta warga tetap mencari keberadaan sang ayah.

Akhir Bahagia Lewat Kesepakatan Warga
Merasa tidak enak dan ingin menjaga hubungan baik dengan keluarga mempelai pria, sejumlah tokoh masyarakat Kamudi akhirnya menggelar musyawarah darurat.

Mereka sepakat untuk melanjutkan pernikahan dengan menunjuk adik kandung sang ayah sebagai wali nikah, sesuai amanah yang sempat dititipkan sebelumnya.

Kasus Roy & Tifa Akan Jadi Medan Tempur Baru Tersangka Korupsi Yang Ditahan

“Soal urusan administrasi ke KUA, biar nanti kita urus bersama-sama,” ujar salah satu perwakilan warga.

Berkat kesepakatan dan kebijakan para tokoh masyarakat tersebut, ketegangan pun mereda. Kedua mempelai akhirnya resmi dinikahkan dan sah menjadi sepasang suami istri di hadapan para saksi dan undangan yang hadir.