Inilah Jembatan Paling Menakutkan di Dompu

1049
Jembatan Rasanggaro

DOMPU–Jembatan Rasanggaro Kecamatan Woja Dompu NTB adalah jembatan paling menakutkan yang pernah ada. Disitu banyak mahluk halus yang tinggal sebahagianya berwujud sangar dan sangat menyeramkan.

Meski berwajah sangar dan menyeramkan, para mahluk gaib itu tidak serta mengganggu dan menakut-takuti warga sekitar atau pengguna jembatan. Mereka akan bereaksi manakala diganggu, atau mereka akan mengganggu manusia-manusia yang layak untuk diganggu alias berperilaku buruk.

Cerita itu berlangsung pada dekade tahun 60 hingga 80-an, karena jembatan terpanjang di Dompu itu sudah tak pergunakan lagi karena sudah diganti dengan jembatan yang lebih besar dan lebih moderen.

Pada dekade tempo dulu, jembatan itu satu-satunya yang menghubungkan Dompu dengan Bima dan Kabupaten Sumbawa. Terletak diatas sungai Rasanggaro menguhubungkan Dusun Rasanggaro Desa Matua dengan Lingkungan Donggo Ana Kelurahan Montabaru.

Meski jembatanya cukup panjang tapi lebarnya tidak lebih dari 3 meter, sehingga ketika sebuah kendaraan lewat, maka kendaraan lain harus mengantri hingga kendaraan sampai diujung jembatan. Untungnya pada kurun waktu itu kendaraan hanya lewat satu dua, itupun kebanyakan benhur dan sepeda.

Disisi kiri-kanan jalan menjulang tinggi pohon-pohon raksasa, seperti sukun, beringin ditambah dengan rimbunan bambu ditepi sungai. Disitulah para hantu dan dedemit bersemayam dengan anak cucunya.

Para keluarga hantu memang tidak banyak berulah, kecuali sesekali ingin bercengkrama dengan warga sekitar atau pengguna jalan. Biasanya magrip malam jum’at mereka melempari rumah warga dengan pasir, tetapi bagi warga sekitar sudah maklum mereka mahluk haluslah yang berbuat.

Tetapi kalau mereka mengganggu warga lain yang kebetulan sedang melewati jembatan, biasanya terdengar teriakan ketakutan dan lari terbiri-birit. Samar-samar dari kejauhan terdengar tawa cekikikan dari sang hantu menyaksikan sahabatnya manusia lari terbirit-birit.

Persahabatan manusia dan jin disekitar jembatan memang cukup luar biasa, mereka juga sangat mencintai anak-anak, bahkan mereka kerab membawa anak-anak disitu berhari-hari sehingga untuk mencarinya harus memakai gendang dan seruling.

Ma’atun lahir tahun 1964 nama seorang anak yang kini sudah menjadi guru di Kota Bima disembunyikan dua hari dan temukan diatas dahan pohon raksasa dua hari setelahnya. Kondisinya tidak apa-apa, ditemukan sedang enak mengunyah daun-daunan. Yang berubah hanya penisnya telah dikhitan.

Nizam lahir tahun 1973 anak mantri Darwis, kini menjadi guru di Kota Bandung, dia disunat tepat waktu jum’at. Sepulang Mantri Darwis dari masjid mendapatkan anaknya telah disunat layaknya disunat oleh manusia. Sebagai Mantri yang biasa menyunat anak-anak, Pak Darwis mengobati bekas sunat itu yang hanya terdapat beberapa tetes darah.

Nasib yang sama juga dialami Iwan Sakral lahir tahun 1975. Iwan kini menjadi wartawan senior dan menjadi Direktur Koran Pagi. Dia juga disunat ditengah jum’atan oleh tetangga Jin Jembatan Rasanggaro. Ibunya menangis sejadi-jadinya mendapatkan anaknya telah disunat, tapi Mantri Darwis langsung mengobati bekas sunatan tersebut. ”Ini ulah tetangga kita Jin,” ujar H Darwis menenangkan keluarga Iwan Sakral.

Untuk diketahui ketiga anak ini disunat dalam kurun waktu yang berbeda oleh sang jin. Pada sunat sesungguhnya dengan mengelar hajatan itu hanyalah formalitas dan ‘burungnya’ tidak diapa-apakan lagi karena sudah dalam bentuk telah dikhitan. (bersambung)

Ikuti juga tulisan berikutnya Nama Jin dan prilakunya.

Komentar