Hutan Gundul, Ini Solusi Menurut Sarwon Al-Khan

0
Ini contoh bambu yang tumbuh dipegunungan

Daerah Dompu dan Bima kini dirisaukan oleh gundulnya hutan akibat perbuatan oknum warga yang tidak bertanggungjawab. Lihat saja gunung-gunung disekitar anda, gersang, tandus dan meranggas.

Ada banyak ide dilemparkan untuk mengembalikan fungsi hutan sebagaimana mestinya. Tokoh muda Sarwon S Sos memiliki ide yang sederhana,gampang dilaksanakan serta memiliki pertumbuhan dan pengembangan biakan yang cepat.

Menurut Sarwon Al-Khan atau biasa disapa Om Won untuk mengembalikan fungsi hutan sebagai paru-paru dunia adalah melalui penghijauan. Proses penghijauan ini memerlukan waktu yang sangat panjang bertahun-tahun bahkan puluhan tahun lamanya.

Penghijauan yang cepat kata Om Won yang sekarang maju  Calon Anggota DPRD NTB Periode 2019-2024 dari Dapil 6 (Kabupaten Dompu, Kabupaten Bima dan Kota Bima), adalah dengan menanam bambu.

Sarwon Al-Khan suatu saat bersama Bupati Dompu Drs Bambang M Yasin

“Saya mengharapkan, gunung-gunung yang sudah gundul di Dompu dan Bima ke depan dapat dihijaukan kembali. Salah satunya, dengan tanaman bambu,” kata mantan wartawan Lombok Post ini

Cara menanamnya kata Sarwon, bambu cukup ditanam keliling di sela-sela pagar tanah tegalan atau sawah. Bisa juga di sepanjang pinggir sungai dan kali (aliran air).

Menariknya, tanaman bambu ini tidak menghabisi banyak lahan pertanian atau persawahan seperti menanam komoditi lainnya. Usaha pertanian/peternakan tidak terganggu, namun gunung dapat kembali hijau dengan cepat. “Cara tanamnya pun sangat mudah,” tambah Sarwon.

Meski bukan ahli dalam hal ini, namun dia mengungkap manfaat, kegunaan dan fungsi bambu yang lumayan banyak. Secara umum, bambu berguna untuk pagar halaman rumah, pagar lahan pertanian dan perkebunan, lantai rumah panggung/berugak.

“Bagi warga kurang mampu, bambu dapat dianyam menjadi bedek untuk dinding dan plavon rumah,” paparnya seraya menambahkan, bambu sejauh ini masih menjadi bahan (bagian) utama untuk pembuatan kandang ternak seperti sapi, kerbau, kambing dan ayam, bahkan bisa jadi sayur (rebung) dan sejumlah manfaat lainnya.

Yang luar biasa, rumpun bambu diyakini mampu menjadi benteng saat terjadi longsor dan banjir. Disamping berfungsi sebagai sumber sekaligus penyangga mata air. “Fakta ini berdasarkan pengalaman dari nenek moyang sejak puluhan, bahkan ratusan tahun yang lalu,” cetus Sarwon.

Hebatnya lagi, sambung dia, bambu kini bernilai ekonomis tinggi. Kalau dulu harganya hanya dikisaran Rp. 1000 – 2000 per batang, sekarang belasan ribu rupiah (ukuran kecil) hingga Rp. 25 ribu per batang (ukuran besar).

“Tiap rumpun bambu, jumlahnya mencapai ratusan batang. Hitung saja nilainya jika rata-rata dikali Rp. 25 ribu per batang,” tuturnya.

Yang fantastis lagi, kata Sarwon, sekali tanam bambu ini dapat dipanen hingga puluhan tahun. Bambu ini masuk kategori tanaman jangka menengah dan panjang.

Menurut Sarwon, untuk menghijaukan Bima-Dompu dengan tanaman bambu, perlu dibangun kesadaran bersama semua elemen terkait. Dari masyarakat hingga unsur pemerintah, termasuk kepala daerah. Pemerintah daerah diharapkan mengambil peran dalam menggugah masyarakat agar mau menanam bambu ini.

“Memprovokasi petani agar menanam jagung saja, pemerintah bisa dan sukses. Padahal kita ketahui praktik itu telah berakibat pada hancurnya sejumlah kawasan hutan karena (diduga) dibabat untuk lahan pertanian jagung,” tegasnya.

Tinggal ke depan, yang perlu dipikirkan adalah pengadaan bibit (pembibitan)-nya. Misalnya, tahap awal atau tahap ujicoba, bisa dengan mendorong atau meminta warga yang memiliki tanaman bambu untuk menyiapkanya. Lalu pemerintah membayarnya dengan harga yang pantas dan proporsional. Selanjutnya, jika tidak mencukupi, bibitnya bisa didatangkan dari luar daerah. (*)

Komentar