Dalam pusaran peradilan pidana, khususnya pada kasus narkotika, publik sering kali disuguhi narasi yang linier, penangkapan, barang bukti dihadirkan, BAP ditandatangani, dan rilis pers digelar. Namun, pernyataan kritis dari aktivis Badai NTB dalam kasus “Ibu Kari Ayam” di wilayah Bima-Dompu baru-baru ini menjebol dinding narasi formal tersebut.
Ia menawarkan sebuah kacamata baru yang tidak hanya membedah satu kasus, melainkan berpotensi menjadi alat kejut (shock therapy) bagi Aparat Penegak Hukum (APH) dalam setiap penanganan perkara narkoba ke depan.
Mengapa analisis ini bisa menjadi alat kejut? Karena ia menggeser fokus pengawasan publik dari sekadar kertas formalitas ke arah pembacaan psikologi dan perilaku institusi.
Praperadilan Ditolak, Badai NTB, Ini Soal Kepastian Hukum
Alat kejut pertama yang ditawarkan dalam analisis ini adalah keberanian untuk menelusuri kontinuitas Berita Acara Pemeriksaan (BAP). Dia mencontohkan kasus ”Kari Ayam” yang mengalami tiga kali perubahan BAP—dari barang titipan, faktor stres suami, hingga berakhir manis di narasi “pemakaian pribadi” dengan penyusutan berat barang bukti—membongkar rahasia umum yang tabu.
Ketika publik atau pengacara mulai menggunakan metode ini, APH tidak bisa lagi mengandalkan BAP sebagai dokumen sakral yang kebal kritik. Artikel atau gerakan pengawasan yang mengadopsi pola Badai NTB akan memaksa penyidik sadar bahwa “proses penyesuaian fakta terhadap kebutuhan” kini bisa dibaca dengan telanjang oleh masyarakat.
Salah satu tesis paling brilian dari aktivis Badai NTB adalah: “Orang tidak panik karena masa lalu, tapi orang panik karena masa depan. Pola panik lebih penting daripada barang bukti.”
Aktivis ini mengajarkan kita untuk melacak variabel kecemasan pasca-penangkapan. Siapa yang paling sering menelepon sejak hari pertama kejadian?, Siapa yang sibuk mengadakan pertemuan mendadak?’ Mengapa ada komunikasi inter-polres (senior-junior) untuk menahan publikasi?
Ini adalah serangan balik terhadap taktik manajemen informasi APH. Dengan memetakan siapa yang paling sibuk mengendalikan narasi atau meredam atensi media, publik dapat mengidentifikasi letak “pusat gravitasi” atau siapa aktor intelektual yang sebenarnya sedang dilindungi. Ketika APH tahu perilaku komunikasi mereka dilacak, ruang gerak untuk melakukan kompromi di balik layar akan menyempit.
Kehadiran Kasat Narkoba langsung di TKP untuk barang bukti berukuran 5,26 gram adalah sebuah anomali. Aktivis Badai NTB secara jeli melihat ini sebagai over-reaction. Mengapa perkara sekecil itu memicu reaksi sebesar itu? Jawabannya jelas, yang ditakuti bukan berat barang buktinya, melainkan arah pengembangannya.
Dengan menggunakan pendekatan ini, setiap kali ada rilis kasus narkoba yang tampak janggal (misalnya: bandar besar tidak tertangkap, atau ada pelaku yang dilepaskan dengan dalih saksi), publik bisa langsung melemparkan pertanyaan kritis yang meruntuhkan skenario rilisan pers resmi.
Aktivis Badai NTB mengingatkan kita pada trauma kasus “Koko Erwin” sebelumnya, bahwa dalam bisnis gelap, hubungan (relationship) jauh lebih mahal daripada uang. Hubungan senior-junior, hubungan jaringan, dan hubungan bisnis adalah apa yang dilindungi ketika sebuah kasus dipaksa berhenti di level “pemakaian pribadi”.
Alat kejut ini bekerja dengan cara merusak “investasi reputasi” institusi. Ketika sebuah kasus dilokalisir agar tidak melebar, analisis seperti ini justru akan memicu pertanyaan publik yang paling ditakuti institusi: “Jika kasus ini bisa diatur, berarti selama ini apa saja yang sudah terjadi?” Ketakutan akan kerusakan reputasi jangka panjang ini memaksa APH berpikir dua kali untuk menghentikan pengembangan perkara.
Pernyataan dari Badai NTB adalah sebuah peringatan keras bahwa publik tidak boleh lagi menjadi konsumen pasif dari setiap rilisan resmi penegakan hukum.
Menjadikan analisis ini sebagai “alat kejut” berarti mendidik masyarakat untuk memiliki kemampuan deteksi dini terhadap keadilan yang dimanipulasi. Ketika publik mulai mampu menghitung energi yang dikeluarkan aparat untuk membantah, mengarahkan, atau mengelola persepsi, di situlah masyarakat berhasil menemukan di mana titik permainan sedang dimainkan.
Satu kasus mungkin bisa ditutupi dengan skema “pemakaian pribadi”, namun jejak komunikasi, kepanikan, dan hubungan yang tertinggal akan selalu menjadi bom waktu yang siap meledak kapan saja. (REDAKSI)













