DOMPUBICARA – Gelap malam yang menyelimuti wilayah Dompu, NTB, terasa semakin kelam bagi ribuan petani jagung di kawasan pegunungan. Hujan lebat yang mengguyur sejak sore hingga malam ini Selasa, 07 April 2026 bukan sekadar fenomena alam, melainkan bencana ekonomi yang nyata di tengah momen memasuki panen raya yang seharusnya penuh sukacita.
Berdasarkan pantauan langsung dan laporan dari berbagai pelosok sentra jagung, seperti Wilayah Kec Woja wilayah Manggelewa, Hu’u, dan Kilo, curah hujan yang tinggi ini membuat aktivitas pemanenan dan pengeringan jagung lumpuh total.
“Malam ini adalah malam jahanam bagi kami,” ujar salah seorang petani di kawasan pegunungan Cando Kecamatan Woja Dompu.melalui sambungan telepon yang terputus-putus akibat cuaca buruk. “Jagung yang sudah dipetik basah kuyup. Jika tidak segera dikeringkan, besok sudah berjamur. Harganya pasti hancur,” tambahnya lagi
Situasi malam ini memicu krisis berantai yang memilukan, karena kualitas hancur, harga terjun. Hujan lebat membuat Kadar Air (KA) jagung melonjak drastis. Hal ini menjadi alasan kuat bagi pemilik gudang atau pengepul untuk menekan harga pembelian jauh di bawah Harga Pembelian Pemerintah (HPP), yang saat ini sudah sangat rendah.
Jalan tani di wilayah pegunungan yang sebagian besar masih berupa tanah berubah menjadi kubangan lumpur yang licin dan berbahaya. Truk-truk pengangkut jagung dipastikan tidak berani menembus medan curam malam ini. Jika pun dipaksakan besok, biaya angkut akan melambung tinggi, menggerus habis sisa keuntungan petani.
Sebagian besar modal petani jagung di Dompu berasal dari pinjaman bank (Kredit Usaha Rakyat/KUR) atau tengkulak. Jatuhnya harga akibat cuaca buruk ini memicu ketakutan massal akan kegagalan bayar utang, yang bisa berujung pada penyitaan aset atau lingkaran kemiskinan baru.
Redaksi DompuBicara.com menilai situasi malam ini adalah darurat kesejahteraan petani. Masyarakat Dompu berhak bertanya, di mana peran Pemerintah Kabupaten Dompu dan instansi terkait (Dinas Pertanian, Bulog, Badan Pangan Nasional) saat krisis musiman ini terjadi?
Apakah pemerintah daerah sudah menyiapkan langkah taktis, seperti ketersediaan mesin pengering (dryer) massal yang berfungsi, atau intervensi pasar untuk menjaga agar harga tidak “terjun bebas” di bawah HPP dengan alasan kadar air?
Hingga berita ini diturunkan, hujan lebat masih terus mengguyur sebagian besar wilayah Dompu. DompuBicara.com akan terus mengawal penderitaan petani jagung ini dan menagih komitmen pemerintah untuk hadir di tengah penderitaan rakyatnya. (Redaksi)







