Rababaka yang Hilang

Sungai Masa Kecil Tinggal Kenangan

Seorang ayah dan ibu bergelantungan di sisi rakit batang pisang sambil mengawal dua anak mereka menyusuri aliran Sungai Rababaka dari Bendungan Rababaka hingga Jembatan Rasanggaro, Desa Matua.
Rababaka yang Hilang — Bukan sekadar ilustrasi. Inilah kenangan tentang sebuah keluarga yang menyusuri Sungai Rababaka dengan rakit batang pisang, mengikuti arus dari Bendungan Rababaka hingga Jembatan Rasanggaro, Desa Matua. Perjalanan sederhana yang kini tinggal cerita.

Saya tidak pernah menyangka suatu hari akan menulis tentang kehilangan sebuah sungai. Rababaka masih ada. Airnya masih mengalir ketika hujan turun. Namanya masih tercantum di peta. Tetapi Rababaka yang saya kenal telah lama pergi.

Oleh: Abdul Muis

Saya lahir dan besar di tepian aliran sungai itu.

Bagi kami, Rababaka bukan sekadar aliran air yang membelah kampung. Ia adalah halaman belakang rumah. Tempat kami mandi setiap pagi sebelum berangkat sekolah, tempat kami mengambil air untuk kebutuhan rumah tangga. Airnya begitu jernih hingga batu-batu di dasarnya tampak jelas. Kami menyelam, berenang melawan arus, lalu duduk di atas batu besar sambil membiarkan matahari mengeringkan tubuh.

Tidak ada kolam renang. Tidak ada wahana bermain. Tetapi kami merasa memiliki dunia.

Sepulang sekolah, kami kembali ke sungai.

Kadang kami memancing ikan dengan alat sederhana. Kadang kami mengikat beberapa batang pohon pisang menjadi rakit kecil. Dengan rakit itulah kami mengikuti arus Rababaka, tertawa tanpa memikirkan bahaya, tanpa membayangkan bahwa suatu hari kenangan itu hanya akan hidup di kepala kami.

Waktu berjalan.

Saya tumbuh dewasa, menikah, dan memiliki anak.

Tanpa sadar saya ingin mewariskan kebahagiaan yang sama kepada mereka. Suatu hari, saya mengajak istri dan kedua anak saya yang masih kecil menyusuri Rababaka dengan rakit sederhana yang kami buat dari batang-batang pohon pisang, persis seperti permainan masa kecil saya dahulu.

Kami memulainya dari Bendungan Rababaka.

Arus sungai yang sehari sebelumnya meluap setelah banjir masih cukup besar. Airnya dalam, sehingga kami tidak mungkin berjalan sambil mendorong rakit. Saya dan istri bergelantungan di sisi rakit, membiarkan tubuh kami ikut hanyut mengikuti arus. Di atas rakit, kedua anak kami—seorang laki-laki dan seorang perempuan—tertawa lepas. Wajah mereka memancarkan kegembiraan yang mungkin sama seperti yang pernah saya rasakan puluhan tahun sebelumnya.

Rakit itu terus mengikuti aliran sungai hingga akhirnya kami tiba di samping rumah, dekat Jembatan Rasanggaro, Desa Matua.

Sikapi Krisis Air Bersih, PJs Bupati Dompu Minta Warga Hentikan Pengrusakan Hutan

Bagi orang lain, mungkin itu hanya perjalanan menyusuri sungai.

Bagi saya, itu adalah perjalanan pulang.

Saya sedang memperkenalkan kepada anak-anak sebuah dunia yang pernah membesarkan ayah mereka. Dunia yang sederhana, tetapi penuh kebahagiaan.

Hari ini, saya tidak lagi berani mengajak cucu-cucu saya yang masih kecil untuk mengulang perjalanan yang sama.

Airnya tak lagi sebening dulu. Pada musim tertentu sungai berubah keruh. Pada musim yang lain alirannya mengecil. Rababaka masih mengalir, tetapi rasanya bukan lagi sungai yang sama.

Yang berubah ternyata bukan hanya sungainya.

Yang berubah adalah hubungan kami dengan sungai.

Banyak orang akan mencari penyebabnya.

Ada yang menunjuk pembukaan hutan. Ada yang menyebut perluasan lahan jagung. Ada yang berbicara tentang perubahan tata guna lahan, erosi, sedimentasi, hingga perubahan iklim.

Semua mungkin benar.

Tetapi saya memilih bertanya lebih dulu.

Mengapa seorang petani membuka lereng bukit yang dulu ditumbuhi pohon?

Saya tidak percaya jawabannya sesederhana karena ia ingin merusak hutan.

Saya mengenal mereka.

Mereka adalah tetangga saya. Sahabat saya. Sebagian bahkan keluarga saya.

Mereka menanam jagung karena ingin anak-anaknya tetap sekolah. Mereka ingin dapurnya tetap mengepul. Mereka ingin hidup sedikit lebih baik daripada hari kemarin.

Di situlah paradoks Pulau Sumbawa.

Jagung telah mengangkat banyak keluarga dari kesulitan ekonomi.

Namun pada saat yang sama, alam mulai membayar harga yang tidak sedikit.

Pertanyaannya kemudian bukan lagi siapa yang salah.

Melainkan bagaimana kita menemukan jalan agar masyarakat tetap dapat hidup layak tanpa kehilangan hutan yang menjadi sumber kehidupan bersama.

Beberapa negara di dunia hari ini menghabiskan dana yang sangat besar untuk menanam kembali hutan yang telah hilang, bahkan membangun hutan buatan.

Mereka bermimpi memiliki bentang alam yang hijau.

Sementara kita justru dianugerahi gunung, hutan, mata air, dan sungai sejak awal.

Ironinya, anugerah itu perlahan berkurang di depan mata kita sendiri.

Mungkin kita baru akan benar-benar merasakan nilainya ketika semuanya telah berubah.

Saya tidak tahu apakah Rababaka akan kembali seperti yang saya kenal dahulu.

Mungkin alam membutuhkan waktu yang panjang untuk memulihkan dirinya.

Tetapi saya masih menyimpan harapan.

Saya masih membayangkan suatu hari nanti, bisa melihat lagi seorang anak berlari menuju tepian sungai Rababaka sepulang sekolah.

Ia melepaskan sandalnya, melompat ke air yang jernih, tertawa bersama teman-temannya, lalu pulang membawa ikan hasil pancingannya.

Bukan karena saya ingin mengulang masa lalu.

Melainkan karena saya ingin anak-anak hari ini memiliki kenangan yang sama indahnya dengan yang pernah saya miliki.

Sebab sesungguhnya, yang sedang kita selamatkan bukan hanya sebuah sungai.

Kita sedang menjaga agar sebuah generasi masih memiliki tempat untuk mengenang masa kecilnya.

Rababaka mungkin tidak pernah meminta kita mengingatnya.

Ia hanya mengalir, memberi air, memberi ikan, memberi tempat bermain, dan diam-diam membesarkan anak-anak sebuah kampung. Baru ketika kejernihannya memudar, kita sadar betapa banyak kenangan yang telah dititipkannya kepada kita.

Mungkin suatu hari pohon-pohon akan kembali tumbuh. Mata air akan kembali menguat. Air Rababaka akan kembali jernih. Saya ingin percaya harapan itu masih ada.

Tetapi jika itu tidak pernah terjadi, setidaknya biarlah tulisan ini menjadi saksi bahwa pernah ada sebuah sungai yang begitu bening hingga kami meminum airnya tanpa ragu, memancing ikan di dalamnya, mengikat batang-batang pisang menjadi rakit kecil, lalu mengikuti arusnya dengan tawa yang tak pernah kami kira akan menjadi kenangan.

Karena sesungguhnya, yang hilang bukan hanya Rababaka.

Yang perlahan hilang adalah sebagian dari diri kita. (*)