Arief Hidayat : Saya Kalah karena Ardiansyah Mengubah Pembukaan

Wawancara Khusus Partai Puncak Catur Klasik Poprov NTB 2026

Arief Hidayat tersenyum. Bukan senyum kemenangan. Ia baru saja kehilangan medali emas.

Oleh Abdul Muis-Dompubicara

Di depannya, papan catur masih seperti semula. Bidak-bidak belum sempat dibereskan. Beberapa penonton masih berdiri. Ada yang menggeleng. Ada yang berbisik. Mereka baru menyaksikan partai paling menentukan di Porprov XII NTB 2026.

Saya bertanya satu kalimat.

“Apa yang membuat Anda kalah?”

“Karena Ardiansyah mengubah pembukaan.”

Jawab atlet yang mewakili Kabupaten Sumbawa ini singkat.

Ardiansyah Sempurnakan Dominasi, Rebut Emas Catur Klasik dan Bawa Pulang Tiga Medali

Kalimat itu terdengar sederhana. Tetapi bagi pecatur, justru di situlah perang dimulai.

Arief datang membawa target menang.

Ia sudah menyiapkan banyak kemungkinan.

Salah satunya menghadapi pembukaan 1.e4.

Selama ini itulah yang sering dimainkan Ardiansyah.

Tetapi kali ini berbeda.

Ardiansyah membuka dengan 1.c4.

Tenang.

Tidak tergesa.

Tidak memberi lawannya medan yang sudah dipersiapkan.

Arief mengaku langsung harus mengubah rencana.

Sebagai Norm Master Percasi yang juga pernah dipercaya menjadi Wasit Kepala cabang catur Porprov NTB, ia mencoba mengambil inisiatif.

Risikonya besar.

Ia memilih jalan yang lebih tajam.

Tetapi justru di situlah Ardiansyah menemukan celah.

“Saya mengambil inisiatif. Tetapi berhasil dipatahkan. Serangan balik Ardiansyah sangat mematikan,” katanya.
Pengakuan itu menarik.

Biasanya pecatur enggan membuka dapur permainannya.

Apalagi setelah kalah.

Arief justru melakukannya.

Ia bahkan tidak ragu menyebut tiga lawan terkuat yang dihadapinya sepanjang Porprov.

Master Percasi Ardiansyah.

MN Edyson.

MN Taufik Werang.

Menurutnya, nomor perorangan klasik tahun ini benar-benar menjadi kelas “the best of the best.”

Lalu saya bertanya lagi.

“Apakah Ardiansyah memang pantas membawa pulang dua emas dan satu perak?”

Jawabannya lebih cepat.

“Sangat pantas. Dia sudah teruji. Pernah merasakan atmosfer Pra-PON di Ambon dan lolos ke PON Papua. Pengalaman itu terlihat di atas papan.”
Kalimat itu terasa lebih mahal daripada medali.

Karena datang dari lawan.

Dari orang yang baru saja dikalahkan.

Di dunia olahraga, penghormatan tertinggi bukan selalu tepuk tangan penonton.

Kadang justru pengakuan dari rival.

Dan sore itu, pengakuan itu mengarah kepada satu nama.

Ardiansyah.

Pecatur Dompu.

Dua emas.

Satu perak.

Tanpa banyak bicara.

Cukup dengan satu langkah pertama yang berbeda yaitu c4. (Abdul Muis)