Rekor MURI dan Tembe Nggoli Dompu

329
Foto Ayib Husnulhuda

 

Kabupaten Dompu  sedikitnya telah memecahkan tiga rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) dalam kegiatan kolosal paling banyak mengumpulkan massa dalam kegiatan tertentu.

Rekor MURI terpecahkan pada 1 April 2015 lalu, dua rekor yang sama tercetak baru-baru ini 1 April 2017 dengan jumlah peserta tidak kurang dari 27 ribu orang. Sebuah jumlah yang terbilang tidak sedikit dari jumlah total penduduk yang hanya 200 ribu lebih jiwa.

Apa untungnya mendapatkan Rekor MURI dari sebuah kegiatan yang menguras biaya baik dari pemerintah maupun masyarakat yang ikut serta dalam perhelatan tersebut?.

Dilihat dari sejarahnya, lembaga MURI didirikan untuk menghimpun data dan memberikan penghargaan terhadap prestasi superlatif (tingkat perbandingan teratas) dari karya anak bangsa.

Karena yang memberikan penilaian dan penghargaan adalah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) tentu tidak bisa berharap banyak bagi peningkatan finansial. Misalnya Pemda mendapatkan MURI kemudian pemerintah pusat memberikan tambahan dana DAU, DAK atau dana sebutan lainya.

Meski begitu MURI menjadi sangat primadona untuk diburu baik oleh kelompok (pemerintah/swasta) maupun perorangan. Hal itu karena kegiatan yang akan dicatat oleh buku MURI adalah kegiatan yang super dan lain dari yang lain.

Dengan penganugrahan oleh MURI sebuah lembaga atau perorangan akan berdampak baik bagi pencitraan dimata publik. Dia akan menjadi pusat perhatian karena berhasil melaksanakan sebuah kegiatan yang superlatif dan lain dari yang lain.

Akan halnya dengan rekor MURI yang berhasil dicetak oleh Pemkab Dompu NTB, kegiatan kolosal yang melibatkan puluhan ribu massa ini setidaknya telah berhasil menolehkan perhatian masyarakat NTB, nasional bahkan dunia kearah daerah yang bermotto Nggahi Rawi Pahu.

Tetapi bagi sebahagian masyarakat Dompu,  ada berkah tersendiri atas pelaksanaan kegiatan itu dengan geliat ekonominya. Terjadi peningkatan yang luar biasa atas penjualan Tembe Nggoli (Sarung khas daerah) yang harus dipakai saat acara.

Sarung Nggoli asli kreasi lokal terbilang cukup mahal dipasaran dengan kisaran harga Rp 150 ribu hingga jutaan tergantung motif dan bahan. Bayangkan jumlah peserta sekitar 27.000 orang harus memakai dua sarung, laki untuk saremba dan katente sedangkan perempuan untuk rimbu dan sanggentu.

Dalam postingan Wakil Ketua Komisi II DPRD Dompu Abdullah S Kel bidang ekonomi harga Tembe Nggoli yang terpakai pada kegiatan tari dan pawai kolosal cukup fantastic yakni sebesar Rp 12 miliyar lebih. Itupun harga sarung khas itu dihitung rata-rata persarung sebesar Rp 200 ribu.

Tembe Nggoli sebelum ini memang menjadi kebanggaan masyarakat setempat, tetapi belum sepenuhnya bermanfaat bagi peningkatan ekonomi masyarakat. Pengrajin-pengrajinya bahkan sudah banyak yang gulung tikar karena kurangnya peminat.

Tetapi pemecahan rekor secara beruntun yang diperoleh telah mengembalikan citra Tembe Nggoli. Kini tidak hanya masyarakat lokal yang memburunya, tetapi masyarakat luar daerahpun mulai memburunya. Pemkab Dompu melalui dinas terkait hendaknya menjemput peluang ini untuk mendorong peningkatan ekonomi masyarakatnya. (Abdul Muis)

Komentar