DOMPU-Saya tertarik dengan isi khutbah ustad muda, Fahruddin Ahmad, M.Ag, yang mengangkat kisah tentang menulis di pasir dan mengukir di batu sebagai ilustrasi moral dalam khutbah Idul Fitri 1447 H warga Muhammadiyah Kabupaten Dompu 20 Maret 2026 yang dipusatkan di lapangan GOR Ginte Dompu.
Kisah tersebut menegaskan pentingnya melupakan kesalahan dan mengingat kebaikan sebagai bagian dari nilai ketakwaan yang diajarkan dalam Islam.
Dalam khutbahnya, Fahruddin menyampaikan bahwa Idul Fitri bukan sekadar momentum berakhirnya ibadah puasa, tetapi menjadi titik balik untuk kembali kepada fitrah sebagai manusia yang bersih, yang mampu menundukkan ego dan hawa nafsu.
Ia menekankan bahwa kesucian diri tidak hanya dibangun melalui ibadah ritual, tetapi juga melalui penguatan hubungan dengan Allah, kepedulian sosial, serta kelapangan hati dalam memaafkan sesama.
Melalui kisah dua sahabat, khutbah tersebut memberikan gambaran sederhana namun mendalam. Saat disakiti, kesalahan ditulis di atas pasir agar mudah terhapus. Sebaliknya, saat menerima pertolongan, kebaikan diukir di atas batu agar tetap abadi.
Pesan ini menjadi refleksi penting di tengah kehidupan sosial yang kian kompleks, di mana masyarakat sering kali lebih mudah mengingat kesalahan daripada menghargai kebaikan.
Selain itu, khutbah juga mengingatkan pentingnya nilai berbagi dalam segala kondisi serta kewajiban berbakti kepada orang tua sebagai bagian dari kesalehan sosial yang tidak terpisahkan dari keimanan.
Di akhir khutbah, jamaah diajak untuk menjadikan Idul Fitri sebagai momentum menghapus dendam, mempererat silaturahmi, dan membangun kehidupan yang lebih harmonis.
Dengan demikian, Idul Fitri tidak hanya dimaknai sebagai perayaan tahunan, tetapi sebagai upaya nyata untuk memperbaiki kualitas hubungan antar sesama manusia. (H Abdul Muis)









