Dari Kasus Penangkapan Sabu di Polres Sumbawa, Jangan Berhenti pada Anak-Anak Itu

Penangkapan dua anak asal Dompu yang diduga membawa hampir satu kilogram sabu di Sumbawa tentu mengejutkan publik. Di satu sisi, masyarakat patut mengapresiasi aparat kepolisian yang berhasil menggagalkan peredaran narkotika dalam jumlah besar. Namun di sisi lain, ada pertanyaan yang jauh lebih penting dan tidak boleh tenggelam oleh euforia penangkapan.

Apakah kasus ini akan berhenti pada dua anak yang tertangkap, atau justru menjadi pintu masuk untuk membongkar jaringan yang lebih besar?

Pertanyaan itu penting karena hampir satu kilogram sabu bukanlah barang yang lahir dari ruang kosong. Di balik setiap paket narkotika selalu ada rantai yang panjang: ada pemilik barang, ada pemodal, ada pengendali, ada perekrut, ada kurir, dan ada pasar yang menunggu barang tersebut. Jika yang tertangkap hanya orang yang membawa barang, sementara pemilik dan pengendalinya tidak tersentuh, maka yang berhasil dipotong hanyalah ranting, bukan akar masalahnya.

Lebih memprihatinkan lagi, yang kali ini terseret adalah anak-anak.

Fenomena ini menunjukkan bahwa jaringan narkotika semakin lihai mencari celah. Mereka tidak lagi hanya memanfaatkan orang dewasa yang terdesak ekonomi, tetapi diduga mulai menjadikan anak-anak sebagai tameng dan alat operasional. Anak-anak dipilih karena dianggap mudah dipengaruhi, mudah dijanjikan uang, dan sering kali tidak memahami sepenuhnya konsekuensi hukum yang akan mereka hadapi.

Di sinilah letak keprihatinan terbesar kita.

Ketika seorang anak tertangkap membawa narkotika, publik tentu boleh marah. Namun kemarahan itu jangan diarahkan hanya kepada anak yang tertangkap. Kemarahan yang sesungguhnya harus ditujukan kepada siapa pun yang merekrut, memerintah, dan memanfaatkan mereka untuk menjalankan bisnis haram tersebut.

Sebab dalam banyak kasus, anak yang tertangkap hanyalah wajah yang terlihat. Sementara otak di belakang layar tetap bersembunyi dalam gelap.

Sudah terlalu sering kita menyaksikan pola yang sama. Konferensi pers digelar. Barang bukti dipamerkan. Pelaku diperlihatkan di depan kamera. Berita menghiasi media selama beberapa hari. Setelah itu kasus perlahan menghilang dari perhatian publik. Kurir diproses hukum, sementara masyarakat tidak pernah lagi mendengar perkembangan mengenai siapa pemilik barang sebenarnya.

Akibatnya, jaringan tetap hidup.

Hari ini satu kurir ditangkap, besok muncul kurir baru. Hari ini satu anak masuk penjara, besok ada anak lain yang direkrut menggantikannya. Bisnis narkotika tetap berjalan karena orang-orang yang menikmati keuntungan terbesar tidak pernah benar-benar tersentuh.

Karena itu, keberhasilan aparat dalam kasus ini jangan hanya diukur dari jumlah barang bukti yang diamankan atau jumlah orang yang ditangkap. Ukuran keberhasilan yang sesungguhnya adalah kemampuan membongkar keseluruhan jaringan.

Publik berhak mengetahui:

Siapa yang menyediakan sabu tersebut?

Siapa yang memerintahkan pengambilan barang?

Siapa yang menjanjikan imbalan?

Siapa yang akan menerima barang itu?

Dan siapa yang memperoleh keuntungan terbesar dari transaksi tersebut?

Jika pertanyaan-pertanyaan itu tidak terjawab, maka penegakan hukum belum selesai.

Kasus ini juga harus menjadi alarm bagi masyarakat Dompu dan Pulau Sumbawa. Kita tidak boleh memandang narkotika hanya sebagai persoalan kriminal biasa. Ketika anak-anak mulai terseret ke dalam jaringan peredaran narkoba, maka ancaman yang dihadapi bukan lagi sekadar kejahatan, melainkan ancaman terhadap masa depan generasi daerah ini.

Anak-anak yang hari ini menjadi kurir bisa jadi adalah korban dari sistem eksploitasi yang lebih besar. Mereka mungkin salah, tetapi mereka juga mungkin sedang dimanfaatkan oleh orang-orang yang jauh lebih berbahaya.

Karena itu, perhatian publik seharusnya tidak berhenti pada foto dua anak yang ditangkap. Fokus kita harus tetap tertuju pada pertanyaan yang lebih besar:

Siapa yang berada di belakang mereka?

Sebab perang melawan narkoba tidak akan pernah dimenangkan jika yang ditangkap hanya pion-pion di lapangan, sementara pemain utama terus bebas mengatur permainan dari balik layar.

Dan jika benar ada pihak yang merekrut serta memanfaatkan anak-anak untuk menjalankan bisnis narkotika, maka kejahatan sesungguhnya bukan hanya peredaran sabu, melainkan juga perampasan masa depan generasi muda demi keuntungan segelintir orang.

Jangan biarkan kasus ini berhenti pada anak-anak itu. Karena keadilan yang sesungguhnya adalah ketika hukum berhasil mencapai mereka yang berada di puncak rantai kejahatan, bukan hanya mereka yang berada di bagian paling bawah. (REDAKSI)