Dompu Menuju Masa Keemasan Jagung Nasional Harga Menguntungkan, Produksi Meningkat, Petani Semakin Mandiri

Harga jagung
Kepala Distambun Dompu Syahrul Ramadhan,SP,MM sedang memantau kondisi jagung dilapangan

DOMPU-Kabupaten Dompu kembali menunjukkan posisinya sebagai salah satu daerah penghasil jagung unggulan nasional. Pada musim panen tahun ini, harga jagung di tingkat petani mengalami peningkatan signifikan bahkan sempat menembus angka Rp5.700 per kilogram pada kadar air 17 persen. Kondisi tersebut dinilai memberi dampak positif terhadap pendapatan dan semangat petani dalam meningkatkan produksi.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Dompu, Syahrul, SP menjelaskan bahwa capaian tersebut tidak terjadi secara kebetulan, melainkan hasil kolaborasi berbagai pihak mulai dari pemerintah, petani, penyuluh hingga sektor swasta.

Menurutnya, keberhasilan panen tahun ini didukung oleh faktor iklim yang cukup baik, kemampuan petani dalam memilih benih unggul berkualitas, serta penerapan sistem budidaya yang semakin maju.

“Petani Dompu saat ini sudah sangat mahir memilih benih berkualitas terutama jenis hibrida dengan potensi produksi rata-rata mencapai 12 ton per hektare. Ditambah lagi penerapan penggunaan pupuk lima tepat serta pengendalian organisme pengganggu tanaman yang relatif terkendali,” ujarnya.

Selain itu, bantuan pestisida dan insektisida dari Kementerian Pertanian juga dinilai turut membantu menjaga stabilitas produksi petani di lapangan.

Dari sisi pemasaran, Syahrul menegaskan bahwa petani Dompu kini tidak hanya bergantung pada serapan Bulog. Sejumlah perusahaan besar seperti PT SGR, CPI Wiliem, serta pembeli dari Bali dan Jawa mulai aktif membeli langsung hasil panen di Dompu.

Kondisi tersebut menciptakan persaingan pasar yang sehat sehingga petani memiliki lebih banyak alternatif dalam menjual hasil produksinya.

“Ini membuat harga lebih kompetitif dan petani punya ruang tawar yang lebih baik,” katanya.

Meski demikian, pihaknya mengakui masih terdapat petani yang memiliki hubungan pembiayaan dengan tengkulak. Namun menurutnya, kondisi tersebut masih bersifat normatif karena adanya hubungan sosial dan saling membantu terutama dalam penyediaan sarana produksi di awal musim tanam.

Dinas Pertanian bersama Satgas Pangan, pemerintah daerah, TNI-Polri serta instansi terkait juga terus melakukan pengawasan di lapangan, termasuk terhadap proses pembelian dan penimbangan jagung oleh perusahaan maupun mitra Bulog.

“Pengawasan terus dilakukan, termasuk tera timbangan dan sidak bersama Forkopimda. Namun kami juga berharap masyarakat ikut aktif melakukan kontrol bersama,” jelasnya.

Lebih lanjut, Pemerintah Kabupaten Dompu terus menyiapkan strategi jangka panjang untuk menjaga stabilitas harga jagung melalui sistem pengaturan klaster wilayah, kalender tanam, optimalisasi data luas tambah tanam (LTT), hingga penguatan informasi pasar secara rutin dan daring oleh petugas lapangan.

Tak hanya itu, rencana pembangunan pabrik pakan ternak di Dompu disebut menjadi salah satu langkah strategis untuk memperkuat hilirisasi jagung di daerah.

“Dengan melimpahnya produksi jagung dan ampas jagung di Dompu, ini menjadi potensi besar untuk mendukung industri pakan ternak baik skala besar maupun home industry,” terang Syahrul.

Ia menambahkan, kolaborasi antara pemerintah daerah, perbankan, BUMN, investor, legislatif, organisasi tani, NGO, media, hingga aparat keamanan menjadi faktor penting dalam menciptakan stabilitas investasi dan pertumbuhan sektor pertanian di daerah.

“Yang paling utama adalah menjaga stabilitas keamanan dan kenyamanan agar para investor memiliki kepercayaan untuk berinvestasi di Bumi Nggahi Rawi Pahu,” pungkasnya. (DB01)