Saya lahir dari keluarga pedagang bakulan. Ayah dan ibu saya tidak pernah membaca buku tentang kecerdasan finansial. Mereka juga tidak mengenal istilah financial freedom, cash flow, atau passive income. Yang mereka pahami hanyalah satu hal, bekerja dengan jujur, berdagang setiap hari, dan memastikan tujuh anaknya tetap bisa sekolah.
Oleh: Abdul Muis-Dompubicara
Dari usaha kecil itulah kami dibesarkan.
Alhamdulillah, tujuh bersaudara akhirnya berhasil menjadi sarjana. Enam memilih menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN). Saya sendiri memilih jalan yang berbeda. Dunia swasta, jurnalistik, advokat, dan kemudian membangun beberapa usaha.
Perjalanan hidup itulah yang membuat saya terus bertanya.
Mengapa sebagian orang harus terus bekerja agar tetap memperoleh penghasilan, sementara sebagian lainnya tetap memperoleh penghasilan meskipun tidak lagi bekerja seperti sebelumnya?
Jawaban atas pertanyaan itu ternyata tidak saya temukan di bangku sekolah. Tidak pula ketika mulai bekerja. Jawabannya justru saya temukan setelah puluhan tahun mengamati kehidupan.
Saya melihat banyak orang bekerja sangat keras. Berangkat pagi, pulang malam. Puluhan tahun mengabdi pada profesinya. Ketika pensiun, penghasilannya ikut menurun. Sebagian bahkan harus kembali bekerja karena kebutuhan hidup tidak ikut pensiun.
Saya juga melihat orang-orang yang membangun sesuatu secara perlahan. Mereka menggunakan sebagian hasil kerjanya untuk membeli aset, membangun usaha, menyusun sistem, dan menyiapkan masa depan. Ketika usia bertambah, pekerjaan mereka berkurang, tetapi penghasilannya tidak selalu ikut berhenti.
Perbedaan itulah yang membuat saya sampai pada satu kesimpulan.
Selama kita hanya menjual waktu, selama itu pula penghasilan akan bergantung pada waktu yang kita miliki.
Inilah yang saya maksud dengan menjual waktu.
Setiap pagi kita menukar tenaga, pikiran, keterampilan, pengalaman, bahkan kesehatan dengan sejumlah uang. Tidak ada yang salah dengan itu. Saya sendiri pernah menjalani fase tersebut.
Namun persoalannya muncul ketika seluruh hasil kerja itu habis untuk memenuhi kebutuhan hari ini, tanpa menyisakan sesuatu yang mampu bekerja untuk hari esok.
Padahal waktu adalah aset yang tidak bisa diperbarui. Setiap hari yang berlalu tidak akan pernah kembali.Karena itu, pertanyaan yang menurut saya jauh lebih penting bukanlah:
“Berapa besar penghasilan kita bulan ini?”
Tetapi,
“Apakah penghasilan itu sedang membangun masa depan, atau hanya menghabiskan hari ini?”
Saya tidak sedang mengajak siapa pun meninggalkan pekerjaannya.
ASN tetap dibutuhkan.
Guru tetap dibutuhkan.
Dokter tetap dibutuhkan.
Polisi, tentara, pegawai swasta, petani, nelayan, pedagang, semuanya memiliki peran yang sangat mulia.
Yang ingin saya ajak adalah mengubah cara berpikir.
Jangan berhenti pada pekerjaan. Jadikan pekerjaan sebagai alat untuk membangun sesuatu yang suatu hari mampu bekerja untuk Anda.
Mungkin bentuknya berbeda-beda.
Ada yang membangun usaha.
Ada yang memiliki rumah kontrakan.
Ada yang menulis buku.
Ada yang memiliki kebun produktif.
Ada yang membangun perusahaan.
Ada pula yang menciptakan karya yang terus memberikan manfaat.
Bentuknya tidak penting.
Yang penting adalah prinsipnya.
Jangan biarkan seluruh hidup kita habis hanya untuk menjual waktu.
Saya percaya, ukuran kecerdasan finansial bukan terletak pada besarnya penghasilan.
Tetapi pada kemampuan mengubah penghasilan menjadi aset, mengubah aset menjadi sistem, dan mengubah sistem menjadi sumber kehidupan yang terus memberi manfaat.
Perjalanan saya masih panjang. Saya juga masih terus belajar. Karena itu, melalui tulisan berseri ini saya tidak bermaksud menggurui siapa pun.
Saya hanya ingin berbagi hasil perenungan dari perjalanan hidup seorang anak pedagang bakulan yang belajar bahwa kerja keras adalah fondasi, tetapi kerja keras saja belum tentu cukup untuk menciptakan kebebasan di masa depan.
Mungkin Anda setuju.
Mungkin juga tidak.
Karena itu, saya ingin menutup tulisan ini dengan satu pertanyaan.
Jika besok pagi Anda tidak lagi dapat bekerja selama satu tahun, apakah keluarga Anda masih dapat hidup dengan tenang tanpa harus menjual aset atau berutang?
Bila pertanyaan itu mulai mengusik pikiran Anda, mungkin perjalanan kita dalam seri ini layak untuk diteruskan.
Bersambung…
Seri II
“Mengapa Orang Bergaji Tinggi Tetap Kesulitan Uang?”













