Tulisan saya semalam berjudul “Berhenti Menjual Waktu” ternyata memunculkan banyak tanggapan. Ada yang setuju, ada yang bertanya, bahkan ada yang merasa ragu.
Oleh: Abdul Muis
Saya memahaminya. Sebab selama puluhan tahun kita memang dibiasakan berpikir bahwa ukuran keberhasilan adalah memiliki pekerjaan dan menerima penghasilan setiap bulan.
Padahal saya ingin mengajak melihat kehidupan dari sisi yang lain.
Hari ini saya ingin mengajukan pertanyaan yang lebih sederhana.
Mengapa begitu banyak orang merasa hidupnya seperti berputar dalam lingkaran yang sama?
KOLOM PEMIKIRAN : Berhenti Menjual Waktu
Pagi bekerja. Akhir bulan menerima penghasilan. Awal bulan membayar kebutuhan. Lalu kembali bekerja. Begitu terus hingga puluhan tahun.
Bukan karena mereka malas. Justru karena mereka bekerja sangat keras. Namun hampir seluruh hasil kerja keras itu habis untuk mempertahankan kehidupan hari ini.
Tidak pernah sempat membangun kehidupan esok. Saya lahir dari keluarga pedagang bakulan. Saya melihat sendiri bagaimana orang tua saya berjuang setiap hari agar tujuh anaknya dapat bersekolah.
Tetapi mereka mengajarkan satu hal yang sampai hari ini tidak pernah saya lupakan. Jangan hanya memikirkan hari ini. Kalimat itu sederhana.
Namun semakin bertambah usia saya, semakin saya memahami maknanya. Banyak orang bekerja untuk mendapatkan penghasilan. Tetapi sangat sedikit yang bekerja sambil membangun masa depan.
Inilah perbedaan yang menurut saya paling menentukan. Penghasilan seharusnya tidak hanya dipakai untuk memenuhi kebutuhan hidup. Penghasilan juga harus dipakai untuk membangun sesuatu yang suatu hari mampu menopang kehidupan.
Kalau tidak, kita hanya akan berpindah dari satu bulan ke bulan berikutnya tanpa pernah benar-benar bergerak maju. Saya sering bertemu orang yang penghasilannya naik. Tetapi hidupnya tetap terasa sempit.
Mengapa?
Karena setiap kenaikan penghasilan langsung diikuti kenaikan gaya hidup. Rumah menjadi lebih besar. Kendaraan menjadi lebih mahal. Pengeluaran bertambah.
Akhirnya, penghasilan yang lebih besar hanya menghasilkan kebutuhan yang lebih besar. Di sinilah saya mulai menyadari bahwa persoalan terbesar bukanlah kecil atau besarnya penghasilan.
Persoalannya adalah arah penghasilan. Apakah seluruhnya habis untuk hari ini? Ataukah sebagian sedang membangun hari esok? Bagi saya, kehidupan bukan perlombaan siapa yang paling tinggi penghasilannya.
Kehidupan adalah bagaimana hasil kerja keras hari ini tetap memberi manfaat ketika tenaga mulai berkurang, ketika usia bertambah, dan ketika kita tidak lagi mampu bekerja seperti sekarang.
Itulah sebabnya saya percaya bahwa kecerdasan finansial bukan sekadar kemampuan mencari uang. Kecerdasan finansial adalah kemampuan mengubah penghasilan hari ini menjadi kekuatan untuk menghadapi masa depan.
Karena itu, mulai pagi ini cobalah bertanya kepada diri sendiri. Dari seluruh penghasilan yang saya terima bulan ini, berapa bagian yang benar-benar sedang membangun masa depan keluarga saya?
Kalau jawabannya belum ada, mungkin inilah saat yang tepat untuk mulai mengubah cara berpikir. Sebab masa depan tidak dibangun ketika kita pensiun.
Masa depan dibangun dari keputusan-keputusan kecil yang kita ambil setiap hari, mulai hari ini. (Bersambung/*)













