Dompu 2045, Siapkah Kita Menyambut Era Tambang Dan Pariwisata?

Diskusi tentang masa depan Dompu tampaknya mulai menemukan ruang yang lebih luas. Artikel “Tambang Hu’u: Harapan Baru atau Peluang yang Terlewatkan?” yang terbit beberapa waktu lalu tidak hanya memancing perhatian masyarakat, tetapi juga mendapat tanggapan dari sejumlah tokoh daerah yang memiliki pengalaman panjang dalam pemerintahan dan pembangunan.

Oleh: Abdul Muis

Ketua DPRD Dompu, Ir. Muttakun, mengingatkan pentingnya daerah memahami grand design pemerintah pusat terhadap pengelolaan potensi sumber daya alam yang berada di Hu’u. Menurutnya, meskipun kewenangan pertambangan berada di tangan pemerintah pusat, daerah tetap perlu mengetahui arah kebijakan yang akan ditempuh negara agar dapat mempersiapkan diri secara lebih baik.

Tambang Hu’u, Kewenangan di Jakarta, Masa Depan di Dompu

Pandangan tersebut kemudian mendapat penguatan dari mantan Sekda Dompu dan ekonom, Drs. H. Zainal Arifin, M.Si.

Menurutnya, sejak awal keberadaan PT Sumbawa Timur Mining (STM), dirinya menaruh harapan besar terhadap sektor pertambangan dan pariwisata sebagai dua sektor yang berpotensi mempercepat pertumbuhan ekonomi Dompu.

Dua pandangan tersebut sesungguhnya bertemu pada satu titik yang sama.

Dompu harus siap.

Selama ini perdebatan tentang Tambang Hu’u sering kali terjebak pada dua kutub. Sebagian melihatnya sebagai harapan besar. Sebagian lagi memandangnya dengan penuh kekhawatiran.

Padahal pertanyaan yang lebih penting bukanlah apakah tambang itu baik atau buruk. Pertanyaan yang lebih relevan adalah. Apakah Dompu siap memanfaatkan peluang yang sedang datang?

Karena sejarah menunjukkan bahwa kekayaan alam tidak selalu identik dengan kesejahteraan.

Banyak daerah kaya sumber daya tetap tertinggal karena tidak mampu mengubah kekayaan alam menjadi kekuatan ekonomi masyarakat.

Harus diakui bahwa selama masa eksplorasi, STM telah menunjukkan keterlibatan yang cukup nyata dalam kehidupan masyarakat sekitar wilayah operasinya.

Program pengembangan UMKM, dukungan terhadap sektor pertanian dan perikanan, Program Partisipasi Desa, pembukaan lapangan kerja lokal, hingga program beasiswa bagi mahasiswa asal Dompu menjadi bagian dari upaya yang telah dilakukan perusahaan.

Yang menarik, berbagai program tersebut dijalankan ketika proyek masih berada pada tahap eksplorasi. Artinya, sebelum satu gram emas pun diproduksi secara komersial, dampak ekonomi dan sosial sudah mulai dirasakan masyarakat.

Pertanyaannya kemudian menjadi semakin menarik. Jika pada tahap eksplorasi saja manfaatnya sudah mulai terlihat, bagaimana ketika proyek benar-benar memasuki tahap produksi?

Dompu 2045, Tambang Hu’u, Harapan Baru Atau Peluang Yang Terlewatkan?

Namun masa depan Dompu tidak akan ditentukan oleh emas atau tembaga yang tersimpan di bawah tanah. Masa depan Dompu akan ditentukan oleh kualitas manusia yang hidup di atas tanahnya.

Karena itu program beasiswa dan pembinaan mahasiswa yang selama ini dilakukan STM patut mendapat perhatian.

Investasi pada sumber daya manusia memiliki nilai yang jauh lebih besar dibandingkan investasi fisik. Tambang suatu saat akan habis. Tetapi pengetahuan, keterampilan, dan kualitas manusia akan tetap tinggal menjadi modal pembangunan.

Pertanyaan yang harus dijawab mulai hari ini adalah. Apakah anak-anak Dompu sedang dipersiapkan untuk menjadi pelaku utama pembangunan masa depan?

Ataukah mereka hanya akan menjadi penonton ketika peluang besar itu datang?

Pandangan H. Zainal Arifin menarik untuk dicermati. Ia melihat bahwa masa depan Dompu tidak hanya bertumpu pada sektor tambang. Pariwisata juga memiliki potensi yang sama besarnya.

Pandangan ini sangat rasional. Tambang mampu memberikan akselerasi ekonomi dalam waktu relatif cepat. Sementara pariwisata menawarkan keberlanjutan dalam jangka panjang.

Tambora tidak akan berpindah. Pantai Lakey tidak akan habis. Keindahan alam Dompu akan tetap menjadi aset bagi generasi berikutnya.

Karena itu, masa depan Dompu tidak boleh dibangun hanya dengan satu kaki. Tambang dan pariwisata harus menjadi dua mesin pertumbuhan yang berjalan beriringan.

Siapkah Dompu?
Inilah pertanyaan terbesar yang harus dijawab bersama. Apakah dunia pendidikan sudah siap? Apakah UMKM sudah siap? Apakah pemerintah daerah memiliki peta jalan pembangunan menuju Dompu 2045? dan apakah masyarakat telah memiliki kemampuan untuk menangkap peluang yang muncul?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut jauh lebih penting dibanding sekadar memperdebatkan kapan tambang akan mulai berproduksi.

Karena ketika peluang besar datang, yang menentukan bukanlah besarnya peluang itu. Yang menentukan adalah kesiapan mereka yang menyambutnya.

Indonesia akan memasuki usia 100 tahun pada 2045. Saat itu, masyarakat Dompu tentu berharap daerah ini tidak hanya dikenal sebagai penghasil jagung, peternakan, atau daerah yang memiliki tambang besar.

Dompu harus dikenal sebagai daerah yang mampu mengubah potensi menjadi kemajuan. Mampu mengubah investasi menjadi kesejahteraan.

Mampu mengubah sumber daya alam menjadi kualitas sumber daya manusia. Dan mampu mengubah peluang menjadi masa depan.

Karena pada akhirnya, tambang dan pariwisata hanyalah alat. Yang menentukan keberhasilan sesungguhnya adalah manusia yang mengelolanya.

Dan pertanyaan itu harus mulai dijawab hari ini. Sebelum tahun 2045 benar-benar tiba. (*)