Ketika berbicara tentang masa depan Dompu, pikiran kita biasanya tertuju pada Tambora, jagung, peternakan sapi, dan Pantai Lakey. Keempat sektor ini telah lama menjadi identitas sekaligus penyangga ekonomi masyarakat.
Oleh Abdul Muis
Namun dalam beberapa tahun terakhir, perhatian mulai tertuju ke wilayah Hu’u. Di kawasan inilah tersimpan potensi sumber daya mineral yang oleh kalangan pertambangan disebut sebagai Deposit Onto, salah satu temuan tembaga dan emas terbesar yang pernah ditemukan di Indonesia dalam beberapa dekade terakhir.
JAGA KEBERLANJUTAN HUTAN LINDUNG, BKPH WILAYAH VII PERKUAT KOLABORASI DENGAN PT STM
Bagi masyarakat Dompu, istilah Onto mungkin masih terdengar asing. Yang lebih dikenal adalah “Tambang Hu’u”. Sebutan itulah yang lebih dekat dengan keseharian masyarakat karena merujuk pada wilayah tempat aktivitas eksplorasi berlangsung.
Tetapi apa pun namanya, pertanyaan sesungguhnya bukanlah seberapa besar kandungan mineral yang tersimpan di bawah tanah Hu’u.
Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah, Apakah Tambang Hu’u akan menjadi titik balik kemajuan Dompu atau hanya menjadi peluang besar yang lewat begitu saja?
Sejarah mencatat bahwa Tambora telah menempatkan nama Dompu dalam peta dunia. Letusan dahsyat tahun 1815 menjadi salah satu peristiwa vulkanik terbesar dalam sejarah manusia.
Dua abad kemudian, Dompu kembali menjadi perhatian, bukan karena apa yang keluar dari perut gunung, melainkan karena apa yang tersimpan di bawah perut bumi Hu’u.
Jika eksplorasi yang berlangsung saat ini berkembang menjadi operasi pertambangan berskala dunia, maka dampaknya tidak hanya dirasakan oleh Hu’u atau Kabupaten Dompu semata. Dampaknya dapat menjangkau Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, bahkan ekonomi nasional.
Namun sejarah juga mengajarkan bahwa kekayaan alam tidak selalu identik dengan kesejahteraan.
Banyak daerah kaya sumber daya justru tertinggal. Banyak wilayah yang menghasilkan triliunan rupiah dari tambang, tetapi masyarakat di sekitarnya tetap berjuang menghadapi kemiskinan dan keterbatasan akses pendidikan.
Karena itu, yang harus dibicarakan sejak sekarang bukan hanya cadangan mineralnya, melainkan kesiapan daerahnya.
Program Beasiswa, PT STM Dukung Mahasiswa Dompu Raih Berbagai Prestasi
Salah satu risiko terbesar dari proyek pertambangan berskala besar adalah ketika masyarakat lokal hanya menjadi penonton.
Tenaga ahli datang dari luar daerah. Kontraktor berasal dari luar daerah. Pemasok barang dan jasa berasal dari luar daerah. Sementara masyarakat setempat hanya memperoleh manfaat yang sangat terbatas.
Jika kondisi itu terjadi, maka kekayaan alam Hu’u hanya akan menjadi angka dalam laporan ekonomi tanpa benar-benar mengubah kehidupan masyarakat Dompu.
Karena itu, pertanyaan yang harus mulai dijawab pemerintah daerah hari ini adalah, berapa banyak anak Dompu yang sedang dipersiapkan menjadi tenaga kerja tambang?
Berapa banyak yang mendapat pendidikan teknik, geologi, lingkungan, dan teknologi? Apakah dunia pendidikan sudah membaca peluang ini? Apakah pemerintah memiliki peta jalan pengembangan sumber daya manusia menuju era industri tambang?
Jika tidak dipersiapkan sejak sekarang, maka ketika tambang beroperasi penuh nanti, peluang itu akan diisi oleh mereka yang datang dari luar.
Sering kali masyarakat memandang tambang hanya dari hasil mineral yang dihasilkan. Padahal dampak ekonomi terbesar justru muncul dari aktivitas pendukungnya.
Transportasi berkembang. Usaha penginapan tumbuh. Jasa katering meningkat. Perdagangan bergerak lebih cepat. Konstruksi berkembang. UMKM mendapatkan pasar baru.
Inilah yang disebut efek berganda ekonomi.
Jika dikelola dengan baik, manfaat ekonomi yang muncul dari aktivitas pendukung bisa sama pentingnya dengan nilai mineral yang ditambang.
Karena itu keberhasilan Tambang Hu’u tidak boleh diukur semata-mata dari berapa ton tembaga atau emas yang dihasilkan.
Keberhasilannya harus diukur dari seberapa besar manfaat yang dinikmati masyarakat Dompu.
Selama ini Dompu masih sangat bergantung pada dana transfer dari pemerintah pusat. Ruang fiskal daerah sering kali terbatas karena sebagian besar anggaran terserap untuk kebutuhan rutin pemerintahan.
Kehadiran aktivitas ekonomi baru yang besar berpotensi menciptakan peluang peningkatan pendapatan daerah melalui tumbuhnya sektor jasa, perdagangan, investasi, dan usaha-usaha baru.
Inilah kesempatan yang mungkin tidak datang dua kali dalam satu generasi.
Tetapi kesempatan hanya akan menjadi manfaat apabila disertai dengan perencanaan yang matang.
Optimisme terhadap potensi Tambang Hu’u tidak boleh membuat kita mengabaikan aspek lingkungan. Air, pesisir, hutan, dan kehidupan sosial masyarakat merupakan aset yang tidak kalah penting dibandingkan kandungan mineral di bawah tanah.
Kemajuan ekonomi dan perlindungan lingkungan tidak boleh dipertentangkan. Keduanya harus berjalan bersama.
Sebab tujuan pembangunan bukan sekadar meningkatkan angka pertumbuhan ekonomi, melainkan memastikan generasi mendatang tetap memiliki ruang hidup yang layak.
Tahun 2045 Indonesia akan berusia 100 tahun. Pada saat itu, Dompu tentu berharap menjadi daerah yang lebih maju, lebih mandiri, dan lebih sejahtera.
Tambora akan tetap menjadi kebanggaan. Lakey akan tetap menjadi aset pariwisata dunia. Pertanian dan peternakan akan tetap menjadi fondasi ekonomi rakyat.
Namun Tambang Hu’u berpotensi menjadi lokomotif baru yang mempercepat perjalanan menuju masa depan tersebut.
Pada akhirnya, sejarah tidak akan bertanya berapa juta ton mineral yang berhasil diangkat dari Hu’u.
Sejarah akan bertanya apakah kekayaan itu berhasil meningkatkan kualitas pendidikan, membuka lapangan kerja, memperkuat ekonomi daerah, dan menghadirkan kesejahteraan bagi masyarakat.
Karena tambang yang besar belum tentu melahirkan kemajuan yang besar.
Tetapi daerah yang mampu mengelola kekayaannya dengan bijak akan selalu memiliki masa depan yang besar. (*)












