DOMPUBICARA.COM — Coba perhatikan kebiasaan kita sendiri. Tangan mengambil HP. Layar dibuka. WhatsApp diperiksa. Tidak ada pesan baru. Media sosial dibuka. Tidak ada yang benar-benar dicari.
Layar kemudian ditutup.
Beberapa menit kemudian, HP dibuka lagi.
Padahal tidak ada suara pesan. Tidak ada telepon masuk. Tidak ada pemberitahuan penting.
Pernah begitu?
Kalau pernah, Anda tidak sendirian.
Kadang Kita Membuka HP Tanpa Sadar
Membuka HP sudah menjadi bagian dari rutinitas sehari-hari. Bahkan dalam banyak situasi, kita melakukannya hampir secara otomatis.
Sedang menunggu seseorang, tangan mencari HP.
Sedang duduk sendirian, HP dibuka.
Sedang menunggu makanan datang, HP kembali diperiksa.
Bahkan ketika sedang berbicara dengan orang lain, ada kalanya tangan tetap ingin mengambil HP.
Penelitian tentang perilaku penggunaan smartphone menunjukkan bahwa kebiasaan memeriksa HP dapat berlangsung secara otomatis dan berulang, bahkan tanpa tujuan yang jelas. Pemeriksaan singkat yang dilakukan berkali-kali merupakan salah satu pola yang banyak ditemukan dalam penggunaan smartphone. (PubMed Central (PMC))
Jadi, bisa saja kita membuka HP bukan karena ada sesuatu yang harus dilihat.
Kita membukanya karena sudah terbiasa.
Otak Kita Suka Sesuatu yang Baru
Ada alasan lain yang menarik.
Setiap kali membuka HP, selalu ada kemungkinan menemukan sesuatu yang baru.
Mungkin ada pesan dari teman.
Mungkin ada komentar.
Mungkin ada berita.
Mungkin ada video menarik.
Mungkin ada seseorang yang baru saja mengunggah sesuatu.
Kemungkinan mendapatkan informasi baru itulah yang membuat aktivitas membuka HP menjadi menarik.
Masalahnya, kita tidak selalu tahu kapan sesuatu yang menarik akan muncul.
Karena itu, meskipun beberapa kali tidak menemukan apa-apa, kita bisa kembali memeriksa beberapa menit kemudian.
Penelitian mengenai kebiasaan smartphone menunjukkan bahwa pemeriksaan berulang dapat menjadi perilaku yang otomatis dan dipicu oleh kebiasaan, bukan selalu oleh kebutuhan yang benar-benar disadari. (PubMed Central (PMC))
“Cuma Sebentar” yang Bisa Menjadi Lama
Yang awalnya hanya ingin melihat satu pesan bisa berubah menjadi membuka media sosial.
Dari media sosial pindah ke video.
Dari video membaca komentar.
Dari komentar mencari sesuatu yang lain.
Tiba-tiba sudah 20 atau 30 menit.
Padahal ketika pertama kali mengambil HP, niatnya hanya ingin melihat apakah ada pesan.
Inilah yang membuat penggunaan smartphone terasa seperti “lubang kecil” yang mudah dimasuki tetapi sulit disadari sudah berapa lama kita berada di dalamnya.
Bukan berarti setiap orang yang sering membuka HP mengalami kecanduan.
Kebiasaan dan perilaku kompulsif juga berbeda. Kebiasaan bisa dilakukan secara otomatis, tetapi seseorang masih dapat menghentikannya. Perilaku kompulsif lebih berkaitan dengan dorongan yang sulit dikendalikan meskipun sudah menimbulkan masalah. (PubMed Central (PMC))
Kadang Kita Membuka HP Karena Bosan
Ada satu alasan yang sangat sederhana: bosan.
Saat tidak ada kegiatan, HP menjadi pengisi waktu yang paling mudah.
Tidak perlu mencari teman.
Tidak perlu pergi ke mana-mana.
Cukup menyalakan layar.
Karena itu, kebiasaan membuka HP sering muncul ketika kita sedang menunggu, sendirian, atau berada dalam situasi yang terasa membosankan.
Tanpa disadari, HP akhirnya menjadi semacam “teman tunggu”.
Menunggu kendaraan? HP.
Menunggu makanan? HP.
Menunggu seseorang? HP.
Bahkan menunggu air mendidih pun kadang HP yang dicari.
Yang Perlu Diwaspadai Bukan HP-nya
Smartphone tentu memiliki banyak manfaat.
Kita bisa bekerja, membaca berita, berkomunikasi dengan keluarga, mencari informasi, melakukan transaksi, bahkan mengurus berbagai keperluan tanpa harus meninggalkan rumah.
Jadi persoalannya bukan sekadar “HP itu buruk”.
Yang perlu diperhatikan adalah ketika kebiasaan membuka HP mulai mengambil alih waktu yang seharusnya digunakan untuk hal lain.
Misalnya sulit berkonsentrasi, pekerjaan sering tertunda, percakapan dengan orang lain terganggu, atau waktu tidur ikut berkurang.
Penelitian terbaru yang melibatkan responden dari Amerika Serikat dan Indonesia juga membedakan antara pemeriksaan smartphone yang bersifat kebiasaan dan yang sudah bersifat kompulsif. Keduanya berkaitan dengan stres digital, tetapi hubungan dengan perilaku kompulsif lebih kuat. (PubMed Central (PMC))
Coba Satu Hal Sederhana
Tidak perlu langsung melakukan “detoks digital” ekstrem.
Coba saja satu hal sederhana.
Sebelum membuka HP, tanyakan kepada diri sendiri: “Saya mau mencari apa?”
Kalau memang ada tujuan, silakan buka.
Tetapi kalau jawabannya hanya, “Tidak tahu,” mungkin itulah saatnya meletakkan HP kembali.
Coba juga menikmati beberapa menit tanpa layar ketika sedang minum kopi, makan bersama keluarga, atau berbicara dengan teman.
Mungkin awalnya terasa aneh.
Namun lama-kelamaan kita bisa menyadari bahwa tidak setiap jeda harus diisi dengan melihat layar.
Sebab ada kalanya kita membuka HP bukan karena ada sesuatu yang penting di sana.
Kita hanya sedang mencari sesuatu untuk mengisi kekosongan beberapa menit.
Dan mungkin, yang sebenarnya kita butuhkan bukan layar yang menyala.
Tetapi kemampuan untuk merasa nyaman ketika tidak sedang melakukan apa-apa. (muis)






