Kenapa Kopi Terasa Lebih Nikmat Saat Diminum Sambil Ngobrol?

DOMPUBICARA.COM — Ada orang yang bisa minum kopi sendirian. Tetapi bagi banyak orang, secangkir kopi terasa jauh lebih nikmat ketika diminum sambil ngobrol.

Entah di teras rumah, warung kopi, kantin, atau sekadar duduk bersama teman. Kopinya mungkin sama. Gulanya sama. Bahkan cangkirnya pun tidak berbeda.

Tetapi rasanya seperti ada yang kurang kalau minum kopi tanpa teman bicara.

Mengapa?

Kopi Bukan Sekadar Minuman
Bagi sebagian masyarakat, kopi sudah menjadi bagian dari kebiasaan sehari-hari.

Pagi hari sebelum memulai aktivitas, kopi menjadi teman membuka hari. Sore hari, kopi menemani waktu istirahat. Malam hari, secangkir kopi kadang menjadi alasan untuk duduk lebih lama bersama teman.

Karena itu, yang dinikmati sebenarnya bukan hanya rasa pahit atau aroma kopi.

Ada suasana di dalamnya.

Ada percakapan, tawa, cerita pekerjaan, kabar keluarga, bahkan perdebatan kecil soal politik dan sepak bola.

Secangkir kopi akhirnya menjadi semacam “tiket” untuk duduk dan berbincang.

Mengapa Rasanya Bisa Terasa Lebih Nikmat?
Otak manusia tidak menikmati makanan dan minuman hanya berdasarkan rasa.

Suasana, pengalaman, kebiasaan dan kondisi emosional juga ikut memengaruhi bagaimana sesuatu dirasakan.

Kopi yang diminum sambil bercanda dengan teman tentu menghadirkan pengalaman yang berbeda dibanding kopi yang diminum sendirian dalam suasana terburu-buru.

Itulah sebabnya seseorang bisa mengatakan, “Kopi di rumah biasa saja, tetapi kopi di warung bersama teman terasa lebih enak.”

Bukan berarti kopinya berbeda.

Suasananya yang berbeda.

Kafein Memang Membuat Kita Lebih Siaga
Di balik aroma dan rasa kopi, ada kafein yang bekerja sebagai stimulan.

Kafein dapat membantu mengurangi rasa kantuk dan membuat seseorang merasa lebih waspada. Itulah salah satu alasan kopi sering menjadi minuman pilihan ketika tubuh mulai terasa lelah.

Namun, respons terhadap kafein tidak sama pada setiap orang.

Ada yang minum kopi dan tetap bisa tidur seperti biasa. Ada pula yang baru minum satu cangkir pada sore hari sudah sulit memejamkan mata pada malamnya.

Kenapa Orang Suka Duduk di Depan Rumah Saat Sore? Ternyata Bukan Sekadar Kebiasaan

Penelitian menunjukkan bahwa konsumsi kafein dapat mengganggu tidur, terutama jika dikonsumsi terlalu dekat dengan waktu tidur. Sebuah meta-analisis menemukan bahwa kafein dapat mengurangi total waktu tidur dan meningkatkan waktu yang dibutuhkan untuk mulai tertidur. (PubMed)

Jadi, kalau seseorang mengeluh sulit tidur setelah minum kopi sore atau malam hari, mungkin bukan sekadar perasaan.

Kopi dan Kesehatan, Bagaimana?
Pertanyaan berikutnya tentu lebih menarik: apakah kopi sebenarnya baik atau buruk bagi kesehatan?

Jawabannya tidak sesederhana “baik” atau “buruk”.

Sejumlah kajian besar menemukan bahwa konsumsi kopi berkaitan dengan berbagai manfaat kesehatan pada orang dewasa, meskipun sebagian besar bukti tersebut berasal dari penelitian observasional sehingga tidak berarti kopi otomatis menjadi penyebab manfaat tersebut. (PubMed)

Karena itu, kopi lebih tepat dilihat sebagai bagian dari pola hidup, bukan sebagai obat.

Yang juga perlu diperhatikan adalah apa yang dimasukkan ke dalam kopi.

Kopi hitam tanpa banyak tambahan tentu berbeda dengan kopi yang diberi gula dalam jumlah besar, susu kental manis, krimer, atau berbagai tambahan lainnya.

Kadang-kadang bukan kopinya yang menjadi persoalan, tetapi “teman” yang ikut masuk ke dalam cangkir.

Berapa Banyak yang Masih Wajar?
Bagi kebanyakan orang dewasa, FDA menyebut konsumsi kafein hingga sekitar 400 miligram per hari sebagai jumlah yang umumnya tidak dikaitkan dengan efek negatif. Namun kandungan kafein dalam kopi sangat bervariasi, begitu pula sensitivitas setiap orang. (U.S. Food and Drug Administration)

Artinya, tidak tepat pula menganggap semua orang harus minum dalam jumlah yang sama.

Jika setelah minum kopi seseorang mengalami jantung berdebar, gelisah, sulit tidur, sakit kepala atau gangguan lain, jumlah dan waktu konsumsinya mungkin perlu dikurangi. (U.S. Food and Drug Administration)

Ibu hamil, orang dengan kondisi kesehatan tertentu, atau mereka yang mengonsumsi obat tertentu juga sebaiknya berkonsultasi dengan tenaga kesehatan mengenai batas konsumsi kafein yang sesuai.

Tetapi Ada Sesuatu yang Tidak Bisa Diukur
Pada akhirnya, mungkin itulah alasan kopi terasa lebih nikmat ketika diminum sambil ngobrol.

Bukan semata-mata karena kafeinnya.

Ada waktu yang diluangkan, ada orang yang ditemui, ada cerita yang dibagikan.

Warung kopi pun akhirnya bukan hanya tempat membeli minuman. Ia bisa menjadi ruang sosial tempat orang bertemu, bertukar kabar dan melepas penat setelah menjalani aktivitas seharian.

Dan mungkin, setelah semua pembicaraan selesai, yang kita ingat bukan lagi berapa sendok kopi yang diminum.

Kita justru mengingat dengan siapa kita duduk dan cerita apa yang kita bicarakan.

Sebab terkadang, yang membuat secangkir kopi terasa nikmat bukan kopinya.

Tetapi teman di seberang meja. (DB01)