Ketika Wartawan Punya Teman Baru Bernama AI

Dulu, berita benar-benar harus dicari.

Saya mengenal dunia jurnalistik pada awal 1990-an. Zaman ketika telepon masih menjadi barang penting di sebuah rumah, mesin ketik masih menjadi peralatan kerja, dan berita dari daerah belum bisa dikirim dalam hitungan detik.

  • Oleh Abdul Muis – Dompu 

Kalau hendak menghubungi narasumber, telepon rumah menjadi andalan. Tidak selalu langsung tersambung dengan orang yang dicari. Kadang harus menunggu. Kadang harus menelepon lagi.

Kalau berita sudah didapat, pekerjaan berikutnya adalah mengetik.

Tidak ada backspace. Tidak ada copy-paste. Tidak ada undo.

Salah mengetik pada bagian tertentu bisa berarti mengganti kertas dan mengulang beberapa paragraf. Karena itu, tangan harus lebih berhati-hati. Satu berita membutuhkan waktu, bukan hanya untuk mencari fakta, tetapi juga untuk menyelesaikan naskah.

Setelah selesai?

Berita belum bisa dikirim dengan menekan tombol send.

Naskah harus dikirim ke kantor pusat menggunakan jasa bus.

Ya, bus.

Berita yang kita tulis pagi atau siang hari melakukan perjalanan bersama penumpang dan barang-barang lain menuju kantor pusat. Kami menunggu. Redaksi menunggu. Pembaca juga menunggu.

Berita benar-benar mempunyai perjalanan.

Tetapi belum selesai sampai di situ.

Ada satu bagian lain yang juga menentukan: foto.

Kamera waktu itu masih analog. Tidak ada kamera digital. Tidak ada layar kecil untuk memastikan foto bagus atau tidak. Setelah menekan tombol rana, kita hanya bisa berharap bahwa gambar yang diambil memang sesuai dengan yang dibutuhkan.

Film kemudian dibawa ke studio foto untuk diproses dan dicetak.

Dan kita menunggu.

Kadang bukan hitungan jam. Bisa berhari-hari.

Bayangkan seorang wartawan sudah mendapatkan berita penting. Naskah sudah selesai. Tetapi foto masih berada di studio foto.

Berita dan foto seperti berjalan dengan kecepatan yang berbeda.

Sekarang?

Klik.

Foto muncul di layar.

Kurang bagus, ambil lagi.

Sudah bagus, kirim.

Selesai.

Betapa panjang perjalanan sebuah berita pada masa itu.

Padahal itu bukan cerita orang lain. Saya mengalaminya sendiri.

Kemudian teknologi datang satu per satu.

Muncul facsimile.

Berita tidak lagi harus menumpang bus. Tetapi untuk mengirimnya, kami masih harus datang ke kantor Telkom, mengantre, lalu menunggu proses pengiriman.

Sudah jauh lebih cepat.

Tetapi tetap ada perjuangan kecil hanya untuk mengirim satu berita.

Kemudian datang internet.

Dial-up.

Internet Instan.

Suara modem yang dulu terasa begitu akrab. Kadang koneksi lambat. Kadang terputus ketika sedang dibutuhkan.

Tetapi bagi wartawan daerah, internet adalah sebuah revolusi.

Untuk pertama kalinya, jarak terasa benar-benar menyusut.

Berita dari daerah dapat dikirim ke kantor pusat hampir seketika.

Setelah itu semuanya bergerak semakin cepat.

Email.

Website berita.

Media online.

Media sosial.

Smartphone.

Kamera, alat perekam, mesin ketik, alat komunikasi dan ruang redaksi perlahan berkumpul dalam satu benda kecil yang bisa dimasukkan ke saku.

Wartawan bisa berada di lokasi peristiwa, mengambil gambar, merekam wawancara, menulis berita, mengedit video dan mengirimkannya kepada pembaca tanpa harus kembali ke kantor.

Kalau dipikir-pikir, perjalanan profesi wartawan dalam beberapa dekade terakhir adalah perjalanan menuju satu hal:

semakin cepat.

Dari bus ke fax.

Dari fax ke internet.

Dari internet ke smartphone.

Dan sekarang datang seorang teman baru.

Namanya AI.

AI berbeda dengan teknologi-teknologi sebelumnya.

Bus hanya membawa berita.

Fax hanya mengirim berita.

Internet mempercepat pengiriman berita.

Smartphone membuat wartawan bisa bekerja dari mana saja.

AI mulai masuk lebih jauh.

Ia membantu membaca dokumen.

Merangkum laporan ratusan halaman.

Mentranskripsikan wawancara.

Membandingkan data.

Mencari pola.

Membantu membuat pertanyaan.

Bahkan bisa diajak berdiskusi mengenai sebuah persoalan sebelum wartawan menulisnya.

Bagi wartawan daerah, ini bukan perubahan kecil.

Kami tahu bagaimana rasanya bekerja dengan keterbatasan.

Tidak selalu ada reporter yang cukup. Tidak selalu ada editor. Tidak selalu ada tenaga khusus untuk membaca data atau membongkar dokumen yang tebal.

Karena itu, AI bisa menjadi teman kerja yang sangat berguna.

Teman yang tidak perlu menunggu bus.

Tidak perlu antre di Telkom.

Tidak perlu menunggu koneksi dial-up.

Dan tidak pernah mengeluh kalau diberi dokumen 500 halaman.

Tetapi justru di situlah saya mulai bertanya.

Apakah teman baru ini akan membuat wartawan semakin kuat, atau justru semakin malas?

Sebab ada perbedaan antara membuat tulisan dan melakukan jurnalistik.

AI bisa membuat tulisan.

Tetapi jurnalistik bukan sekadar tulisan.

Jurnalistik adalah mencari fakta.

Memeriksa.

Mengkonfirmasi.

Mendengar.

Mengamati.

Kadang mencurigai.

Kadang mengejar narasumber yang sulit ditemui.

Kadang membaca dokumen sampai larut malam karena ada satu angka yang terasa janggal.

Dan kadang harus datang ke sebuah tempat hanya untuk memastikan bahwa apa yang dikatakan orang memang benar.

Di sinilah wartawan daerah memiliki sesuatu yang tidak mudah dimiliki AI.

AI bisa mengetahui banyak hal tentang sebuah daerah.

Tetapi AI tidak hidup di daerah itu.

Ia tidak tahu bagaimana karakter seorang pejabat ketika diwawancarai.

Ia tidak tahu hubungan antara satu tokoh dengan tokoh lainnya.

Ia tidak ikut mendengar pembicaraan masyarakat di warung kopi.

Ia tidak tahu bahwa sebuah kalimat yang tampaknya biasa saja sebenarnya menyimpan persoalan lama.

Ia tidak tahu mengapa masyarakat di sebuah desa marah.

Ia tidak tahu bahwa angka dalam sebuah dokumen mungkin benar secara administratif, tetapi menjadi aneh ketika dibandingkan dengan kenyataan di lapangan.

AI memiliki data. Wartawan memiliki konteks.

Karena itu, saya tidak melihat AI semata-mata sebagai ancaman.

Saya melihatnya sebagai teman baru.

Tetapi seperti semua teman, ia juga harus kita kenal batasnya.

Sebab teman yang terlalu rajin kadang justru bisa membuat kita malas.

Dan bagi wartawan, kemalasan itu berbahaya.

Ada bahaya lain.

AI sangat mudah membuat media menjadi pabrik konten.

Satu siaran pers bisa menjadi berita.

Satu pernyataan pejabat bisa dibuat beberapa versi.

Satu berita bisa ditulis ulang.

Judul bisa dibuat puluhan.

Dalam sehari, sebuah media bisa menghasilkan banyak artikel.

Tetapi pertanyaannya:

Berapa banyak yang benar-benar berita?

Ini paradoks baru.

Semakin mudah membuat berita, semakin sulit membuat jurnalisme.

Pembaca sebenarnya tidak membutuhkan media yang sekadar menghasilkan banyak tulisan. Kalau hanya tulisan, AI sendiri sudah bisa menyediakannya.

Yang dibutuhkan pembaca adalah media yang mau memeriksa.

Media yang berani bertanya.

Media yang mau turun ke lapangan.

Media yang tidak mudah percaya pada pernyataan resmi.

Dan media yang berani mengatakan bahwa sebuah informasi belum tentu benar meskipun sudah beredar di mana-mana.

Justru di sini AI bisa menjadi teman yang sangat berguna.

Misalnya wartawan memperoleh laporan pemeriksaan BPK setebal ratusan halaman.

AI bisa membantu mencari angka.

Membandingkan dokumen.

Menunjukkan perubahan.

Membuat tabel.

Menemukan bagian yang perlu dibaca lebih dalam.

Tetapi setelah itu?

Wartawan harus bekerja.

Mengapa angka itu berubah?

Siapa yang bertanggung jawab?

Apa kata pihak yang diperiksa?

Apa kenyataan di lapangan?

Apakah masyarakat menerima manfaat dari anggaran tersebut?

AI bisa menemukan pola.

Wartawan harus menemukan fakta.

Itulah pembagian kerja yang sehat.

Karena itu, saya kira wartawan masa depan tidak perlu menjadi orang yang takut pada AI.

Ia justru harus menjadi orang yang paling pintar menggunakan AI.

Tetapi bukan untuk menjadi malas.

Sebaliknya, untuk menjadi lebih tajam.

Wartawan harus belajar membaca data.

Belajar membaca dokumen.

Belajar menggunakan teknologi.

Belajar melakukan verifikasi digital.

Belajar memahami cara kerja AI.

Tetapi pada saat yang sama tidak boleh kehilangan kemampuan paling tua dalam profesi ini:

bertanya.

Pertanyaan yang bagus sering lebih berharga daripada tulisan yang bagus.

Karena dari pertanyaan yang tepat, berita bisa lahir.

Kalau saya mengingat perjalanan ini, rasanya agak lucu.

Dulu berita harus dicari.

Setelah ditemukan, diketik dengan mesin ketik.

Foto diambil dengan kamera analog, lalu film dibawa ke studio foto dan ditunggu hasilnya.

Naskah kemudian dikirim menggunakan bus.

Lalu datang fax.

Kami antre di Telkom.

Kemudian datang dial-up.

Internet Instan.

Email.

Website.

Media sosial.

Smartphone.

Dan sekarang AI.

Teknologinya berubah hampir seluruhnya.

Tetapi satu hal tidak berubah.

Berita tetap harus dicari.

Mungkin inilah yang harus diingat wartawan di era AI.

Jangan sampai karena mesin semakin pintar, wartawan justru semakin malas.

Jangan sampai karena AI bisa membaca dokumen, wartawan berhenti membaca.

Jangan sampai karena AI bisa menulis, wartawan berhenti bertanya.

Dan jangan sampai karena berita sekarang bisa dibuat dalam hitungan detik, wartawan lupa bahwa kebenaran sering membutuhkan waktu.

AI boleh menjadi teman baru wartawan.

Bahkan teman yang sangat pintar.

Tetapi saya kira ada satu pekerjaan yang sebaiknya jangan pernah kita serahkan kepadanya:

mencari berita.

Sebab sejak awal 1990-an, ketika berita masih diketik dengan mesin ketik dan dikirim naik bus, sampai hari ini ketika sebuah berita dapat lahir dengan bantuan kecerdasan buatan, itulah pekerjaan wartawan yang sebenarnya.

Mencari, memeriksa, dan memastikan.

Selebihnya adalah teknologi.

(Penulis adalah mantan wartawan Suara Nusa NTB/JPNN)