Kilo Kembali Waspada, Memori Gempa 2007 dan Pelajaran dari “30 Meter”

Pasca gempa Dompu masih aman
Ilustrasi gempa

DOMPU — Ketika gempa bumi kuat mengguncang kawasan Nusa Tenggara Timur pada Sabtu (15/8/2026) pagi, perhatian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Dompu langsung mengarah ke wilayah pesisir, terutama bagian utara.

Kepala BPBD Dompu, Wan Mutjatun, ST, mengatakan pihaknya sejak pagi melakukan monitoring dan koordinasi intensif dengan sejumlah wilayah, termasuk Kecamatan Kilo.

“Alhamdulillah, kita di Dompu sampai saat ini belum ada laporan kerusakan,” kata Wan Mutjatun melalui pesan yang diterima Sabtu pagi.

Menurutnya, koordinasi dengan Camat Kilo dilakukan secara intensif karena adanya kewaspadaan terhadap potensi tsunami di wilayah utara Dompu.

BPBD juga memanfaatkan jaringan komunikasi Desa Tangguh Bencana (Destana) yang melibatkan camat, lurah dan kepala desa di delapan kecamatan untuk memperoleh informasi perkembangan di lapangan.

Hingga saat konfirmasi dilakukan, belum ada laporan kerusakan dari kepala desa maupun camat.

Namun bagi masyarakat Kilo, kewaspadaan terhadap gempa dan laut bukan sesuatu yang sama sekali baru.

Gempa M7,7 Guncang NTT, BPBD Dompu: Belum Ada Kerusakan

Memori Gempa 2007
Sekitar 19 tahun lalu, tepatnya 26 November 2007, gempa kuat mengguncang wilayah Dompu. Sejumlah catatan mencatat kekuatan gempa sekitar 6,7–6,8 dan pusatnya berada di kawasan perairan utara Dompu.

Kilo termasuk wilayah yang mengalami dampak cukup parah. Saat itu warga pesisir sempat mengungsi ke tempat yang lebih tinggi karena khawatir terjadi tsunami.

Ada satu cerita yang masih melekat dalam ingatan warga yang mengalami langsung peristiwa tersebut.

Ketika itu sedang berlangsung sebuah kegiatan yang dikenal masyarakat sebagai TMD. Saat gempa datang, kepanikan spontan terjadi. Peserta kegiatan berlarian menuju kawasan pegunungan untuk mencari tempat yang dianggap lebih aman.

Kisah tersebut menunjukkan bahwa bagi masyarakat pesisir Kilo, gempa bukan hanya angka pada alat pencatat seismik. Ia merupakan pengalaman yang pernah mereka rasakan secara langsung.

Ketika “30 Meter” Membuat Panik
Peristiwa 2007 juga meninggalkan pelajaran lain, kali ini bagi dunia jurnalistik.

Pernah beredar pemberitaan sebuah media lokal yang menyebut gelombang setinggi 30 meter menerjang wilayah pesisir Kilo.

Belakangan persoalannya ternyata terletak pada cara memahami informasi.

Angka 30 meter yang dimaksud bukanlah tinggi gelombang tsunami. Angka tersebut berkaitan dengan luasan atau jarak air yang meluap hingga ke daratan.

Perbedaan satu istilah saja mengubah arti berita secara drastis.

Air yang meluap hingga 30 meter ke daratan tentu berbeda dengan gelombang setinggi 30 meter.

Bagi masyarakat yang sedang panik setelah gempa, perbedaan tersebut bukan persoalan kecil. Berita yang keliru dapat memperbesar ketakutan dan bahkan mendorong kepanikan massal.

Peristiwa itu menjadi pelajaran bahwa dalam pemberitaan bencana, angka harus ditempatkan dalam konteks yang tepat. Tinggi gelombang, tinggi genangan, jarak inundasi, dan ketinggian run-up bukan istilah yang dapat dipertukarkan begitu saja.

Kilo Hari Ini
Pengalaman tersebut kembali relevan ketika gempa kuat terjadi pada Sabtu pagi.

Kali ini BPBD Dompu memilih melakukan langkah yang jauh lebih terukur: monitoring, koordinasi dan verifikasi informasi dari lapangan.

Kepala BPBD Dompu memastikan sampai saat ini belum ada laporan korban maupun kerusakan yang terkonfirmasi di wilayah Kabupaten Dompu.

Masyarakat pesisir, terutama di wilayah utara, tetap diminta mengikuti informasi resmi dan tidak mudah percaya terhadap kabar yang belum terverifikasi.

Bagi Kilo, mungkin ada satu pelajaran yang paling penting dari perjalanan panjang itu.

Gempa boleh membuat warga waspada. Tetapi informasi yang benar harus membuat warga tahu apa yang harus dilakukan—bukan membuat mereka panik.

Dan bagi pers, pengalaman “30 meter” seharusnya menjadi pengingat sederhana: dalam bencana, satu angka yang salah tempat dapat menghasilkan ketakutan yang benar-benar nyata. (DB01)