Soal Jagung, Abdurrahman Abdullah Akan Tanyakan Langsung Pada Menteri

109

Anjloknya harga jagung yang memicu reaksi masyarakat terutama di Kabupaten Dompu NTB mendapat perhatian serius anggota komisi VI DPR-RI DR bdurrahman Abdullah. Menurut anggota DPR Dapil NTB ini pemerintah perlu segera mencarikan solusi agar persoalan yang tengah dihadapi petani jagung dapat diselesaikan.

 

Dikatakanya harga jagung nasibnya kini sama dengan harga bawang merah, awalnya melambung tinggi tetapi kini jatuh ke level terrendah. Hal itu menurutnya disebabkan beberapa hal, tapi yang paling utama adalah masalah neraca kebutuhan jagung dibandingkan dengan ketersediaan produk. Selain itu, tak kalah pentingnya adalah karena adanya impor jagung yang dilakukan oleh para spekulan untuk menekan harga produk lokal. Dari segi neraca kebutuhan diakuinya kini bertepatan dengan panen raya jagung. Ketersediaan jagung di dalam negeri sangat banyak, bahkan melebihi kebutuhan.

Kebutuhan jagung dalam negeri, baik untuk pakan ternak maupun konsumsi masyarakat, hanya 10 juta ton per tahun. Sedangkan produksi nasional jagung nasional sebesar 12 juta ton. Ditambah adanya pasokan impor sebesar 3,4 juta ton. Artinya, pasokan yang ada saat ini sudah melebihi kebutuhan nasional. Terkait hal itu, lanjut anggota komisi yang membidangi ekonomi ini. kementerian perdagangan harus menutup kran impor jagung, karena dari segi produksi sudah mencukupi. Karena jangan sampai hanya segelintir orang yang diuntungkan karena impor jagung tetapi mengorbankan para petani yang jumlahnya sangat banyak.

Ia juga menambahkan bahwa anjloknya harga jagung ini sudah pasti menyengsarakan petani. Di daerah-daerah seperti Garut di Jawa Barat, dan Yogyakarta, harga jagung sudah turun hingga di bawah Rp 2.000 per kg. Padahal, pada Januari lalu, harga tersebut rata-rata di kisaran Rp 2.800 per kg. Hal yang sama terjadi juga di wilayah Dompu, NTB. Demonstrasi yang dilakukan pada Senin 20/03 kemarin merupakan reaksi atas anjloknya harga tersebut.

Perlu dibuat regulasi yang jelas yang dapat melindungi para petani kita. Pemerintah punya program resi gudang (gudang untuk menyimpan produk-produk pertanian,red) yang berfungsi untuk menjaga stabilitas harga. Harus diimplementasikan ke setiap daerah agar tidak terjadi lagi masalah serupa”, tambahnya. Abdurrahman juga tidak menyangkal bahwa mungkin ada spekulan yang juga bermain dalam pembentukan harga. Para spekulan ini sengaja mendatangkan produk impor agar dapat mengoreksi harga jagung lokal. “Kalu hal ini nanti akan kita tanyakan langsung ke menteri Perdagangan pada rapat di Komisi VI”, tegasnya.

Sementara di DPRD Dompu ternyata tidak tinggal diam dalam menyikapi harga jagung, lembaga legislative berencana untuk memanggil Bupati dan instansi tehnis lainya untuk mencari solusi yang tepat. Wakil ketua DPRD Dompu Iwan Kurniawan SE menyatakan hal itu digedung DPRD siang kemarin. ‘’Memang perlu ada solusi, nanti kita undang Bupati dan instansi tehnis lainya untuk membicarakan ini,’’ ujarnya.

Diakui Iwan soal harga jagung tidak hanya terjadi di Kabupaten Dompu tetapi terjadi secara nasional sebagai akibat dari serbuan impor jagung luar negeri terutama dari India. Masuknya jagung impor katanya telah memicu pergolakan harga didalam negeri. Kebijakan yang harus segera diambil oleh pemerintah daerah adalah bagaimana petani jagung bisa diselamatkan agar tidak terpuruk. Iwan juga telah melakukan pengecekan harga jagung diluar daerah, rata-rata berada dilevel Rp 2000 kebawah.

Komentar