Lensa NTB Diskusikan Masa Depan Program Jagung

0

DOMPU—Lembaga Study Kemanusiaan (LENSA) NTB kamis mendiskusikan khusus tentang masa depan program jagung di Kabupaten Dompu. Dasarnya spirit pemerintah daerah terhadap program itu sangat bagus dalam mendorong petani agar mengandalkan komoditas jagung sebagai jalan pintas menuju kepada kesejahteraan. Tetapi hambatanya adalah soal jaminan pasar yang membuat ciut motivasi petani untuk terus mengembangkan komoditas dimaksud.

Hadir dalam diskusi yang digelar di Hotel Rinjani itu pihak-pihak yang berkompoten seperti Dinas Pertanian Tanaman Pangan, Badan Ketahanan Pangan, pelaku usaha seperti investor, Satlak Pijar, Perusda, LSM dan Pers. Dari pemaparan yang disampaikan oleh tim LENSA awal program jagung digelontorkan mendapat respon yang luar biasa dari petani dengan hasil yang memuaskan baik dari cakupan areal tanaman maupun keuntungan yang diperoleh.

Tingginya animo masyarakat terhadap program jagung karena memang kondisi alam yang sangat mendukung bagi pertumbuhan komoditas dimaksud, disamping petani sendiri sudah sangat paham memperlakukan tanaman jagung karena sudah dilakukan secara turun temurun. Selain itu jaminan harga pasca panenya cukup memadai hingga tembus angka Rp 3 ribu perkg.

Tetapi ditahun 2012 gejolak mulai terjadi pada petani terkait dengan jaminan harga pasca panenya yang melorot jauh hingga pada harga Rp 1.300 sampai dengan Rp 1.600 perkg. Menurut Direktur LENSA NTB Akhdiansyah, SH.i kondisi itu tak boleh dibiarkan meski ada solusi yang ditawarkan terutama menyangkut jaminan pasar untuk mengembalikan kepercayaan diri bagi petani.

Pemerintah kata dia melalui perusahaan daerahnya hendaknya mampu memberikan keyakinan pada petani terkait dengan jaminan pasar pasca panen. Caranya disaat harga sedang anjlok maka pemerintah segera melakukan intervensi untuk menstabilkan. Tetapi Yongki juga paham dengan kondisi keuangan yang dimiliki daerah yang sangat terbatas.

Dari perhitungan yang dilakukan total anggaran yang dibutuhkan dikalikan dengan jumlah produksi mencapai Rp 600 miliyar, padahal pemerintah melalui Perusda hanya menggelontorkan anggaran sebesar Rp 2 miliyar. ‘’Benar-benar sangat terbatas,’’ terangnya.

Pelaku usaha Direktur PT Segar Graha Nusantara Rudi Santoso dalam kesempatan yang sama menyampaikan sebenarnya soal harga tergantung sungguh kondisi global. Kalau harga pasaran dunia tentang harga komoditas jagung tinggi maka sudah bisa dijamin harga dalam negeripun ikut menanjak. Tetapi menurut pengusaha asal Pulau Jawa ini petani tidak perlu berpikir tentang harga, karena tugas petani adalah menanam dan memproduksi jagung sebanyak-banyaknya. ‘’Sebagai pengusaha kami siap membeli, berapapun yang ada,’’ tandasnya.

Petani kata dia harus fokus bagaimana meningkatkan produksi jagung, diakuinya petani bisa rugi karena tidak fokus dan dikerjakan asal-asalan sehingga produksinya minimum. Tetapi kalau dikerjakan secara fokus seperti bisa menghasilkan 10 ton perhektar maka petani tetap mendapatkan untung. ‘’Yang terbaik petani fokus dan tingkatkan produksinya,’’ tambahnya.

Pejabat Dinas Pertanian Ir Ye Ali dan Badan Ketahanan Pangan Ir Manan lebih fokus terhadap tehnis pelaksanaan program jagung. Bagi pejabat ini, program jagung adalah sebuah program yang brilian dan diyakini mampu mengantarkan petani kearah kesejahteraan. Bahkan menurut mereka program jagung yang digelontorkan oleh Pemkab Dompu telah menjadi ikon di NTB serta telah mendapat perhatian sejumlah daerah di Indonesia. ‘’Buktinya sudah ada daerah lain yang datang studi banding ke Kabupaten Dompu tentang jagung,’’ katanya.

Sedangkan dari Perusda Drs Abdul Haris mengakui kalau pihaknya telah melakukan intervensi disaat harga jagung anjlok sehingga bisa stabil. Soal anjloknya harga jagung selain dipengaruhi oleh pasar global juga dipengaruhi oleh iklim yang tak menentu seperti pada musim panen terjadi hujan secara terus menerus yang mengakibatkan kadar airnya menjadi tinggi.

Hal lain adalah menyangkut kedisplinan petani yang tidak mampu menunggu jagung benar-benar siap panen dan cenderung memanen sebelum waktunya. Akibatnya kata Haris tentu kwalitas jagung menjadi rendah. Sedangkan salah seorang petani jagung asal Desa So Nggaja yang menjadi salah satu sentra jagung mengemukakan kesulitan yang dihadapi petani adalah menyangkut modal. Ironisnya petani terpaksa meminjam kepada tengkulak sehingga pada saat menjual mengalami ketergantungan dengan sipemilik uang. ‘’Disamping juga adanya serangan hama babi dan hama monyet,’’ ulasnya.

Komentar