Orang mengira semifinal Piala Dunia hanya soal menang atau kalah.
Bukan.
Semifinal adalah soal siapa yang masih pantas bermimpi.
Oleh : Abdul Muis
Argentina masih membawa mimpi itu. Inggris juga.
Saya justru teringat Diego Maradona.
Bukan karena “Hand of God”.
Melainkan karena satu kalimatnya: “Di Piala Dunia, pemain hebat tidak cukup. Yang dibutuhkan adalah pemain yang berani.”
Kini, empat puluh tahun setelah gol paling kontroversial dalam sejarah sepak bola itu, Argentina kembali bertemu Inggris.
Musuh lamanya.
Musuh yang selalu membuat pertandingan menjadi lebih besar daripada sepak bola itu sendiri.
Messi tahu itu.
Harry Kane juga tahu.
Tetapi justru pemain yang mungkin menentukan pertandingan ini bukan keduanya.
Messi akan selalu dijaga dua, bahkan tiga pemain. Kane pun demikian.
Pertandingan besar justru sering dimenangkan oleh pemain yang tidak terlalu banyak dibicarakan.
Enam Negara, Satu Trofi: Siapa Paling Layak Menjadi Juara Piala Dunia 2026?
Di Argentina, mata saya tertuju kepada Enzo Fernández.
Ia bukan pemain yang paling sering masuk berita.
Namun ia adalah jantung permainan Argentina.
Semua serangan hampir selalu melewati kakinya.
Ketika Enzo mendapat ruang, Messi menjadi lebih berbahaya.
Ketika Enzo dimatikan, Argentina kehilangan irama.
Di sisi Inggris, pemain yang paling menentukan justru Jude Bellingham.
Usianya masih muda.
Tetapi permainannya seperti pemain berumur tiga puluh tahun.
Ia bisa bertahan.
Ia bisa menyerang.
Ia juga bisa muncul tiba-tiba di kotak penalti tanpa diketahui lawan.
Kalau Messi adalah otak Argentina, maka Bellingham adalah mesin Inggris.
Lalu ada satu duel yang menurut saya paling menarik.
Declan Rice melawan Lionel Messi.
Bukan duel satu lawan satu.
Melainkan duel membaca ruang.
Rice harus memutus jalur umpan sebelum bola sampai kepada Messi.
Kalau gagal…
Messi hanya membutuhkan satu sentuhan.
Satu umpan.
Atau satu tendangan bebas.
Selesai.
Sebaliknya Argentina juga harus menghentikan Harry Kane.
Jangan biarkan Kane berdiri menghadap gawang.
Penyerang seperti Kane tidak memerlukan banyak peluang.
Satu peluang sering kali cukup.
Karena itu saya tidak yakin pertandingan ini akan dihujani banyak gol.
Ini akan menjadi pertandingan catur.
Siapa lebih sabar.
Siapa lebih disiplin.
Siapa lebih tenang.
Dan siapa yang lebih sedikit melakukan kesalahan.
Saya masih sedikit memihak Argentina.
Bukan karena Messi.
Tetapi karena Argentina sudah berkali-kali membuktikan mampu bertahan dalam tekanan sebesar apa pun. Mental juara itu masih melekat pada mereka. Inggris memiliki tenaga yang lebih muda dan permainan yang lebih cepat, tetapi pengalaman Argentina di laga-laga penentuan bisa menjadi pembeda.
Prediksi saya sederhana.
Messi mungkin tidak mencetak gol.
Tetapi ia akan menciptakan gol.
Dan itulah yang membuat Argentina selangkah lebih dekat ke final. (*)






