MATARAM — Berpikir presisi di bawah tekanan waktu yang ekstrem adalah keahlian yang tidak dimiliki semua orang. Namun, bagi Master Percasi (MP) Ardiansyah, durasi tiga menit di hadapan papan catur justru menjadi panggung pertunjukan kehebatannya.
Pria asal Desa Matua, Kecamatan Woja ini baru saja menasbihkan diri sebagai “Raja Pikir Tercepat” setelah sukses menyabet medali emas pertama untuk kontingen Kabupaten Dompu pada ajang Porprov XII NTB 2026.
Di kalangan komunitas catur Bumi Nggahi Rawi Pahu, Ardiansyah lebih akrab disapa dengan nama panggung “Candri”. Di balik pembawaannya yang tenang dan bersahaja, ia adalah salah satu kiblat taktik catur terbaik yang dimiliki oleh Kabupaten Dompu saat ini.
Menjinakkan Waktu dalam Tiga Menit
Menonton Ardiansyah bertanding di nomor Catur Kilat Perorangan Putra adalah sebuah pertunjukan seni mental yang menegangkan. Dalam nomor ini, setiap pemain hanya dibekali waktu berpikir selama 3 menit. Di sinilah predikat “Raja Pikir Tercepat” itu dibuktikan.
Ketika pecatur lain mulai panik saat jarum jam mendekati angka nol, Ardiansyah justru menunjukkan ketenangan luar biasa. Sinkronisasi antara kalkulasi otak yang super cepat dan kecepatan refleks tangannya melahirkan langkah-langkah presisi yang mematikan bagi lawan.
Melewati pertarungan sengit sepanjang tujuh babak melawan perwakilan terbaik dari 9 kabupaten/kota lain se-NTB, pria asal Woja ini sukses bertengger di puncak klasemen akhir dengan raihan 5,5 poin. Emas perdana yang sangat krusial bagi moral kontingen Dompu pun berhasil ia dekap.
Ardiansyah Raih Emas Catur Kilat, Pelatih Optimistis Tambah Emas di Catur Cepat dan Klasik
Sisi Lain Sang Maestro, Abdi Negara yang Disiplin
Satu hal yang membuat profil Ardiansyah semakin menarik adalah kehidupan gandanya. Di luar arena tanding, ia adalah seorang abdi negara yang mengabdi sebagai Staf Kesekretariatan di Kantor Inspektorat Kabupaten Dompu.
Kesehariannya yang berkutat dengan kedisiplinan dan ketelitian di kantor tampaknya linear dengan karakternya di atas papan catur: penuh perhitungan, analitis, dan tidak mudah goyah di bawah tekanan kerja maupun pertandingan. Catur bukan sekadar hobi pengisi waktu luang baginya, melainkan ruang di mana mentalitas juaranya ditempa.
Konsistensi yang Merawat Tradisi Emas
Pencapaian luar biasa di tahun 2026 ini bukanlah sebuah kebetulan, melainkan buah dari konsistensi panjang. Jauh sebelum ini, nama Ardiansyah sudah harum saat ia menyabet medali emas di Porprov NTB 2018 ketika usianya masih jauh lebih muda.
Performa gemilang tersebut bahkan mengantarkannya memperkuat kontingen Nusa Tenggara Barat pada Pekan Olahraga Nasional (PON) XX Papua, sebuah pencapaian yang hanya diraih atlet-atlet terbaik di daerahnya.
Melalui bidak-bidak caturnya, Master Ardiansyah tidak hanya sedang mengejar medali. Ia sedang menulis warisan bagi generasi muda Dompu, menunjukkan bahwa dari sebuah daerah kecil seorang anak mampu menguasai olah raga pikir dan membawanya menembus panggung tertinggi nasional saat dipercaya memperkuat kontingen NTB pada ajang PON XX di Papua.
Meski sudah menyumbangkan emas perdana yang berharga, petualangan Sang Raja Pikir Tercepat belum usai. Dengan sisa kompetisi yang masih berjalan, ia langsung mengalihkan fokusnya ke nomor pertandingan berikutnya, yaitu Catur Cepat (Rapid Chess) dan Catur Klasik (Standard Chess). berpikir cepat dan menaklukkan panggung olahraga tertinggi di Nusa Tenggara Barat. (DB01)













