DOMPUBICARA – Cabang olahraga (cabor) sepak bola dipastikan tidak akan ambil bagian pada Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) NTB 2026 yang dijadwalkan berlangsung Juli mendatang.
Ketua KONI Dompu, Asrullah, ST, menjelaskan keputusan tersebut diambil setelah mempertimbangkan keterbatasan anggaran serta peluang prestasi yang dinilai belum meyakinkan.
“Tim sepak bola membutuhkan biaya yang cukup besar karena jumlah personelnya mencapai sedikitnya 28 orang. Di tengah keterbatasan anggaran, kami harus menentukan skala prioritas,” ujar Asrullah.
Selain faktor pembiayaan, KONI juga menilai Asosiasi Kabupaten (Askab) PSSI Dompu belum menunjukkan keseriusan dalam mempersiapkan tim menghadapi Porprov.
“Kami sudah berulang kali mengundang PSSI untuk mengikuti klinis atau pembahasan teknis, tetapi tidak pernah hadir. Karena itu kami menilai PSSI kurang serius dalam mempersiapkan keikutsertaan sepak bola di Porprov,” katanya.
Orang Miskin Bekerja untuk Uang, Orang Kaya Buat Uang Bekerja untuk Mereka? (4)
Menurut Asrullah, kondisi anggaran KONI tahun ini jauh berbeda dibanding penyelenggaraan Porprov sebelumnya. Jika pada Porprov sebelumnya KONI Dompu menerima alokasi sekitar Rp6,3 miliar, maka pada tahun 2026 anggaran yang tersedia hanya sekitar Rp2,9 miliar.
Dari jumlah tersebut, kata dia, masih harus digunakan untuk membiayai operasional organisasi dan program Pemusatan Latihan Daerah (Pelatda) bagi atlet yang dipersiapkan menuju Porprov. Setelah dikurangi berbagai kebutuhan tersebut, dana yang dapat dialokasikan untuk pemberangkatan kontingen tersisa sekitar Rp2,1 miliar.
“Kami harus membagi anggaran kepada banyak cabang olahraga. Karena itu setiap keputusan harus mempertimbangkan efisiensi anggaran sekaligus peluang meraih medali,” jelasnya.
Asrullah mengungkapkan, KONI sebenarnya telah menawarkan jalan tengah agar biaya keberangkatan tim sepak bola ditanggung bersama antara KONI dan PSSI.
“Solusi yang kami tawarkan adalah sharing anggaran, setengah ditanggung KONI dan setengah lagi oleh PSSI. Namun PSSI menyampaikan tidak sanggup memenuhi skema tersebut,” ungkapnya.
Menurutnya, PSSI juga belum berhasil memperoleh dukungan sponsor untuk membantu pembiayaan tim sepak bola. Kondisi itu berbeda dengan tim futsal putri yang berhasil menggandeng sponsor sehingga beban pembiayaan dapat terbantu.
Dengan berbagai pertimbangan tersebut, cabang olahraga sepak bola akhirnya tidak masuk dalam daftar kontingen Dompu yang akan diberangkatkan ke Porprov NTB 2026.
Hingga berita ini diturunkan, pihak Askab PSSI Dompu belum memberikan keterangan resmi terkait penjelasan KONI tersebut.
Menjawab pertanyaan mengenai target prestasi, Ketua KONI Dompu Asrullah, ST, optimistis kontingen Dompu setidaknya mampu mempertahankan capaian pada Porprov sebelumnya.
“Kami menargetkan minimal bisa mempertahankan perolehan sekitar 40 medali emas seperti pada Porprov yang lalu,” ujarnya.
Asrullah menyebutkan, sejumlah cabang olahraga diproyeksikan menjadi lumbung medali bagi Kabupaten Dompu. Di antaranya cabang olahraga bela diri, selancar, panjat tebing, menembak, sepatu roda, dan e-sport yang selama ini menunjukkan perkembangan cukup menjanjikan.
Pada Porprov NTB 2026, sebanyak 51 cabang olahraga akan dipertandingkan. Namun, karena keterbatasan anggaran dan ketersediaan atlet, KONI Dompu hanya mampu mengirim kontingen pada 40 cabang olahraga.
KOLOM PEMIKIRAN : Berhenti Menjual Waktu
“Sisanya bukan semata-mata karena persoalan anggaran. Ada beberapa cabang yang memang belum memiliki atlet yang siap bertanding, seperti paralayang, terjun payung, dan beberapa cabang olahraga lainnya,” jelasnya.
Meski tidak mengikuti seluruh cabang olahraga yang dipertandingkan, KONI Dompu berharap pada cabang-cabang yang memiliki peluang besar meraih prestasi dapat memberikan hasil optimal dan menjaga posisi Dompu sebagai salah satu daerah berprestasi pada ajang Porprov NTB 2026. (*)







