Cara Pikir Pecatur Dalam Membaca Peristiwa

Foto Abdul Muis di Papan Catur

Bagi saya, catur tidak pernah sekadar permainan. Ia adalah sekolah berpikir yang mengajarkan kesabaran, logika, keberanian mengambil keputusan, sekaligus kerendahan hati untuk menerima kekalahan.

Oleh: Abdul Muis-Dompubicara

Dua medali emas catur yang saya raih pada Pekan Olahraga Wartawan Nasional 2010 dan Pekan Olahraga Wartawan Nasional 2014 mungkin hanya catatan kecil dalam perjalanan panjang sebagai wartawan. Namun, pengalaman di atas papan catur itu justru membentuk cara saya membaca berbagai persoalan hukum, pemerintahan, ekonomi, dan kebijakan publik hingga hari ini.

Semakin lama saya menulis, semakin saya percaya bahwa kehidupan publik sesungguhnya tidak jauh berbeda dengan sebuah pertandingan catur.

Semuanya dimulai dari opening.

Dalam catur, pembukaan menentukan arah permainan. Kesalahan kecil pada langkah-langkah awal sering kali baru menampakkan akibatnya puluhan langkah kemudian. Seorang pecatur yang baik tidak hanya memikirkan langkah pertama, tetapi juga posisi yang ingin dibangun pada middle game dan endgame.

Begitu pula dalam pemerintahan.

Kebijakan fiskal hari ini adalah opening bagi kondisi ekonomi lima atau sepuluh tahun mendatang. Rekrutmen pegawai, pembangunan infrastruktur, pengelolaan sumber daya alam, bahkan cara memilih prioritas anggaran merupakan langkah-langkah awal yang menentukan masa depan sebuah daerah.

Tidak ada krisis yang lahir secara tiba-tiba.

Sebagaimana dalam catur, posisi sulit hari ini sering kali merupakan akumulasi dari langkah-langkah yang diambil jauh sebelumnya.

Setelah pembukaan, pertandingan memasuki middle game—fase paling rumit sekaligus paling menentukan.

Sewa Mobil Listrik NTB, Antara Diskresi dan Kriminalisasi Kebijakan

Di sinilah seorang pemain diuji.

Ia harus membaca ancaman, menghitung variasi, memahami motif lawan, dan memilih strategi terbaik di tengah keterbatasan waktu. Kesalahan satu langkah dapat mengubah posisi unggul menjadi kekalahan.

Bukankah dunia hukum dan politik bekerja dengan cara yang sama?

Ketika sebuah kasus korupsi mencuat, misalnya, publik sering hanya melihat langkah terakhir: penetapan tersangka, penahanan, atau putusan pengadilan. Padahal, seorang analis harus menelusuri keseluruhan permainan. Siapa aktornya, bagaimana kebijakan itu lahir, kepentingan apa yang bergerak, dan kesalahan strategis apa yang dilakukan sebelumnya.

Seorang pecatur memahami bahwa bidak yang bergerak hanyalah gejala. Yang lebih penting adalah gagasan di balik pergerakan itu.

Ada pula pelajaran tentang gambit.

Dalam catur, seorang pemain terkadang rela mengorbankan satu bidak demi memperoleh posisi yang lebih kuat. Pengorbanan jangka pendek dilakukan untuk kemenangan yang lebih besar.

Pemimpin yang visioner pun sering menghadapi pilihan serupa. Tidak semua keputusan yang benar akan populer. Ada kalanya keuntungan politik sesaat harus dikorbankan demi kepentingan masyarakat dalam jangka panjang.

Sayangnya, kehidupan publik modern sering kali terjebak pada kemenangan instan.

Kita ingin hasil cepat, popularitas cepat, dan pujian cepat. Padahal, seperti dalam catur, kemenangan yang paling kokoh dibangun melalui kesabaran dan konsistensi langkah.

Pelajaran lain yang sangat berharga adalah zugzwang.

Dalam istilah catur, zugzwang adalah keadaan ketika setiap langkah yang tersedia justru memperburuk posisi pemain. Ia dipaksa bergerak, padahal diam mungkin lebih menguntungkan.

Tidakkah kita sering menyaksikan kondisi serupa dalam pemerintahan?

Tekanan publik, tuntutan politik, dan opini media sosial kadang memaksa pengambil kebijakan bertindak tergesa-gesa. Keputusan diambil bukan karena pertimbangan yang matang, melainkan karena takut dianggap tidak melakukan apa-apa.

Padahal, tidak semua persoalan harus dijawab dengan gerakan cepat. Ada saat ketika menunggu, mengumpulkan data, dan berpikir lebih jernih justru merupakan langkah terbaik.

Catur mengajarkan bahwa kesabaran adalah bagian dari strategi.

Yang tak kalah penting adalah kemampuan membedakan ancaman nyata dan ancaman semu.

Pemain pemula sering panik melihat serangan lawan yang sebenarnya tidak berbahaya. Mereka meninggalkan rencana utama, kehilangan konsentrasi, lalu kalah oleh ketakutan mereka sendiri.

Fenomena serupa juga terjadi dalam ruang publik.

Isu berganti setiap hari. Opini datang silih berganti. Namun, seorang wartawan dan analis tidak boleh larut dalam kegaduhan sesaat. Ia harus tetap fokus pada substansi, memisahkan fakta dari persepsi, serta melihat persoalan secara utuh.

Karena itu, saya percaya bahwa catur sesungguhnya bukan olahraga tentang bidak. Ia adalah latihan berpikir yang paling jujur.

Di atas papan catur tidak ada tempat untuk menyalahkan orang lain. Kekalahan adalah hasil dari langkah yang keliru. Kemenangan adalah buah dari perencanaan, ketekunan, dan kemampuan membaca situasi.

Pada akhirnya, setiap peristiwa publik juga memiliki endgame-nya sendiri.

Ada kebijakan yang berakhir dengan keberhasilan. Ada pula yang berujung pada penyesalan. Tetapi satu pelajaran tetap berlaku: masa depan ditentukan bukan oleh satu langkah besar, melainkan oleh rangkaian keputusan kecil yang diambil dengan kesadaran penuh.

Mungkin itulah mengapa saya masih mencintai catur sekaligus dunia jurnalistik.

Bidaknya memang berbeda. Arenanya pun tidak sama. Namun, keduanya menuntut kemampuan yang serupa: berpikir tenang, membaca beberapa langkah ke depan, dan berani mengambil keputusan berdasarkan logika, bukan emosi.

Sebab, baik di atas papan catur maupun dalam kehidupan berbangsa, kemenangan sejati bukanlah mengalahkan lawan, melainkan kemampuan memahami permainan sebelum orang lain menyadarinya. (*)