KOLOM PEMIKIRAN : Mengapa Gaji Tidak Pernah Membuat Seseorang Kaya?(3)

Apakah Gaji Benar-Benar Mampu Membuat Seseorang Menjadi Kaya?

Pada dua tulisan sebelumnya saya mengajak pembaca melihat kehidupan dari sudut pandang yang berbeda.

Oleh: Abdul Muis-Dompubicara

Pertama, bahwa banyak di antara kita tanpa sadar sedang menjual waktu.

Kedua, bahwa kehidupan sering kali hanya berputar dalam siklus yang sama karena seluruh penghasilan habis untuk memenuhi kebutuhan hari ini.

Hari ini saya ingin mengajak pembaca merenungkan satu pertanyaan lagi.

Apakah gaji benar-benar mampu membuat seseorang kaya?

Pertanyaan ini mungkin terasa aneh. Bukankah setiap orang bekerja untuk memperoleh gaji? Bukankah semakin besar gaji, semakin baik kehidupan seseorang?

KOLOM PEMIKIRAN : Berhenti Menjual Waktu

Dalam batas tertentu, jawabannya memang benar. Gaji mampu meningkatkan kualitas hidup. Gaji memberi rasa aman. Gaji memungkinkan seseorang menyekolahkan anak, membeli rumah, dan memenuhi kebutuhan keluarga.

Namun ada satu hal yang sering luput kita sadari. Gaji adalah penghasilan. Gaji bukan kekayaan. Mengapa saya mengatakan demikian? Karena gaji hanya mengalir selama seseorang masih bekerja.

Ketika pekerjaan berhenti karena pensiun, sakit, atau sebab lainnya, gaji pun ikut berhenti. Di sinilah saya melihat perbedaan besar antara penghasilan dan kekayaan.

Penghasilan adalah apa yang kita terima hari ini. Sedangkan kekayaan adalah sesuatu yang tetap memberi manfaat ketika penghasilan aktif mulai berkurang.

Saya sering melihat orang yang penghasilannya terus meningkat. Tetapi pada saat yang sama, pengeluarannya meningkat lebih cepat. Rumah bertambah besar. Mobil semakin mahal. Gaya hidup ikut naik.

Akhirnya, kenaikan gaji tidak pernah benar-benar mengubah masa depan.  Ia hanya mengubah cara seseorang membelanjakan uangnya. Padahal setiap kenaikan penghasilan seharusnya diikuti satu pertanyaan penting.

Apa yang saya bangun dari kenaikan penghasilan ini? Apakah saya sedang membangun aset? Apakah saya sedang membangun usaha? Apakah saya sedang membangun kemampuan baru? Ataukah seluruhnya habis untuk memenuhi gaya hidup yang semakin tinggi?

Saya lahir dari keluarga pedagang bakulan. Orang tua saya tidak pernah menerima gaji bulanan. Namun mereka mengajarkan satu pelajaran yang baru saya pahami setelah dewasa.

Mereka selalu memisahkan uang untuk diputar kembali. Bukan karena jumlahnya besar. Tetapi karena mereka tahu bahwa kehidupan tidak boleh berhenti pada hari ini.

Kini saya semakin yakin. Persoalan terbesar masyarakat kita bukan semata-mata kecilnya penghasilan. Persoalannya adalah bahwa kita sering menganggap penghasilan sebagai tujuan.

Padahal penghasilan hanyalah alat. Tujuan sesungguhnya adalah membangun kehidupan yang tetap kokoh ketika suatu hari penghasilan aktif mulai berhenti.

KOLOM PEMIKIRAN : Mengapa Kita Terus Mengulang Hidup yang Sama? (2)

Karena itu, saya tidak lagi bertanya kepada diri sendiri, “Berapa besar penghasilan saya bulan ini?” Saya lebih memilih bertanya, “Apa yang tetap saya miliki jika besok penghasilan itu berhenti?”

Menurut saya, jawaban atas pertanyaan itulah yang menentukan apakah seseorang sedang membangun kekayaan atau sekadar membelanjakan penghasilannya.

Sebab pada akhirnya…gaji dapat membuat kita hidup lebih nyaman.  Tetapi…hanya aset, sistem, dan cara berpikir yang mampu membuat kehidupan tetap bertahan.

Masa depan tidak ditentukan oleh berapa banyak yang kita hasilkan hari ini, tetapi oleh apa yang kita bangun dari hasil kerja hari ini. (*/Bersambung)