Bandara selalu memiliki cerita. Di sana orang datang dengan tujuan yang berbeda. Ada yang pulang ke kampung halaman, ada yang mengejar pendidikan, ada yang berangkat bekerja, ada pula yang sekadar berlibur.
Oleh: Abdul Muis
Saya termasuk kelompok terakhir yang berbeda. Saya datang bukan untuk berwisata, tetapi untuk bekerja. Memburu fakta, menemui narasumber, menyaksikan sebuah peristiwa, lalu mengubahnya menjadi informasi yang layak diketahui publik.
Sudah lebih dari tiga dekade saya menjalani kehidupan seperti itu.
Menjadi wartawan ternyata tidak pernah sekadar menulis berita. Profesi ini menjadikan saya seorang pengembara. Dari ruang rapat pemerintah hingga jalanan desa, dari ruang sidang pengadilan hingga lereng gunung, dari pesisir pantai hingga bandara yang mempertemukan berbagai cerita manusia.
Perjalanan demi perjalanan mengajarkan satu hal: dunia jauh lebih luas daripada yang terlihat di halaman pertama sebuah koran.
Ketika pertama kali menjadi wartawan pada awal 1990-an, pekerjaan ini masih sangat mengandalkan tenaga dan kesabaran. Kamera yang kami gunakan masih memakai film. Setiap jepretan harus diperhitungkan karena jumlahnya terbatas. Tidak ada layar untuk memastikan hasil foto sudah baik atau belum. Kalau salah mengambil gambar, kami baru mengetahuinya setelah film dicuci.
Menulis berita pun bukan pekerjaan yang sederhana. Mesin tik masih menjadi teman sehari-hari. Koreksi berarti mengulang dari awal atau menggunakan cairan penghapus yang sering kali membuat naskah terlihat berantakan. Mengirim berita membutuhkan waktu, tenaga, dan kadang juga keberuntungan.
Namun justru dari keterbatasan itulah kami belajar menghargai proses.
Kami belajar mendengar lebih banyak daripada berbicara. Belajar memeriksa fakta sebelum menyimpulkan. Belajar bahwa kepercayaan publik dibangun bukan oleh kecepatan semata, melainkan oleh ketelitian.
Hari ini semuanya berubah.
Kamera digital mampu menghasilkan ribuan gambar dalam satu liputan. Telepon genggam dapat merekam video, mengambil foto, sekaligus mengirim berita dalam hitungan detik. Ruang redaksi tidak lagi dibatasi dinding kantor. Bahkan kecerdasan buatan kini membantu menyusun data, merapikan bahasa, menerjemahkan dokumen, hingga memberikan berbagai sudut pandang yang mungkin terlewat oleh manusia.
Saya pun memilih untuk belajar.
Pada usia yang tidak lagi muda, saya justru menemukan semangat baru ketika mengenal AI. Bagi saya, teknologi bukan ancaman bagi wartawan. Ia hanyalah alat. Seperti kamera analog yang dahulu digantikan kamera digital, AI hanyalah fase berikutnya dalam perjalanan panjang dunia jurnalistik.
Yang tidak boleh berubah adalah manusianya.
AI dapat membantu menulis lebih cepat, tetapi ia tidak bisa menggantikan kejujuran seorang wartawan ketika menyaksikan sebuah peristiwa. AI mampu menyusun kalimat yang rapi, tetapi ia tidak dapat menggantikan keberanian bertanya kepada narasumber yang enggan berbicara. AI bisa mengolah data dalam jumlah besar, tetapi ia tidak dapat menggantikan hati nurani ketika memutuskan apakah sebuah informasi layak dipublikasikan atau justru harus ditahan demi kepentingan yang lebih besar.
Di situlah wartawan tetap dibutuhkan.
Semakin lama menjalani profesi ini, saya semakin percaya bahwa wartawan sejatinya adalah seorang pengembara. Bukan sekadar berpindah kota, tetapi mengembara mencari makna di balik setiap peristiwa. Setiap perjalanan mempertemukan kita dengan wajah-wajah baru, pemikiran baru, dan pelajaran yang tak pernah selesai.
Mungkin suatu hari nanti kamera akan semakin canggih. AI akan semakin pintar. Cara orang membaca berita pun akan terus berubah.
Namun selama masih ada manusia yang membutuhkan kebenaran, selama masyarakat masih membutuhkan informasi yang dapat dipercaya, perjalanan seorang wartawan tidak akan pernah benar-benar berakhir.
Sebab menjadi wartawan bukan hanya soal profesi.
Ia adalah cara menjalani kehiidupan.
“Catatan Pengembara” bukan sekadar kisah perjalanan, tetapi rekaman pengalaman seorang wartawan yang menyaksikan perubahan zaman—dari kamera analog hingga kecerdasan buatan, dari lembar koran hingga layar digital, dari fakta yang ditemukan di lapangan hingga makna yang dibawa pulang untuk pembaca. (Penulis adalah mantan wartawan SUARA NUSA. LOMBOK POS (JPNN)




