Siapa yang tidak tahu gaya Hotman Paris Hutapea? Pengacara kondang ini kembali jadi buah bibir netizen setelah video konfrontasinya dengan wartawan viral. Kalimat ketus seperti “Lu punya otak tidak?” langsung memicu perdebatan panas. Ada netizen yang mendukung karena menganggap Hotman tegas, tapi banyak juga yang geleng-geleng kepala karena dinilai terlalu arogan kepada pekerja media.
Ketegangan antara Hotman Paris dan wartawan di lapangan sebenarnya bukan hal baru. Namun, insiden ini memperlihatkan satu masalah besar yang sering terjadi antara tokoh penting dan pemburu berita. Banyak tokoh publik merasa tersinggung dan menganggap wartawan “tidak paham masalah” saat mengajukan pertanyaan mendasar atau menyudutkan.
Padahal, wartawan bertanya bukan karena mereka bodoh. Ada aturan main profesional yang sedang mereka jalankan, yaitu konfirmasi dan verifikasi.
Wartawan Bertanya Bukan Karena Tak Tahu, Tapi Butuh Jawaban Resmi
Dalam dunia jurnalistik, ada perbedaan besar antara “tahu secara pribadi” dan “menulis berita”. Seorang wartawan senior bisa saja sudah tahu dokumen kasusnya dari A sampai Z. Namun, dalam aturan pers, tahu saja tidak cukup. Informasi itu baru sah menjadi berita jika sudah keluar langsung dari mulut tokoh yang bersangkutan (on the record).
Bagi pers, kebenaran sejati adalah kebenaran yang punya otoritas. Ketika jurnalis bertanya kepada Hotman Paris mengenai suatu kasus—bahkan untuk hal yang tampaknya sudah jelas—mereka sedang menjalankan tugas berat: mencari pernyataan resmi yang bisa dipertanggungjawabkan secara hukum. Jadi, pertanyaan itu diajukan demi pembaca dan masyarakat, bukan karena urusan pribadi si wartawan.
Menyerang Wartawan Sama Saja Menolak Hak Jawab
Banyak narasumber yang merasa “dijebak” oleh pertanyaan pers. Padahal, di dalam Kode Etik Jurnalistik, pertanyaan kritis dari wartawan justru adalah karpet merah bernama hak jawab.
Bayangkan jika media langsung menulis berita miring tentang seorang tokoh hanya berdasarkan kabar burung, tanpa bertanya lagi kepada yang bersangkutan. Itu namanya penghakiman sepihak oleh pers (trial by press).
Oleh karena itu, fungsi konfirmasi di lapangan sebenarnya melindungi dua pihak sekaligus. bagi wartawan memastikan berita itu akurat, bukan gosip atau hoaks.
Izin Presiden Itu Pasal Berapa, Bang Hotman?
Bagi tokoh publik memberi kesempatan emas untuk membela diri, meluruskan gosip, dan bicara langsung kepada publik.
Seorang narasumber punya hak penuh untuk menolak menjawab atau mengkritik pertanyaan yang tidak bermutu. Namun, ketika respons yang keluar adalah makian atau serangan yang merendahkan pribadi (ad hominem), di situlah blunder komunikasi publik terjadi.
Masyarakat tentu menaruh harapan tinggi pada tokoh hukum senior sekelas Hotman Paris. Seorang intelektual biasanya diukur dari bagaimana ia mengendalikan komunikasi di ruang publik. Menggunakan kata-kata kasar di depan kamera justru sering kali membuat substansi masalah yang sedang dibela menjadi kabur dan tenggelam oleh drama makian.
Wartawan lapangan yang profesional tidak akan mundur hanya karena disemprot dengan kalimat pedas. Mereka akan tetap menyodorkan mikrofon demi mengejar akurasi. Karena bagi dunia pers, kutipan langsung dari narasumber adalah mahkota dari kebenaran sebuah berita—dan itulah tugas pers menjadi jembatan informasi bagi masyarakat yang menuntut keterbukaan. (Redaksi)







