Ada hal aneh ketika seseorang kembali ke rumah masa kecilnya. Pintunya masih di situ. Jendelanya masih sama. Terasnya mungkin masih menyimpan bekas-bekas yang dulu begitu akrab. Tetapi entah kenapa, rumah itu terasa lebih kecil.
Dulu halaman itu terasa luas sekali. Untuk berlari, bermain, bersembunyi, bahkan kadang bertengkar dengan teman. Sekarang, setelah dewasa, halaman yang dulu terasa seperti lapangan itu mungkin hanya beberapa langkah panjangnya.
Kamar yang dahulu terasa besar, kini seperti ruangan yang cepat sekali penuh. Lorong yang dulu terasa panjang, sekarang bisa dilewati dalam beberapa detik.
Lalu kita mulai bertanya, Sebenarnya rumah itu yang mengecil, atau kita yang membesar? Tentu saja rumahnya tidak berubah sebanyak yang kita bayangkan.
Yang berubah adalah kita.
Ketika masih kecil, tubuh kita lebih kecil, sehingga sebuah ruangan memang terasa lebih luas. Tetapi bukan hanya soal ukuran tubuh.
Dunia kita juga jauh lebih kecil.
Jarak dari kamar ke dapur bisa terasa seperti perjalanan. Halaman depan adalah wilayah petualangan. Gang di depan rumah seperti jalan menuju dunia yang belum diketahui.
Kita belum memiliki terlalu banyak tempat untuk dibandingkan.
Maka satu rumah bisa menjadi seluruh dunia.
Di sanalah kita belajar berjalan, jatuh, menangis, dimarahi, tertawa, bersembunyi ketika takut dan pulang ketika hari mulai gelap.
Karena itu, yang kita rindukan sebenarnya mungkin bukan bangunan itu.
Kita merindukan ukuran dunia ketika dunia masih sederhana.
Ada alasan lain mengapa rumah masa kecil sering tampak jauh lebih besar dalam ingatan.
Ingatan manusia tidak menyimpan tempat seperti kamera.
Ia menyimpan pengalaman.
Sebuah sudut ruang bisa menjadi besar dalam ingatan karena di sana pernah terjadi sesuatu yang penting.
Bekas pohon tempat memanjat bisa terasa seperti monumen.
Tangga tempat pernah jatuh bisa tetap terasa tinggi.
Dapur bisa mengingatkan pada suara ibu.
Ruang tamu bisa membawa kembali suara orang-orang yang sekarang sudah tidak pernah berkumpul lagi.
Dan tiba-tiba sebuah rumah yang secara fisik biasa saja berubah menjadi tempat yang luar biasa besar di kepala kita.
Bukan karena luas bangunannya.
Melainkan karena banyaknya kehidupan yang pernah terjadi di dalamnya.
Itulah sebabnya kadang-kadang kita datang kembali setelah bertahun-tahun dan merasa sedikit kecewa.
“Dulu rasanya besar sekali.”
Padahal mungkin sejak awal memang tidak sebesar itu.
Yang besar adalah masa yang kita jalani di sana.
Dulu, satu sore terasa panjang.
Menunggu teman datang terasa lama.
Menunggu azan Magrib terasa seperti menunggu sebuah batas antara dunia bermain dan dunia pulang.
Sekarang, satu minggu bisa berlalu tanpa terasa.
Kita bangun, bekerja, pulang, membuka telepon, tidur, lalu mengulanginya lagi.
Mungkin bukan waktu yang bergerak lebih cepat.
Mungkin hidup kita yang sekarang terlalu penuh untuk memberi waktu kesempatan terasa panjang.
Ketika kecil, kita hadir sepenuhnya di sebuah tempat.
Ketika duduk di teras, ya duduk di teras.
Ketika bermain, ya bermain.
Ketika menunggu seseorang, ya menunggu.
Sekarang tubuh kita berada di satu tempat, tetapi pikiran sering berada di lima tempat sekaligus.
Barangkali itu sebabnya rumah masa kecil terasa begitu luas.
Di sana kita pernah benar-benar tinggal di dalam waktu.
Ada satu hal lagi yang sering baru kita sadari setelah dewasa.
Rumah masa kecil bukan hanya tempat kita tumbuh.
Ia adalah tempat yang menyimpan orang-orang sebelum mereka berubah.
Ayah masih muda.
Ibu masih kuat.
Kakek dan nenek mungkin masih ada.
Saudara-saudara masih berkumpul.
Teman-teman masih datang tanpa perlu membuat janji.
Belum banyak yang pergi.
Belum banyak yang hilang.
Belum banyak pintu yang tertutup oleh waktu.
Maka ketika kita kembali, sebenarnya kita tidak hanya sedang melihat rumah.
Kita sedang berhadapan dengan versi kehidupan yang sudah tidak mungkin diulang.
Mungkin itulah yang membuat rumah lama terasa begitu besar.
Karena di dalamnya tersimpan terlalu banyak hal yang tidak bisa kita bawa pulang.
Suatu hari, kita mungkin kembali lagi.
Rumah itu mungkin sudah direnovasi.
Pohonnya sudah ditebang.
Halaman sudah dipagar.
Catnya berubah.
Atau bahkan rumah itu sudah tidak ada.
Tetapi anehnya, kita masih bisa tahu persis di mana dulu kita duduk.
Di mana dulu kita bermain.
Di mana seseorang pernah memanggil nama kita.
Di mana kita pernah menunggu seseorang pulang.
Ingatan rupanya tidak membutuhkan bangunan untuk tetap menyimpan sebuah rumah.
Sebab rumah yang paling sulit ditinggalkan bukanlah rumah yang memiliki alamat.
Melainkan rumah yang pernah membuat kita merasa bahwa dunia cukup luas untuk kita, tetapi cukup kecil untuk membuat kita selalu tahu ke mana harus pulang.
Mungkin karena itu rumah masa kecil selalu terasa lebih besar.
Bukan karena dindingnya.
Bukan karena halamannya.
Bukan pula karena kita salah mengingat ukurannya.
Rumah itu terasa besar karena di sanalah hidup kita, dulu, terasa begitu utuh. (*/redaksi)





