Ada wajah yang kita kenang karena kedudukannya. Ada pula wajah yang kita kenang karena kepribadiannya. Tetapi ada wajah yang menarik justru karena ia berada di antara keduanya.
Oleh : Abdul Muis
Siti Saleha, yang dikenal dalam lingkungan keluarganya sebagai Uma Luhu, adalah salah satunya.
Ia adalah adik kandung Sultan Muhammad Tajul Arifin Siradjuddin, Sultan Dompu terakhir. Namun perjalanan hidupnya tidak berhenti pada hubungan darah dengan seorang Sultan.
Ia menjalani kehidupan sebagai seorang istri dan ibu, jauh dari hiruk-pikuk kekuasaan. Dan di sanalah kisah Uma Luhu menjadi menarik.
Uma Luhu tumbuh dalam keluarga yang berada sangat dekat dengan pusat sejarah Dompu. Kakaknya, Muhammad Tajul Arifin Siradjuddin, kelak menjadi Sultan Dompu terakhir.
Namun masa kanak-kanak Uma Luhu berlangsung ketika dunia yang mengelilingi keluarganya sedang berubah.
Kesultanan Dompu menghadapi tekanan zaman. Kekuasaan kolonial, pergantian pemerintahan, pendudukan Jepang, kemudian datangnya Republik Indonesia mengubah hampir seluruh tatanan kehidupan.
Bagi seorang anak perempuan, perubahan-perubahan besar itu mungkin tidak hadir dalam bentuk keputusan politik.
Ia hadir dalam kehidupan sehari-hari. Dalam rumah. Dalam keluarga. Dalam percakapan orang-orang dewasa. Dalam perubahan suasana kota.
Dan dalam kesadaran bahwa dunia yang dikenal orang tuanya perlahan tidak lagi sama.
Uma Luhu dan Pesona Perempuan Dompu Tempo Dulu
Tahun 1947 menjadi salah satu titik penting dalam sejarah keluarga itu. Muhammad Tajul Arifin Siradjuddin diangkat menjadi Sultan Dompu.
Bagi sejarah, itu adalah peristiwa politik. Bagi Uma Luhu, barangkali itu adalah sesuatu yang jauh lebih personal, kakaknya menjadi Sultan.
Di sinilah kita bisa melihat sejarah dari sudut yang berbeda. Buku-buku sejarah biasanya menempatkan Sultan di tengah panggung. Tetapi di luar panggung itu ada keluarga. Ada saudara. Ada ibu. Ada istri. Ada anak-anak.
Ada perempuan-perempuan yang ikut menyaksikan perjalanan seorang Sultan, tetapi namanya tidak selalu masuk ke dalam catatan sejarah. Uma Luhu adalah bagian dari dunia itu.
Yang menarik, Uma Luhu kemudian menikah dengan A. Mansyur. Dan menurut penuturan keluarga, A. Mansyur juga berasal dari keluarga Dompu dan mempunyai hubungan kekerabatan dengan lingkungan Kesultanan. Bahkan ia merupakan saudara kandung dari istri Sultan Muhammad Tajul Arifin Siradjuddin.
Dengan demikian, perkawinan Uma Luhu dan A. Mansyur mempertemukan dua cabang keluarga yang sama-sama mempunyai akar kuat di Dompu.
Tetapi kehidupan mereka bukan cerita tentang istana. Mereka membangun rumah tangga. Dan dari perkawinan itu lahir 12 orang anak. Di sinilah sosok Uma Luhu terasa semakin manusiawi.
Seorang perempuan yang memiliki hubungan darah dengan Sultan, tetapi dalam kehidupan sehari-hari menjalankan peran yang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat: menjadi istri dan ibu.
Membesarkan 12 anak tentu bukan perkara kecil. Apalagi jika kita membayangkan kehidupan keluarga pada masa itu. Belum ada kemudahan teknologi seperti sekarang. Belum ada komunikasi secepat hari ini. Kehidupan rumah tangga masih sangat bergantung pada tenaga, kesabaran dan kebersamaan.
Seorang ibu dengan 12 anak tentu memiliki dunianya sendiri.
Rumah yang ramai.
Suara anak-anak.
Kesibukan sehari-hari.
Kegembiraan.
Perselisihan kecil.
Kecemasan.
Dan berbagai kenangan yang kelak justru menjadi bagian paling berharga ketika orang tua telah tiada.
Mungkin bagi anak-anak Uma Luhu, sejarah Kesultanan Dompu bukan pertama-tama tentang Sultan. Sejarah itu adalah ibunya sendiri.
Ada ironi dalam kehidupan Uma Luhu. Ia lahir dari keluarga kesultanan. Kakaknya menjadi Sultan terakhir. Tetapi ia juga menyaksikan dunia kesultanan itu perlahan berakhir.
Setelah Indonesia merdeka, struktur pemerintahan berubah. Kesultanan tidak lagi menjadi pusat kekuasaan seperti sebelumnya. Dompu memasuki zaman baru.
Bagi banyak orang, perubahan itu mungkin dibicarakan sebagai sejarah politik.Tetapi bagi keluarga-keluarga yang hidup di dalamnya, perubahan itu berarti sesuatu yang jauh lebih sederhana.
Kehidupan harus terus berjalan, orang tetap menikah, anak-anak tetap lahir, rumah tetap harus diurus, keluarga tetap harus dibesarkan.
Dan perempuan seperti Uma Luhu menjalani semua itu tanpa harus berada di panggung sejarah.
Mungkin Inilah Makna “Perempuan Kesultanan”
Ketika kita menyebut perempuan kesultanan, pikiran kita sering langsung membayangkan pakaian kebesaran, istana, perhiasan dan kehidupan yang penuh kemewahan.
Tetapi Uma Luhu menunjukkan gambaran yang berbeda.
Perempuan kesultanan tidak selalu hidup dalam kemewahan istana.
Ada yang menjalani kehidupan sederhana.
Ada yang menjadi istri.
Ada yang menjadi ibu.
Ada yang menghabiskan hari-harinya di rumah.
Ada yang tidak pernah namanya ditulis dalam buku sejarah.
Namun mereka tetap membawa ingatan tentang sebuah keluarga dan sebuah zaman.
Dalam diri mereka, sejarah tidak berhenti.
Ia berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Uma Luhu wafat pada 1990, dalam usia 65 tahun. Ketika ia meninggal, Kesultanan Dompu sebagai sistem pemerintahan sudah menjadi bagian dari sejarah.
Tetapi darah, hubungan keluarga dan ingatan tentang kesultanan tetap hidup melalui keturunannya. Dan hari ini, yang tersisa antara lain adalah cerita keluarga dan sebuah foto.
Foto itulah yang membuat kita kembali berhenti. Kita melihat seorang perempuan yang telah pergi lebih dari tiga puluh tahun. Tetapi wajahnya masih ada. Senyumnya masih ada.
Dan melalui wajah itu, kita dapat membayangkan sebuah generasi perempuan Dompu yang hidup dalam masa peralihan yang luar biasa.
Mungkin kita terlalu sering memandang sejarah dari atas.
Dari Sultan.
Dari raja.
Dari pejabat.
Dari perang dan keputusan politik. Padahal sejarah juga hidup di bawahnya. Di rumah-rumah. Di dapur. Di halaman tempat anak-anak bermain. Di meja makan keluarga.
Dan dalam ingatan seorang ibu. Uma Luhu mengingatkan kita bahwa sebuah kesultanan bukan hanya tentang siapa yang duduk di singgasana.
Ada keluarga yang hidup di belakangnya. Ada perempuan yang ikut menyaksikan pergantian zaman. Ada anak-anak yang meneruskan cerita. Dan ada foto-foto tua yang suatu hari kembali membuka pintu masa lalu.
Uma Luhu, mungkin kita tidak akan pernah mengetahui seluruh detail kehidupannya. Tetapi kita mengetahui cukup banyak untuk memahami bahwa ia adalah bagian penting dari sebuah generasi.
Adik Sultan Dompu terakhir.
Istri A. Mansyur.
Ibu dari 12 anak.
Perempuan yang hidup melewati masa kesultanan menuju Indonesia modern. Dan ketika semua gelar itu kita lepaskan, yang tersisa adalah sosok paling sederhana:
seorang perempuan Dompu bernama Siti Saleha.
Keluarganya memanggilnya Uma Luhu.
Ia telah lama pergi.
Tetapi sebuah foto membuatnya tetap tinggal.
Bukan di istana.
Melainkan di dalam ingatan. (*/habis)







