Kenapa Kita Masih Mengingat Seseorang yang Sudah Lama Tidak Kita Cintai?

Ada orang yang sudah tidak kita tunggu, tidak kita cari, bahkan tidak ingin kita temui lagi—tetapi entah mengapa, namanya tetap tinggal di suatu sudut ingatan.

Ada kalanya seseorang tiba-tiba muncul di kepala kita. Bukan karena baru bertemu. Bukan karena sedang mencarinya. Bahkan mungkin sudah bertahun-tahun tidak pernah berhubungan.

Tiba-tiba saja wajahnya muncul. Kadang hanya karena mendengar sebuah lagu. Atau melewati jalan tertentu. Melihat sebuah tempat. Mencium aroma yang entah bagaimana mengingatkan pada masa lalu. Lalu kita bertanya sendiri, “Kok saya masih ingat dia?”

Pertanyaan itu menjadi lebih aneh ketika kita tahu bahwa kita sebenarnya sudah tidak mencintainya lagi. Tidak ada keinginan untuk kembali.

Tidak ada rencana untuk menghubungi. Tidak ada lagi rasa sakit seperti dulu. Hidup sudah berjalan ke mana-mana. Tetapi ingatan tentang seseorang ternyata tidak selalu ikut berjalan pergi.

Barangkali kita selama ini salah memahami arti melupakan. Kita sering menganggap bahwa melupakan berarti tidak lagi mengingat.

Padahal keduanya berbeda. Kita bisa mengingat seseorang tanpa merindukannya. Kita bisa mengingat sebuah masa tanpa ingin kembali ke sana. Kita bahkan bisa tersenyum ketika mengingat seseorang yang dulu pernah membuat kita menangis.

Sebab yang hilang sebenarnya bukan memorinya. Yang hilang adalah keinginan untuk memiliki kembali apa yang pernah terjadi. Itulah mungkin tanda paling sederhana bahwa kita sudah selesai.

Dulu ketika mengingatnya, dada terasa sesak. Sekarang mungkin hanya berkata dalam hati. “Ah, pernah ada masa seperti itu.” Lalu hidup berjalan lagi.

Menariknya, otak manusia memang tidak menyimpan semua pengalaman dengan cara yang sama. Peristiwa yang memiliki emosi kuat cenderung meninggalkan jejak yang lebih dalam.

Itulah sebabnya kita bisa lupa apa yang kita makan tiga hari lalu, tetapi masih ingat percakapan dengan seseorang belasan tahun yang lalu.

Kita bisa lupa tanggal sebuah kejadian, tetapi masih ingat tempat kita berdiri ketika mendengar sebuah kalimat.

Kita mungkin tidak ingat persis apa yang terjadi pada sebuah sore, tetapi masih ingat warna langitnya.

Ingatan tidak selalu bekerja seperti arsip. Kadang ia lebih mirip kotak berisi benda-benda lama. Tidak kita buka setiap hari. Tetapi ketika sesuatu memicunya, kotak itu terbuka sendiri.

Kenapa Rumah Masa Kecil Terasa Lebih Besar daripada Sekarang?

Dan seseorang yang sudah bertahun-tahun tidak kita pikirkan bisa tiba-tiba muncul dari sana. Bukan untuk mengajak kita kembali. Hanya untuk mengingatkan bahwa pernah ada bagian dari hidup kita yang bernama dia.

Ada yang lebih menarik lagi. Kadang-kadang yang kita rindukan sebenarnya bukan orangnya. Kita merindukan diri kita sendiri ketika masih bersamanya.

Versi diri yang dulu lebih muda. Lebih berani. Lebih polos. Lebih mudah tertawa. Lebih percaya bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Mungkin karena itu ketika mengingat seseorang dari masa lalu, yang datang sebenarnya bukan hanya wajahnya. Ikut datang sebuah versi diri kita yang sudah lama tidak pernah kita temui. Dan tanpa sadar kita berpikir: “Dulu saya seperti itu, ya?”

Maka nostalgia tentang seseorang kadang bukan tentang cinta. Ia adalah perjalanan singkat untuk melihat kembali siapa diri kita sebelum hidup mengubah kita.

Karena itu, jangan terlalu takut ketika seseorang dari masa lalu tiba-tiba muncul dalam ingatan. Itu tidak selalu berarti kita masih mencintainya. Tidak berarti kita harus kembali.

Tidak berarti kehidupan kita sekarang kurang bahagia. Ingatan bukan perintah. Ia hanya ingatan. Ia datang, lalu pergi lagi.

Seperti seseorang yang kebetulan lewat di depan rumah kita setelah bertahun-tahun. Kita mengenal wajahnya. Kita mungkin masih hafal namanya. Tetapi kita tidak lagi merasa perlu membuka pintu.

Mungkin begitulah kedewasaan bekerja. Dulu kita ingin melupakan seseorang karena mengingatnya terasa menyakitkan. Kemudian waktu berjalan.

Kita sembuh. Dan suatu hari kita bisa mengingatnya tanpa merasa harus melakukan apa-apa. Tidak perlu membenci. Tidak perlu mencari. Tidak perlu kembali.

Cukup mengakui bahwa pernah ada seseorang yang begitu penting dalam satu bagian hidup kita. Lalu membiarkannya tetap berada di sana.

Di masa lalu.

Bukan karena kita masih menginginkannya. Tetapi karena tidak semua yang pernah berarti harus terus menjadi milik kita.

Mungkin melupakan seseorang bukanlah ketika namanya benar-benar hilang dari ingatan. Mungkin melupakan adalah ketika kita masih bisa mengingatnya—tetapi ingatan itu sudah tidak lagi meminta apa-apa. (*/redaksi)