Oleh : Abdul Muis
Sejarah Dompu mencatat Sultan Muhammad Tajul Arifin Siradjuddin sebagai Sultan Dompu terakhir.
Namanya melekat dalam perjalanan panjang Kesultanan Dompu, terutama pada masa ketika kesultanan kembali berdiri setelah perubahan besar yang terjadi pada zaman pendudukan Jepang dan setelah Indonesia merdeka.
Tetapi sejarah sering kali berhenti pada nama besar.
Ia mencatat Sultan, jabatan, keputusan pemerintahan, dan perubahan zaman. Tidak selalu ia mencatat apa yang terjadi di dalam sebuah rumah ketika seorang Sultan meninggal dunia.
Di sanalah kisah St. Hadijah, istri Sultan Muhammad Tajul Arifin Siradjuddin, menjadi penting untuk dikenang.
Uma Luhu dan Pesona Perempuan Dompu Tempo Dulu
Ketika Sultan Pergi
Sultan Muhammad Tajul Arifin Siradjuddin wafat pada 12 September 1964.
Saat itu St. Hadijah masih sekitar 41 tahun.
Usia yang sebenarnya masih memungkinkan seseorang memulai babak kehidupan yang baru. Tetapi di hadapannya ada tanggung jawab yang jauh lebih besar.
Ada tujuh anak yang masih kecil.
Mereka masih membutuhkan ibu. Masih membutuhkan perhatian, pendidikan, dan arah hidup.
Sang ayah yang selama ini menjadi kepala keluarga telah pergi.
Dan St. Hadijah harus melanjutkan kehidupan bersama anak-anaknya.
Tidak ada catatan besar tentang bagaimana hari-hari pertama setelah kepergian suaminya itu dilalui. Tidak ada berita yang menceritakan kesedihan seorang istri Sultan ketika kehilangan suaminya.
Namun kehidupan tetap harus berjalan. Anak-anak tetap harus makan. Mereka tetap harus sekolah. Dan seorang ibu tetap harus memikirkan masa depan mereka.
St. Hadijah tidak menjadikan kehidupannya setelah itu sebagai kisah tentang dirinya sendiri. Ia memilih anak-anaknya.
Ia menjalani peran yang mungkin jauh lebih berat: menjadi ibu bagi tujuh anak yang masih membutuhkan dirinya.
Yang dikejar bukan lagi kedudukan. Bukan pula kemegahan masa lalu. Tetapi sesuatu yang jauh lebih sederhana sekaligus jauh lebih penting, agar anak-anaknya bisa tumbuh seperti anak-anak lainnya.
Mereka harus mendapatkan pendidikan. Mereka harus memiliki kesempatan untuk menentukan masa depan. Dan kalau memungkinkan, mereka harus bisa melanjutkan pendidikan hingga perguruan tinggi dan semua menjadi sarjana.
Di situlah barangkali letak perjuangan terbesar St. Hadijah.
Ia tidak sedang mempertahankan sebuah kesultanan.
Ia sedang mempertahankan masa depan tujuh anaknya.
Kita sering memahami warisan keluarga kerajaan atau kesultanan dalam bentuk benda-benda sejarah: rumah, pusaka, dokumen, gelar, atau cerita tentang masa lalu.
Tetapi St. Hadijah meninggalkan warisan dalam bentuk yang berbeda.
Anak-anak yang ia besarkan.
Salah seorang putrinya, Hj. Uni Wataniah, kemudian menjadi istri Drs. H. Umar Yusuf, yang pernah menjabat Bupati Dompu periode 1989–1994.
Putranya, H Kahrul Zaman, kemudian berkarier sebagai pejabat di lingkungan Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat.
Sementara H Syaiful Islam menempuh jalan politik dan pernah menjadi anggota DPRD Provinsi NTB.
Tentu, perjalanan hidup setiap anak tidak semata-mata dapat diletakkan di pundak seorang ibu. Ada banyak orang, keadaan, dan pengalaman yang ikut membentuk mereka.
Namun ada satu hal yang sulit dipisahkan, di belakang perjalanan pendidikan dan kehidupan mereka, ada seorang ibu yang bertahun-tahun menjaga agar mereka tetap memiliki kesempatan untuk tumbuh.
Uma Luhu, Perempuan di Balik Senja Kesultanan Dompu
Ada satu hal yang penting dari kisah St. Hadijah. Ia tidak perlu menjadi “pengganti” ayah bagi anak-anaknya.
Seorang ibu tidak harus menjadi dua orang sekaligus. Ia cukup menjadi ibu. Dan menjalankan peran itu dengan penuh tanggung jawab sudah merupakan perjuangan yang luar biasa.
St. Hadijah tidak mengambil tempat Sultan Muhammad Tajul Arifin Siradjuddin. Tempat seorang ayah tidak perlu digantikan.
Ia hanya melanjutkan apa yang harus dilanjutkan setelah suaminya tidak lagi ada: membesarkan anak-anak mereka.
Dan ia melakukannya dalam waktu yang panjang. Dari Rumah Itu, Anak-anak Melangkah. Ada sesuatu yang menarik dari perjalanan keluarga ini.
Sultan Muhammad Tajul Arifin Siradjuddin dikenang dalam sejarah karena kedudukannya sebagai Sultan Dompu terakhir.
Tetapi bagi tujuh anaknya, mungkin kenangan yang paling kuat bukanlah tentang seorang Sultan.
Ia adalah tentang ayah.
Sementara bagi keluarga yang mengenang perjalanan itu dari generasi ke generasi, ada sosok lain yang layak ditempatkan dalam cerita:
St. Hadijah.
Seorang perempuan yang kehilangan suaminya ketika usianya masih relatif muda, tetapi kemudian memilih mengabdikan kehidupannya untuk anak-anak.
Ia tidak mempunyai panggung politik.
Tidak memiliki jabatan pemerintahan.
Tidak tercatat sebagai pemimpin sebuah lembaga.
Namun dari rumahnya, tujuh anak tumbuh dan menempuh jalan kehidupan masing-masing.
Dan pendidikan menjadi salah satu jalan yang ia buka untuk mereka.
Dade, Begitulah Anak-anak Memanggilnya
Bagi masyarakat, ia dikenal sebagai St. Hadijah, istri Sultan Muhammad Tajul Arifin Siradjuddin.
Tetapi bagi tujuh anaknya, ia adalah Dade.
Panggilan yang sederhana itu mungkin justru paling dekat dengan sosoknya.
Di rumah, ia bukan istri Sultan.
Bukan pula bagian dari cerita besar tentang Kesultanan Dompu.
Ia adalah seorang ibu.
Tempat anak-anaknya tumbuh.
Tempat mereka mengenal kehidupan setelah kehilangan ayah.
Dan tempat mereka menemukan keteguhan untuk melangkah.
Dade wafat pada 5 September 2005.
Lebih dari empat puluh tahun setelah suaminya pergi.
Selama puluhan tahun itu, ia menjalani kehidupan yang berbeda dari ketika Sultan masih berada di sisinya.
September dan Dua Kehilangan
Ada sesuatu yang terasa begitu kuat setiap kali September datang.
Sultan Muhammad Tajul Arifin Siradjuddin wafat pada 12 September 1964.
Diumur empat puluh satu tahun , pada 5 September 2005, St. Hadijah atau Dade menyusul berpulang.
Dua tanggal.
Dua kepergian.
Dan di antara keduanya terbentang lebih dari empat dekade perjalanan sebuah keluarga.
Besok, Sabtu, 12 September, keluarga Sultan kembali berkumpul untuk menggelar doa arwah bagi Sultan Muhammad Tajul Arifin Siradjuddin, mengenang kepergian beliau pada tanggal yang sama, 62 tahun silam.
Bagi orang lain, mungkin itu hanya sebuah tanggal dalam kalender.
Tetapi bagi keluarga, September menyimpan kenangan yang panjang.
Ada tanggal ketika seorang Sultan pergi.
Ada tanggal ketika seorang ibu yang selama puluhan tahun menjaga anak-anaknya juga pergi.
Dan di antara dua tanggal itu ada sebuah kehidupan panjang seorang perempuan bernama St. Hadijah—Dade.
Sultan Meninggalkan Sejarah, Dade Meninggalkan Generasi
Mungkin inilah bagian yang sering luput dari sejarah.
Seorang laki-laki dapat dikenang karena gelarnya.
Seorang pemimpin dapat dikenang karena jabatannya.
Tetapi seorang ibu sering kali meninggalkan sesuatu yang jauh lebih panjang daripada sebuah jabatan:
generasi.
Sultan Muhammad Tajul Arifin Siradjuddin memang tercatat sebagai Sultan Dompu terakhir.
Tetapi setelah sang Sultan wafat, masih ada sebuah perjuangan yang berlangsung di dalam rumahnya.
Perjuangan itu tidak menggunakan mahkota.
Tidak menggunakan singgasana.
Tidak pula menggunakan kekuasaan.
Ia menggunakan kesabaran, keteguhan, dan waktu.
Dan nama perjuangan itu adalah seorang ibu yang membesarkan tujuh anaknya.
St. Hadijah.
Dade.
Barangkali itulah cara lain untuk membaca sejarah Kesultanan Dompu.
Bukan hanya dari siapa yang duduk di singgasana, tetapi juga dari siapa yang menjaga keluarga ketika singgasana itu tidak lagi ada.
Sultan meninggalkan sejarah.
Dade meninggalkan generasi.
Dan setiap September datang, keduanya kembali dikenang—bukan hanya dalam cerita, tetapi juga dalam doa. (Sumber dikutip dari cerita H Syaiful Islam)






