Oleh : Abdul Muis
Ada masa dalam hidup saya ketika pergi ke mana pun rasanya belum lengkap kalau tidak membawa kamera. Bukan satu kamera. Tapi tiga sekaligus.
Saya membawa tas panggul besar di punggung. Isinya berbagai perlengkapan fotografi yang waktu itu terasa wajib dibawa. Ada Nikon D70S, Nikon D300, dan Nikon D700, lengkap dengan berbagai lensa, mulai dari lensa sudut lebar sampai lensa panjang.
Kalau sekarang dipikir-pikir, mungkin orang akan bertanya, buat apa membawa tiga kamera sekaligus?
Jawabannya sederhana: karena saya memang sedang menikmati dunia fotografi.
Fotografi waktu itu bukan sekadar kegiatan memotret. Ada kesenangan tersendiri ketika menemukan sebuah pemandangan, wajah seseorang, cahaya yang bagus, atau sebuah peristiwa yang menarik, lalu mencoba mengabadikannya dalam sebuah frame.
Kamera seperti menjadi teman perjalanan. Ke mana pergi, tas kamera ikut. Melihat sesuatu yang menarik, kamera dikeluarkan. Dan kalau hasilnya bagus, ada kepuasan yang sulit dijelaskan.
Dari tiga kamera yang saya bawa, salah satunya punya cerita tersendiri. Nikon D70S saya oprek menjadi kamera infrared atau IR.
Saya memang senang mencoba sesuatu yang berbeda. Kamera yang sudah dimodifikasi itu memberikan karakter gambar yang tidak sama dengan kamera biasa. Dunia yang terlihat melalui kamera IR terasa seperti dunia lain.
Sementara Nikon D300 dan Nikon D700 menjadi dua kamera yang saya gunakan untuk kebutuhan pemotretan lainnya.
Berbagai lensa juga saya bawa. Ada lensa lebar ketika ingin mendapatkan ruang yang luas dalam satu frame, dan ada lensa panjang ketika objek berada jauh.
Akibatnya, tas kamera saya cukup besar dan berat. Tetapi saat itu saya tidak terlalu memikirkannya. Mungkin karena ketika masih muda, membawa beban beberapa kilogram di punggung terasa biasa saja. Yang ada di pikiran justru satu hal. Jangan sampai ada momen menarik tetapi tidak membawa kamera.
Kalau melihat kembali masa itu, sebenarnya saya bukan orang yang sekadar ingin memiliki banyak kamera. Saya lebih menikmati proses memotret.
Ada sesuatu yang menarik dari menunggu cahaya yang tepat. Memilih sudut. Mengganti lensa. Mengatur komposisi. Kemudian menekan tombol shutter pada saat yang dirasakan tepat.
Kadang berhasil.
Kadang juga tidak.
Tetapi justru dari situlah kesenangannya.
Fotografi mengajarkan saya bahwa sebuah kejadian yang sama bisa terlihat sangat berbeda hanya karena kita mengubah posisi dan sudut pandang.
Dan mungkin tanpa saya sadari, fotografi juga mengajarkan satu hal penting dalam kehidupan, untuk melihat sesuatu tidak selalu harus dari tempat yang sama.
Hobi itu ternyata membawa saya pada pengalaman yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Sekitar 2015 sampai 2017, ketika saya masih cukup aktif dengan fotografi, saya pernah diminta membantu Pemerintah Daerah Kabupaten Dompu untuk mendokumentasikan sebuah tarian kolosal yang melibatkan warga Dompu dalam rangka Hari Ulang Tahun Dompu.
Kali ini tantangannya berbeda. Saya tidak berada di tengah-tengah kerumunan. Saya justru harus melihat semuanya dari atas.
Pengambilan gambar dilakukan dari udara menggunakan helikopter tambang milik PT STM. Bagi seorang yang memang menyukai fotografi, kesempatan seperti itu tentu menjadi pengalaman yang sangat berkesan.
Dari atas helikopter, pemandangan yang biasanya kita lihat dari bawah berubah sama sekali.
Manusia yang jumlahnya begitu banyak dapat terlihat sebagai sebuah pola. Gerakan mereka menjadi bagian dari komposisi. Lapangan yang biasanya hanya terlihat sebagai tempat berkumpul berubah menjadi sebuah bidang gambar yang luas.
Di situlah saya merasakan bahwa fotografi memang bukan hanya soal kamera.
Fotografi juga soal sudut pandang.
Kadang kita harus naik lebih tinggi untuk melihat sebuah cerita secara utuh.
Saya tidak pernah membayangkan bahwa hobi yang awalnya saya jalani karena senang memotret akhirnya membawa saya pada pengalaman seperti itu.
Dari membawa tas kamera ke berbagai tempat, mencoba kamera infrared, berganti-ganti lensa, sampai akhirnya berada di atas helikopter untuk mengabadikan warga Dompu dalam sebuah peristiwa besar.
Bagi saya, itu bukan semata-mata soal mendapatkan foto yang bagus.
Ada rasa bangga ketika bisa ikut mengambil bagian dalam mendokumentasikan sebuah peristiwa daerah.
Karena sebuah foto mungkin hanya membutuhkan waktu sepersekian detik untuk dibuat.
Tetapi foto itu bisa bertahan jauh lebih lama daripada peristiwa yang direkamnya.
Hari ini, ketika melihat kembali foto-foto dari masa itu, perasaan saya tentu berbeda. Dulu saya melihat sebuah foto dan berpikir:
Bagus atau tidak hasilnya?
Sekarang saya lebih sering berpikir:
Kapan foto ini dibuat? Di mana? Dengan siapa? Apa yang sedang terjadi waktu itu?
Foto lama ternyata mempunyai kekuatan yang aneh.
Ia bisa membuka kembali pintu yang sudah lama tertutup.
Kita bisa melihat tempat yang mungkin sudah berubah. Bertemu kembali dengan wajah-wajah yang dulu begitu akrab. Dan yang paling terasa, kita bisa melihat diri sendiri ketika masih jauh lebih muda.
Foto yang saya lihat sekarang bukan lagi sekadar hasil jepretan.
Ia adalah potongan waktu.
Kalau dipikir-pikir sekarang, mungkin dulu saya merasa sedang membawa tiga kamera untuk mencari gambar.
Ternyata tidak.
Saya sedang menyimpan kehidupan.
Setiap kali shutter ditekan, ada satu detik yang tidak akan pernah kembali.
Ada cahaya yang hanya muncul sekali.
Ada wajah yang mungkin tidak akan pernah sama.
Ada tempat yang suatu hari berubah.
Dan ada diri kita sendiri yang perlahan-lahan juga berubah bersama waktu.
Dulu, tas besar di punggung saya terasa berat karena berisi tiga kamera, berbagai lensa, dan perlengkapan fotografi.
Sekarang, ketika melihat kembali semuanya, saya justru merasa kenanganlah yang paling berat untuk dibawa.
Sebab kamera bisa disimpan.
Lensa bisa dilepas.
Foto bisa dipindahkan ke komputer.
Tetapi waktu tidak pernah bisa dikembalikan.
Mungkin itulah sebabnya sampai hari ini saya masih menyukai fotografi.
Saya tidak hanya pernah memotret banyak hal. Saya pernah menyimpan sebagian masa muda saya dalam foto. (*)






