Ada foto lama yang terasa berbeda dari foto-foto lainnya. Bukan karena kemewahan pakaian atau latar tempatnya. Justru karena kesederhanaannya. Wajah yang terekam di dalamnya seperti membawa kita berjalan mundur, ke sebuah masa ketika kehidupan belum seramai hari ini.
Perempuan dalam foto itu bernama Siti Saleha.
Di lingkungan keluarganya, ia dikenal sebagai Uma Luhu.
Lihatlah wajahnya.
Tenang. Sederhana. Senyumnya tipis, tetapi hangat. Kacamata yang dikenakannya justru menambah karakter pada wajahnya. Tidak tampak upaya untuk tampil berlebihan di hadapan kamera.
Namun ada sesuatu yang membuat kita berhenti lebih lama untuk melihat.
Ia cantik. Dan kecantikannya terasa begitu bersahaja.
Kecantikan yang Tidak Banyak Bicara
Mungkin perempuan tempo dulu mempunyai cara sendiri dalam menghadirkan kecantikan.
Mereka tidak membutuhkan banyak hiasan untuk terlihat anggun.
Tidak harus mengenakan pakaian yang mewah. Tidak perlu riasan berlebihan. Bahkan sebuah senyum sederhana sudah cukup untuk membuat sebuah foto dikenang puluhan tahun kemudian.
Begitu pula Uma Luhu.
Dari sebuah foto lama, kita tidak melihat seorang perempuan yang sedang berusaha menunjukkan bahwa dirinya berasal dari keluarga istana.
Yang kita lihat hanyalah seorang perempuan.
Sederhana.
Tenang.
Dan menawan.
Mungkin justru karena itulah foto ini terasa dekat.
Ada Zaman di Balik Wajah Itu
Uma Luhu bukan perempuan biasa dalam catatan keluarganya.
Ia adalah adik kandung Sultan Dompu terakhir, Muhammad Tajul Arifin Siradjuddin.
Tetapi foto ini tidak sedang bercerita tentang kekuasaan.
Tidak ada simbol kerajaan di sana.
Tidak ada singgasana.
Tidak ada mahkota.
Yang tertinggal hanya wajah seorang perempuan dari sebuah generasi yang kini semakin jauh dari kehidupan kita.
Ia lahir sekitar seperempat abad sebelum Indonesia merdeka dan menjalani hidup di tengah perubahan besar Dompu.
Namun mungkin bagi keluarganya, semua itu bukanlah perkara sejarah.
Ia adalah Uma Luhu.
Seorang perempuan yang menjalani kehidupan sebagaimana perempuan lainnya: berkeluarga, membesarkan anak dan menemani perjalanan zaman.
Uma Luhu, Perempuan di Balik Senja Kesultanan Dompu
Ketika Foto Belum Menjadi Kebiasaan
Ada hal lain yang membuat foto-foto lama terasa istimewa.
Dulu, berfoto bukan kegiatan yang dilakukan setiap hari.
Sebuah kamera adalah sesuatu yang istimewa. Ketika seseorang berdiri di depannya, ada kesadaran bahwa momen itu mungkin akan menjadi kenangan yang disimpan lama.
Tidak ada puluhan foto untuk memilih mana yang paling bagus.
Tidak ada penyuntingan wajah.
Tidak ada keharusan terlihat sempurna.
Karena itu, foto lama sering menyimpan sesuatu yang sangat manusiawi:
wajah sebagaimana adanya.
Dan mungkin itu pula yang membuat foto Uma Luhu begitu menarik.
Kita tidak hanya melihat kecantikannya.
Kita seperti sedang melihat sepotong kehidupan yang telah lewat.
Pesona yang Tidak Hilang Bersama Waktu
Uma Luhu telah lama pergi.
Ia wafat pada 1990, dalam usia 65 tahun.
Tetapi sebuah foto membuat waktu seolah berhenti.
Perempuan yang telah puluhan tahun meninggalkan dunia itu masih bisa tersenyum kepada kita dari selembar gambar.
Dan kita pun kembali bertanya:
Seperti apa kehidupan perempuan Dompu tempo dulu?
Bagaimana mereka berpakaian?
Bagaimana mereka membesarkan anak?
Bagaimana mereka menjalani rumah tangga?
Bagaimana rasanya hidup ketika dunia kesultanan perlahan berubah menjadi sejarah?
Pertanyaan-pertanyaan itu mungkin tidak semuanya memiliki jawaban.
Tetapi sebuah foto kadang tidak membutuhkan banyak jawaban.
Ia cukup membuat kita mengingat.
Perempuan yang Mengajarkan Kesederhanaan
Mungkin itulah alasan kita tertarik kepada foto Uma Luhu.
Bukan semata-mata karena ia berasal dari keluarga Sultan.
Bukan pula karena ia pernah berada di lingkungan Kesultanan Dompu.
Tetapi karena di tengah zaman yang semakin gemar menampilkan segala sesuatu secara berlebihan, wajah Uma Luhu mengingatkan kita bahwa keanggunan tidak selalu membutuhkan kemewahan.
Ada kecantikan yang lahir dari kesederhanaan.
Ada pesona yang muncul dari ketenangan.
Dan ada wajah-wajah yang justru semakin indah ketika waktu telah berlalu jauh.
Uma Luhu adalah salah satunya.
Foto ini mungkin hanya menyimpan satu wajah.
Tetapi di balik wajah itu tersimpan sebuah zaman.
Zaman ketika perempuan Dompu tampil sederhana, tetapi memiliki pesona yang sulit dilupakan.
Dan mungkin, itulah yang membuat kita masih ingin memandang foto lama ini sekali lagi. (Abdul Muis/bersambung)







