Ditemukan Makam Sultan Dompu Pertama

0

DOMPU—Makam Sultan Dompu yang pertama Sultan Syamsuddin yang berjaya ditahun 1545 silam lalu ditemukan dipuncak bukit Dorompana Kelurahan Kandai I Dompu. Posisinya dipinggiran utara kota Dompu, untuk mencapai makam harus melakukan pendakian dengan ketinggian antara 30-50 meter, dari atas bukti itu dapat disaksikan potret kota Dompu serta hamparan alam yang indah.

 

Rabu 12/9 keturunan Sultan Dompu yang terakhir, Sultan Tajul Arifin meresmikan makam dimaksud. Diantara keturunan dan anak dari Sultan Tajul Arifin yang hadir adalah Drs Syaiful Islam, Kaharul Zaman SH dan beberapa cucunya. Ada juga Drs Sayuti Melik, Drs Syafrin AM. Sedangkan dari pemerintah hadir Kadis Pariwisata Kabupaten Dompu Ir Syarifuddin, Wakil Ketua DPRD Dompu Iwan Kurniawan SE serta tokoh masyarakat dan puluhan warga setempat.

Peresmian ditandai doa bersama yang dipimpin oleh Budi S dan Mbah Encang dari Tarekat Qadariyah Semarang. Merekalah pihak yang intens menelurusi dan menemukan kuburan Sultan sesuai dengan petunjuk yang mereka miliki.

Syaiful Islam dan Kaharul Zaman dalam sambutanya menyatakan terima kasih atas ditemukan dan diresmikan makam leluhur mereka, selain menjadi menjadi Sultan yang pertama dan raja Dompu yang ke IX Sultan Syamsuddin adalah raja pertama yang membawa syiar Islam di Bumi Nggahi Rawi Pahu.

Karena itu Sultan ini bergelar Sultan Mawa’a Bata dengan memperkenalkan masyarakatnya tentang Islam. Syaiful Islam tidak ingin makam leluhurnya dikultuskan, tetapi paling tidak masyarakat Dompu dapat menggali kembali sejarah panjang perdabapan negeri Dompu. Dia meyakini pada jamanya Dompu pernah berjaya dan dikenal di Nusantara, tidak heran kerajaan Majapahit menyebut kerajaan Dompu (Dompu,red) adalah salah satu kerajaan yang harus dikuasai.

Syaiful Islam menitip pesan pada pemerintah daerah agar dapat memperhatikan makam tersebut, sehingga menjadi asset yang berharga bagi masa depan. Mantan anggota DPRD Propinsi NTB menegaskan memperhatikan makam Sultan adalah salah satu cara dalam menghargai sejarah dan budaya, dengan demikian menghargai sejarah dan budaya akan mendorong percepatan kemajuan disuatu daerah.

Sementara Kadis Pariwisata Dompu Ir Syarifuddin berjanji akan memperhatikan makam dimaksud. Dia juga berharap agar makam itu menjadi asset yang dimiliki daerah dan menjadi salah satu potensi obyek wisata budaya yang akan dikunjungi. Wakil ketua DPRD Dompu Iwan Kurniawan SE sangat mengapresiasi atas temuan makam Sultan Dompu yang pertama. Karenanya pemerintah daerah harus dapat memelihara makam itu untuk dijadikan asset yang berharga dan menjadi kebanggaan peradaban Dompu dimasa lampau.

Sebagaimana diketahui Sultan Dompu yang pertama Sultan Syamsuddin menjadi kebanggaan keturunan dan masyarakat di Bumi Nggahi Rawi Pahu. Karena itu pada saat penetapan hari jadi Dompu diera kepempinan Bupati H Abubakar Ahmad SH terjadi perdebatan yang panjang, umumnya keturunan bangsawan Dompu menginginkan sejarah Dompu dimulai dari 24 september 1545 bertepatan dengan dilantiknya Sultan Syamsuddin sebagai raja yang memerintah.

Tetapi karena kuatnya pertentangan dikalangan tokoh budaya dan masyarakat didaerah maka diambil jalan tengah bertepatan dengan meletusnya gunung Tambora 11 april 1815 sebagai hari kebangkitan Dompu yang baru setelah beberapa kerajaan lenyap ditelan bumi akibat dihantam letusan dahsyad gunung Tambora.

Karena itu tokoh muda dan LSM Akhdiyansyah, Yongki, S.Hi menganggap bahwa penetapan hari jadi Dompu 11 april 1815 adalah kecelakaan sejarah yang perlu diluruskan. Dompu menurut Yongki memiliki peradaban yang sangat lama, karena itu ada kewajiban bagi generasi sekarang untuk meluruskan sejarah dimaksud.

Komentar