Kalau sudah urusan perut, orang kampung bilang, jangan diajak bercanda. Apalagi kalau di meja makan ada ikan bakar, nasi masih ngebul, eh… sambalnya malah tidak ada.
Itulah yang dialami Hamazale.
Orang sekampung memanggilnya Hama.
Pagi itu Hama pulang dari gunung sambil menjinjing tiga ekor ikan nila. Bukan beli. Hasil mancing semalam di Bendungan Mila dekat kebun jagung.
Baru masuk halaman rumah, suaranya sudah terdengar.
“Muna… bakar ikan ini. Lama kita ndak makan enak.”
Dari dapur terdengar jawaban istrinya, Maimunah.
“Iya… taruh saja di situ.”
Hama tersenyum sendiri. Di kepalanya sudah terbayang sambal terasi yang pedasnya bikin keringat bercucuran.
Menjelang zuhur, ikan sudah matang.
Hama mencuci tangan, lalu duduk bersila di lantai.
Nasi ada.
Ikan bakar ada.
Sayur bening ada.
Matanya mencari ke kanan dan kiri.
“Muna… sambalnya mana?”
“Cabainya habis.”
Hama berhenti mengambil nasi.
“Habis? Kemarin saya kasih uang belanja, kan?”
Muna keluar dari dapur sambil menggendong anak bungsunya.
“Uang itu buat beli beras, minyak, bayar utang di warung. Si kecil juga demam, beli obat. Mau beli cabai pakai apa lagi?”
Hama menggaruk kepala.
“Ya… tapi masa makan ikan ndak ada sambal?”
Muna langsung menatap suaminya.
“Kalau sambal lebih penting, kawin saja sama penjual cabai.”
Hama terdiam.
Gara-gara Beda Pilihan Pilkada Suami Istri ini Bertengkar
Kalimat itu terasa lebih pedas daripada cabai rawit.
Belum sempat suasana mencair, Burhan, tetangga sebelah, datang membawa gayung.
“Muna… pinjam air dulu.”
Melihat wajah Hama dan Muna sama-sama kusut, Burhan langsung paham.
“Kenapa lagi?”
Hama menggeleng.
“Ndak apa-apa.”
Muna langsung menyela.
“Katanya hidup susah gara-gara ndak ada sambal.”
Burhan tertawa terbahak-bahak.
“Astaga… ribut gara-gara cabai?”
Hama mulai malu.
“Bukan cabainya… saya capek pulang ladang.”
Muna tidak mau kalah.
“Saya juga capek di rumah. Capek itu bukan monopoli orang ladang.”
Burhan yang tadinya cuma mau pinjam air, malah ikut duduk di berugak.
Tapi bukannya damai.
Yang dibahas bukan lagi sambal.
Mulai dari sandal Hama yang putus belum dibeli.
Atap dapur yang bocor.
Utang pupuk musim tanam kemarin.
Sampai Hama yang tiap malam masih sempat nongkrong di warung kopi.
Jali pelan-pelan berdiri.
Gayung yang tadi dibawa malah tertinggal.
“Bahaya… kalau sudah begini, lebih baik saya pulang.”
Malamnya, kabar itu sudah beredar satu kampung.
Di warung kopi, orang-orang tertawa.
“Katanya Hama kalah sama sambal.”
“Tidur di berugak, katanya.”
“Besok kita patungan beli cabai buat dia.”
Hama memang tidur di berugak malam itu.
Bukan karena diusir.
Dia sendiri yang gengsi masuk rumah.
Angin malam lumayan dingin.
Sekitar pukul sebelas, pintu rumah terbuka.
Muna keluar membawa sepiring nasi.
Di atasnya ada ikan goreng.
Dan… sambal terasi.
Hama langsung duduk.
“Lho… cabainya dari mana?”
“Pinjam sama Bu Nani. Besok kalau ada uang, kita ganti.”
Hama tersenyum kecil.
“Besok saya beli satu kilo sekalian.”
Muna ikut tersenyum.
“Yang saya butuh bukan satu kilo cabai. Yang saya butuh, kalau pulang ladang jangan cuma bawa ikan. Sesekali bawa juga uang belanja.”
Hama tertawa sambil menggaruk kepala.
“Iya… iya… saya kalah.”
Malam itu mereka makan berdua di berugak.
Sambalnya memang pedas.
Tapi tidak lebih pedas daripada pertengkaran siang tadi.
Besok paginya Hama benar-benar pergi ke pasar.
Yang pertama dibelinya bukan rokok.
Bukan kopi.
Melainkan cabai merah.
Pedagang sampai heran.
“Mau bikin hajatan, Hama?”
Hama menggeleng sambil nyengir.
“Bukan. Saya cuma ndak mau tidur di berugak lagi.”
Satu pasar pun ikut tertawa. (Redaksi)
Prahara adalah cerita ringan yang terinspirasi dari kehidupan sehari-hari masyarakat. Nama tokoh dan sebagian peristiwa merupakan karya fiksi. Bila terasa mirip dengan kehidupan di sekitar kita, mungkin memang begitulah warna-warni kehidupan kampung.







